Pendisiplinan Karakter Siswa dengan Metode PoBe

Oleh: Millatina Ulfah, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, KEMEROSOTAN moral bangsa saat ini menjadi alasan mendasar bagi para pemangku kebijakan untuk menggaungkan pentingnya menerapkan pendidikan karakter di ranah pendidikan formal. Gaffar (dalam Kesuma dkk, 2012) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang tersebut. Hal ini tentunya menjadi tanggung jawab semua stake holder yang ada di lingkungan sekolah. Peran guru di dalam kelas menjadi penentu keberhasilan penanaman karakter siswa karena guru merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan siswanya.

Guru dituntut agar tidak hanya berhasil dalam transfer of knowledge tetapi juga menumbuhkan karakter positif bagi siswa siswinya. Oleh sebab mengingat pentingnya pendidikan karakter ditanamkan sejak dini, penulis menerapkan metode PoBe (Point of Behaviour) pada pembelajaran di kelas V SD Negeri Bakalan Kecamatan Kandeman Kabupaten Batang dengan tujuan agar siswa tetap dalam koridor karakter yang positif setiap saat baik di dalam maupun di luar kelas.

Penerapan metode PoBe terdapat beberapa tahap mulai dari tahap persiapan hingga evaluasi. Tahap persiapan, guru mempersiapkan kertas manila dengan dua warna yaitu biru dan merah. Kertas ini bisa kita bentuk dengan simbol yang disukai siswa seperti bintang, jempol, dan bentuk lain yang menarik terutama bagi siswa SD. Selain itu guru juga mempersiapkan alas yang terbuat dari kertas karton untuk ditulisi nama siswa dalam satu kelas.

Baca juga:   Pemanfaatan Potensi Lokal sebagai Media Pembelajaran PJOK di Era Pandemi

Tahap pelaksanaan, guru dan siswa bersama membuat sebuah kesepakatan pada awal tahun pelajaran. Kesepakatan pertama yaitu simbol warna biru berlaku untuk perilaku yang baik dan simbol warna merah berlaku untuk perilaku yang kurang baik. Setiap siswa yang melakukan satu kebaikan di dalam maupun di luar kelas akan mendapat satu poin dengan simbol biru. Begitu pula sebaliknya, jika siswa melakukan satu perilaku kurang baik maka akan mendapat satu poin dengan simbol merah. Simbol tersebut ditempel pada nama siswa yang terdapat pada alas karton yang sudah disiapkan oleh guru. Kesepakatan kedua yaitu jika jumlah poin melebihi batas tertentu pada waktu yang telah ditentukan, maka siswa akan mendapat reward bagi yang mendapat poin positif terbanyak dan punishment bagi yang mendapat poin negatif terbanyak. Poin-poin yang dihasilkan setiap siswa didasarkan pada hasil pengamatan guru dan penilaian teman satu kelas.

Tahap evaluasi adalah tahap penjumlahan seluruh poin untuk setiap siswa. Hal ini bertujuan agar guru bisa merespon segera perilaku siswa baik yang positif maupun yang negatif. Tahap evauasi bisa dilakukan secara berkala yakni tiga atau enam hari sekali sesuai kesepakatan.

Baca juga:   Solusi Pembelajaran di Masa Pandemi dengan Online Learning

Metode PoBe merupakan metode yang cukup efektif karena mengena pada siswa dan efisien karena tidak banyak mengeluarkan biaya. Dengan menerapkan metode PoBe, siswa menjadi terbatas ruang geraknya untuk melakukan perilaku yang negatif. Harapanya adalah dengan adanya keterbatasan ruang gerak siswa untuk berperilaku negatif, siswa dapat memiliki kebiasaan dan karakter yang positif untuk dapat diterapkan di sekolah maupun masyarakat. (ti1/zal)

Guru SDN Bakalan, Kabupaten Batang

Author

Populer

Lainnya