Asyiknya Belajar melalui Model Pembelajaran Bamboo Dancing

Oleh: Jaenatun, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Mata pelajaran IPA merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah dasar (SD) yang mempunyai peran strategis dalam pengembangan ipte. Mempelajari IPA sama halnya melatih siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Selain itu pembelajaran IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep atau prinsip saja tetapi juga merupakan suatu penemuan.

Berdasarkan hasil penilaian harian mata pelajaran IPA Kompetensi Dasar 9.1 Mendeskripsikan sistem tata surya dan posisi penyusun tata surya di kelas VI SD Negeri Balok Kecamatan Kendal, siswa yang mencapai ketuntasan hanya 33,33 persen. Sebagian besar siswa yaitu 66,67 persen tidak berhasil mencapai nilai tuntas ≤ KKM (75). Dari hasil tersebut maka prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA masih dalam kategori rendah.

Berdasarkan uraian di atas penulis memandang perlu mengadakan pembelajaran menggunakan model pembelajaran bamboo dancing berbantuan kartu gambar. Menurut Supriya (2014:95) model pembelajaran adalah suatu cara yang fungsinya merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan. Agus Supriyono (2013:98) menjelaskan pembelajaran dengan model bamboo dancing (tari bambu) serupa dengan model inside outside circle. Pembelajaran diawali dengan pengenalan topik oleh guru. Guru dapat menuliskan topik tersebut di papan tulis atau bertanya jawab apa yang diketahui siswa mengenai topik tersebut.

Baca juga:   Pahami Kecerdasan Siswa melalui Analisis Kompetensi

Selanjutnya guru membagi kelas menjadi 2 kelompok besar. Jika dalam kelas ada 40 siswa, maka tiap kelompok besar terdiri 20 siswa. Aturlah sedemikian rupa pada tiap-tiap kelompok besar yaitu sepuluh siswa berdiri berjajar saling berhadapan dengan 10 siswa lainnya yang juga dalam posisi berdiri berjajar. Dengan demikian di dalam tiap-tiap kelompok besar mereka saling berpasang-pasangan. Pasangan ini disebut sebagai pasangan awal. Bagikan tugas kepada setiap pasangan untuk dibahas. Berikan waktu yang cukup kepada mereka agar mendiskusikan tugas yang diterimanya.

Usai diskusi, 20 siswa dari tiap-tiap kelompok besar yang berdiri berjajar saling berhadapan itu bergeser mengikuti arah jarum jam. Dengan cara ini tiap-tiap peserta didik akan mendapat pasangan baru dan berbagi informasi, demikian seterusnya. Pergeseran searah jarum jam baru berhenti ketika tiap-tiap siswa kembali ke pasangan awal.
Hasil diskusi di tiap-tiap kelompok besar kemudian dipresentasikan kepada seluruh kelas. Guru memfalisitasi terjadinya interaksi edukatif. Kegiatan ini dimaksudkan agar pengetahuan yang diperoleh melalui diskusi di tiap-tiap kelompok besar dapat menjadi pengetahuan bersama seluruh kelas.
Kelebihan model pembelajaran bamboo dancing menurut Istarani (2013:34) adalah siswa dapat bertukar pengalaman dengan sesama siswa dalam proses pembelajaran, meningkatkan kerja sama di antara siswa, dan meningkatkan toleransi antara sesama siswa.

Baca juga:   Peningkatan Penguasaan Vocabulary Berbasis Lingkungan Sekolah

Selain memiliki kelebihan, model pembelajaran bamboo dancing juga memiliki kekurangan yaitu kelompok belajarnya terlalu gemuk sehingga menyulitkan proses belajar mengajar. Siswa lebih banyak bermainnya dari pada belajarnya, dan memerlukan periode waktu yang cukup panjang.

Melalui model pembelajaran bamboo dancing berbantuan kartu gambar ini penulis dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran IPA untuk materi tata surya yang tadinya dirasakan sulit oleh siswa kelas VI berubah menjadi lebih asyik dan menyenangkan. Ini dibuktikan dengan meningkatnya antusiasme mereka selama pembelajaran berlangsung dan hasil penilaian yang mereka capai pada akhir pembelajaran dengan prosentase ketuntasan 85,71 persen. (bw1/lis)

Guru SD Negeri Balok, Kecamatan Kendal

Author

Populer

Lainnya