Pentingnya Unggah-Ungguh dalam Penguatan Karakter Siswa

Oleh : Agustina Retno W., S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, ERA globalisasi apabila tidak disikapi secara bijak akan membawa dampak negatif, utamanya bagi para pemuda. Banyak pemuda (pelajar) yang tidak mengerti mengenai cara menghormati orang lain, utamanya ketika berkomunikasi dengan mitra tutur. Komunikasi merupakan keterampilan yang diperlukan manusia untuk dapat berhubungan dengan sesamanya. Terdapat berbagai pendapat tentang definisi komunikasi.

Dalam komunikasi verbal, manusia membutuhkan bahasa sebagai piranti. Bahasa daerah di Indonesia sangat beragam. Jumlahnya sangat banyak karena setiap provinsi memiliki beberapa daerah sekaligus. Dari 34 provinsi di Indonesia, ada sebanyak 718 bahasa daerah yang sudah teridentifikasi per tahun 2020 ini. Dari jumlah tersebut, tiga bahasa daerah merupakan bahasa terpopuler, antara lain : Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, dan Bahasa Madura.

Bahasa Jawa digunakan sebagai bahasa pergaulan dalam masyarakat Jawa dengan kaidah yang dinamakan unggah-ungguh. Penggunaan unggah-ungguh Bahasa Jawa merupakan hal yang penting. Unggah-ungguh Bahasa Jawa memberikan pembeda dalam berinteraksi dengan orang sebaya atau sederajat, dengan orang yang lebih tua, atau lebih tinggi status sosialnya.

Unggah-ungguh menurut pandangan Suwarna dan Suharti (2014:143) dibagi menjadi dua, yakni unggah-ungguh yang mengacu pada bahasa disebut dengan undha-usuk basa (statifikasi bahasa ngoko dan krama atau tata basa) dan unggah-ungguh yang mengacu pada sikap yang disebut dengan tata krama. Selain itu budaya hormat dan menghormati, utamanya kepada orang yang lebih tua sudah mulai memudar dikalangan siswa. Siswa tidak dapat membedakan bagaimana bertutur kata dengan teman yang sebaya, dan bagaimana bertutur kata yang benar dengan guru. Saat berinteraksi dengan teman sebaya, penggunaan ragam ngoko dianggap wajar, misalnya untuk menyebut kamu. Dalam ragam ngoko, kamu dikatakan kowe. Untuk berinteraksi dengan teman yang lebih tua, kowe diganti dengan ragam madya yaitu sampeyan. Ironisnya, siswa sering menggunakan istilah sampeyan untuk menyebut gurunya. Seharusnya, siswa menggunakan kata panjenengan atau Pak Guru/Bu Guru yang merupakan ragam krama untuk berbicara dengan guru maupun orang yang lebih tua.

Baca juga:   Blended Learning Solusi Pembelajaran Daring Materi Salat Berjamaah

Kegagalan dalam pendidikan di ranah keluarga akan menyebabkan anak menjadi tidak mempunyai kepribadian yang baik. Misalnya, ketika berjalan di depan orang yang lebih tua hendaknya anak dibiasakan untuk membungkuk dan meminta permisi atau dalam bahasa Jawa lazim menggunakan kata “nuwun sewu” atau “ndherek langkung”.

Penanaman unggah-ungguh Bahasa Jawa dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu keteladanan dan pembiasaan. Keteladanan dalam menggunakan unggah-ungguh Bahasa Jawa dapat diterapkan dalam percakapan antarguru di lingkungan sekolah dan antara guru dengan siswa.

Pembiasaan penggunaan unggah-ungguh Bahasa Jawa di sekolah dapat dilakukan pada saat pelajaran Bahasa Jawa, pada situasi informal di luar kelas, maupun disela-sela kegiatan pembelajaran. Melalui penanaman unggah-ungguh Bahasa Jawa, diharapkan agar siswa terampil menggunakan ragam ngoko maupun krama. Dengan keterampilan tersebut, siswa diharapkan mampu berkomunikasi dengan baik dan menyesuaikan diri dalam bertutur kata sesuai dengan jenjang usia dan kedudukan lawan bicaranya. Selain itu juga agar tertanam karakter yang kuat dalam diri siswa, khususnya karakter semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat/komunikatif, cinta damai, dan peduli sosial. Melalui karakter yang kuat, siswa akan tumbuh menjadi pribadi yang kokoh dan mampu untuk menghadapi tantangan di era globalisasi. (ti1/bas)

Baca juga:   Evaluasi Pembelajaran IPA yang Mudah dengan Flash Card

Guru SMP Negeri 1 Sragi, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya