Metode Talking Stick Mudahkan Belajar Teks Pidato

Oleh : Mulati, S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID,Mengajar tidak sekadar menyampaikan pengetahuan tanpa menghiraukan rasa antusias siswa yang mana sebagai indikator keberhasilan guru dalam melakukan proses belajar mengajar. Mengajar menimbulkan antusias belajar siswa memiliki pengaruh yang hebat terhadap motivasi dan pemahaman belajar siswa. Namun mewujudkannya bukan perkara mudah.

Dibutuhkan kejelian guru dalam mendesain pembelajaran. Seperti yang dialami penulis pada kelas VI di SD Negeri 03 Pekiringanalit, Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan. Masih ada siswa yang tidak bisa mengikuti pembelajaran karena lemah motivasi dan mudah bosan dalam kelas pembelajaran. Hal ini menjadi perhatian penulis untuk menciptakan kelas pembelajaran yang bisa membuat siswa antusias dalam belajarnya. Penulis menerapkan metode talking stick pada pembelajaran materi teks pidato. Metode ini dipercaya bisa memberi antusias belajar siswa.

Menurut Kurniasih dan Sani (2015:82), model pembelajaran talking stick merupakan satu dari sekian banyak satu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini dilakukan dengan bantuan tongkat. Tongkat dijadikan sebagai jatah atau giliran untuk berpendapat atau menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pelajaran.

Menurut Maufur (2009:88), talking stick merupakan sebuah model pembelajaran yang berguna untuk melatih keberanian siswa dalam menjawab dan berbicara kepada orang lain. Sedangkan penggunaan tongkat secara bergiliran sebagai media untuk merangsang siswa bertindak cepat dan tepat sekaligus untuk mengukur kemampuan siswa dalam memahami materi.
Materi pembelajaran teks pidato pada mata pelajaran bahasa Indonesia ini memiliki kompetensi dasar pada ranah pengetahuan menggali isi teks pidato yang didengar dan dibaca dan pada ranah keterampilan menyampaikan pidato hasil karya pribadi dengan menggunakan kosakata baku dan kalimat efektif sebagai bentuk ungkapan diri.

Baca juga:   Meningkatkan Pemahaman Volume Bangun Ruang dengan Video Pembelajaran

Tujuan pembelajarannya siswa mampu menyebutkan pembicara dan pendengar pidato dengan benar, siswa mampu mengidentifikasi unsur-unsur pidato dengan benar, siswa mampu menjelaskan tempat dan suasana pidato dengan benar dan siswa mampu menuliskan unsur-unsur pidato dengan benar.
Langkah-langkah yang dijalankan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick pada pembelajaran teks pidato di kelas VI sebagai berikut : pertama, guru menjelaskan tujuan pembelajaran pada saat itu. Lalu guru membentuk kelompok yang terdiri atas 5 orang. Selanjutnya, guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm. Setelah itu, guru menyampaikan materi terkait definisi ,tujuan, struktur teks, dan unsur –unsur kebahasaan kemudian memberikan kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran tersebut dalam waktu yang telah ditentukan. Kemudian, siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana yang disajikan. Setelah kelompok selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilakan anggota kelompok untuk menutup isi bacaan.
Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu anggota kelompok, setelah itu guru memberi pertanyaan dan anggota kelompok yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
Lalu, siswa lain boleh membantu menjawab pertanyaan jika anggota kelompoknya tidak bisa menjawab pertanyaan. Setelah semuanya mendapat giliran, guru membuat kesimpulan dan melakukan evaluasi, baik individu atau pun kelompok. Guru melakukan evaluasi/penilaian, baik secara kelompok maupun individu.
Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick, menurut penulis pada pembelajaran materi teks pidato ini yaitu menguji kesiapan siswa dalam pembelajaran, melatih siswa memahami materi dengan cepat. Memacu agar siswa untuk lebih giat belajar, karena siswa tidak pernah tahu tongkat akan sampai pada gilirannya, dan siswa berani mengemukakan pendapat. Walaupun demikian ada kelemahannya, membuat siswa senam jantung dan ketakutan akan pertanyaan yang akan diberikan oleh guru. (ce3/lis)

Baca juga:   Pembelajaran Bermakna untuk Generasi Z

Guru Kelas VI SD Negeri 03 Pekiringanalit, Kajen, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya