Atasi Menulis Cerpen Saat Pandemi dengan Pentigraf

Oleh : Agung Widyatmoko, S.Pd. SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Tak sedikit guru kesulitan menyampaikan materi pelajaran pada masa pandemi ini, antara lain keterampilan menulis cerita pendek (cerpen ) di kelas V sekolah dasar (SD). Keterampilan menulis cerpen tak hanya sulit saat pandemi, tetapi justru saat pembelajaran tatap muka. Untuk itu, guru harus pandai memilih metode dan media pembelajaran. Pembelajaran menulis cerpen penting bagi siswa SD, karena dapat dijadikan sarana berimajinasi dan menuangkan pikiran. Menulis cerpen merupakan seni atau menyajikan cerita tentang peristiwa pokok sebagai sarana mengasah pikiran dan batin.

Cerpen merupakan karya sastra pendek bersifat fiktif dan mengisahkan suatu permasalahan secara ringkas sejak pengenalan sampai akhir permasalahan yang dialami tokoh. Untuk memudahkan siswa, penulis sebagai guru kelas V SD Negeri 04 Majakerta Watukumpul, Pemalang, dalam mengajar bahasa Indonesia, pada KD “Menulis Cerpen”, penulis menggunakan pentigraf untuk memudahkan siswa mengembangkan cerita. Selain itu, pentigraf dapat meningkatkan minat siswa dalam belajar menulis cerpen.

Pentigraf merupakan singkatan dari cerpen tiga paragraf. Karya sastra jenis baru ini, kali pertama digagas dan dikembangkan oleh sastrawan dan akademikus dari UNESA, Dr. Tengsoe Tjahjono, dia menamakan pentigraf sebab syarat utama terdiri atas tiga paragraf, tidak kurang atau lebih. Struktur pentigraf adalah permulaan, tengah dan penutup. Kisah harus terus bergerak maju lengkap dengan konflik dan resolusi. Paragraf pertama berisi pengenalan tokoh, paragraf kedua, berisi alur termasuk konflik yang dialami tokoh. Paragraf ketiga berisi penyelesaian konflik.

Baca juga:   Role Playing pada Layanan Konseling Kelompok dalam Menyelesaikan Kasus Bullying

Menulis merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa. Tarigan (1986 : 5), menyatakan menulis dapat diartikan sebagai kegitan mengungkapkan ide atau gagasan dengan bahasa tulis, senada dengan Tarigan, Burhan Nugroho (1986 : 273), berpendapat menulis adalah aktivitas aktif produktif, yaitu aktivitas yang menghasilkan bahasa. Adapun menurut Acep Sukirman (1987 : 107) yang disebut paragraf variasi adalah paragraf berisi cerita atau peristiwa. Dengan menulis cerpen, siswa dapat mengungkapkan gagasan tentang suatu peristiwa yang dialami diri/orang lain. Tujuan menulis cerpen untuk memberikan informasi atau gagasan/wawasan cerita dan memperluas pengetahuan dan pengalaman pada pembaca.

Berdasarkan strukturnya, untuk melatih siswa menulis cerpen, penulis sebagai guru SD Negeri 04 Majakerta Watukumpul, Pemalang, dalam mengajar siswa saya menggunakan pentigraf dalam melatih siswa menulis cerpen. Dengan pentigraf, siswa dapat mengembangkan cerita, misalnya, di bagian permulaan, siswa dapat megembangkan dengan mendiskripsikan latar dan karakter tokoh. Di bagian tengah, siswa dapat mengembangkan cerita dengan menampilkan beberapa peristiwa yang menjadi konflik cerita. Siswa dapat menambahkan dialog atau kalimat langsung, sehingga cerita lebih menari. Pada bagian penutup siswa dapat menyelesaikan cerita dengan baik. Pembelajaran penulis awali dengan mengirim satu contoh pentigraf di grup WhatsApp kemudian menjelaskan soal pentigraf melalui media perekam suara. Setelah itu, penulis membimbing siswa untuk menulis cerpen melalui pentigraf.

Baca juga:   Metode Example Non Example Tingkatkan Belajar Sikap Rendah Hati

Melalui pentigraf siswa lebih mudah mengembangkan cerita dengan imajinasi dan pikiran. Pembelajaranpun menjadi lebih menarik, karena terjadi interaksi antara guru dan siswa serta antarsiswa. Jadi tidak membosankan. Dengan demikian berlatih menulis cerpen melalui pentigraf, keterampilan menulis cerpen siswa pun meningkat. (bw2/lis)

Guru Kelas SD Negeri 04 Majakerta,Watukumpul, Kabupaten Pemalang

Author

Populer

Lainnya