Meningkatkan Kemampuan Baca Tulis Hiragana melalui Permainan Puzzle

Oleh : Ina Fitriyawati, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Keterampilan membaca dan menulis huruf Jepang Hiragana merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik dalam belajar bahasa Jepang. Hiragana merupakan salah satu materi dalam pembelajaran bahasa Jepang yang menarik dan di minati peserta didik namun cukup sulit untuk di kuasai karena terdapat banyak aturan atau kaidah penulisan maupun cara baca huruf Hiragana. Metode yang telah digunakan penulis adalah melalui tes atau penilaian harian yang konsisten dengan pembagian huruf Hiragana secara bertahap. Namun pada akhirnya penulis mengalami kendala yakni sebagian peserta didik merasa jenuh dengan metode tersebut sehingga hasil belajar pun menurun.

Kompetensi membaca dan menulis huruf Jepang Hiragana diberikan kepada peserta didik pada mata pelajaran bahasa Jepang program lintas minat kelas X SMA Negeri 16 Semarang semester 1. Pada dasarnya dalam mempelajari bahasa Jepang materi yang harus terlebih dahulu dikuasai peserta didik adalah huruf. Hiragana merupakan salah satu dari tiga jenis huruf Jepang yang berfungsi menuliskan kosakata asli bahasa Jepang. Cara baca huruf Hiragana adalah per suku kata yakni menggabungkan masing-masing konsonan dengan vokal a, i, u, e dan o sedangkan penulisan huruf Hiragana memiliki beberapa aturan di antaranya urutan coretan penulisan masing-masing huruf harus sesuai kaidah penulisan huruf Hiragana, kemudian terdapat aturan penulisan konsonan rangkap, vokal panjang dan masih banyak lagi. Sehingga untuk menguasai huruf Hiragana selain diperlukan alat peraga yang sesuai. Juga diperlukan metode yang tepat agar peserta didik dapat mempelajari huruf Hiragana secara optimal untuk dapat membaca kosakata dan pola kalimat bahasa Jepang.

Baca juga:   Menangkal Radikalisme melalui Gerakan Literasi Sekolah

Sebelumnya penulis menggunakan metode menghafal melalui penilaian harian berupa tes kecil secara bertahap dan konsisten sesuai dengan pembagian huruf Hiragana. Namun sebagian besar peserta didik merasa bosan dan nilai hasil belajar pun menurun. Maka, penulis mencoba menggunakan metode puzzle. Seiring dengan penerapan Kurikulum 2013 yang memusatkan pelajaran kepada peserta didik aktif, maka penggunaan metode puzzle ini dirasa cukup menarik dan menyenangkan serta menuntut peserta didik untuk aktif di dalam kelompok. Metode puzzle yang digunakan penulis adalah puzzle kosakata.

Menurut wikipedia dalam Rizki dan Siti (2020) “A puzzle is a game, problem, or toy thattests a person’s ingenuity or knowledge”, artinya sebuah teka-teki adalah permainan, masalah, atau mainan yang menguji kecerdasan atau pengetahuan seseorang. Menurut blog Academia.edu dalam Rizki dan Siti (2020 :1) menyimpulkan puzzle adalah suatu game atau permainan merangkai bagian-bagian terpisah dari sebuah gambar menjadi gambar utuh yang berfungsi menguji pengetahuan seseorang. Sehingga dalam pembelajaran, puzzle bisa dijadikan sebagai kegiatan belajar sambil bermain yang dapat membuat suasana belajar menjadi menyenangkan dan peserta didik pun aktif di dalamnya.

Baca juga:   Belajar Geografis Indonesia Asyik dengan Eclipse Crossword

Untuk kegiatan game puzzle ini pertama-tama peserta didik diminta membuat kelompok terdiri dari 7 orang. Setiap kelompok diminta mencari gambar atau foto berukuran A4 (A). Lalu buatlah 3 kolom x 7 baris pada kertas berukuran A4 (B). Tempelkan A dan B saling berpunggungan. Kemudian, digunting menjadi 7 baris. Bagikan guntingan kartu kepada masing-masing anggota kelompok. Tentukan kosakata bahasa Jepang dan nomor urut yang harus dituliskan oleh masing-masing anggota kelompok. Lalu tulis dengan urutan ungkapan bahasa Indonesia (kiri), romaji atau alfabet (tengah), dan ungkapan dalam Hiragana (kanan) pada guntingan kertas yang diterima. Setelah itu diguntinglah masing-masing kartu menjadi 3 bagian, sehingga seluruhnya menjadi 21 bagian kartu, lalu acaklah.

Masing-masing kelompok berlomba menyusun kartu acak tersebut sesuai kosakata, terjemahan dan huruf Hiragana-nya, lalu membalikkan kartu tersebut. Apabila terbentuk gambar yang benar berarti kartu yang diurutkan sudah benar.

Setelah dilaksanakan metode permainan puzzle ini, peserta didik tampak antusias dalam memahami dan menghafal huruf Hiragana yang berdampak dengan meningkatnya nilai hasil belajar pada materi huruf Jepang Hiragana. (pai2/lis)

Guru Bahasa Jepang SMA Negeri 16 Semarang

Author

Populer

Lainnya