PBL sebagai Alternatif Metode Pembelajaran pada Masa Pandemi

Oleh : Nurulisnaini, S.TP

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Setelah munculnya wabah Covid-19 di belahan bumi, sistem pendidikan mulai mencari suatu inovasi untuk proses kegiatan belajar mengajar. Setiap institusi juga dituntut untuk memberikan inovasi terbaru untuk membentuk proses pembelajaran yang sangat efektif ini. Sayangnya, tak semua institusi pendidikan paham betul mengenai inovasi terbaru yang harus dipakai untuk melakukan pembelajaran selama pandemi.

Maka salah satu alternatif model pembelajaran yang cocok untuk peserta didik selama pandemi adalah Project Based Learning (PBL). Karena peserta didik mengalami kesulitan untuk memahami materi dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada saat literasi.

Proses pembelajaran berbasis proyek (PBL) dapat membuat peserta didik lebih mudah memahami materi, karena peserta didik langsung menerapkan ilmunya ke dalam sebuah proyek yang mereka susun. Proyek tersebut akan membuat peserta didik lebih mudah mengingat konsep yang telah diperoleh. PBL merupakan salah satu alternatif pembelajaran yang bisa digunakan tidak hanya untuk menilai aspek kognitif, tetapi juga unjuk kerja peserta didik (Hayati et al., 2013). Artikel ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran Project Based Learning pada topik Pencemaran Lingkungan dan untuk mengetahui Lembar Kegiatan IPA dengan pendekatan Project Based Learning yang layak digunakan oleh peserta didik SMP dengan pengembangan dengan model 4D (Definisi, Desain,Develop, Dessiminate).

Baca juga:   Tingkatkan Belajar Pantang Menyerah dengan Media Komik

Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam Kurikulum 2013 memiliki tahapan sebagai berikut: (1) Orientasi peserta didik terhadap masalah. Pada tahap ini, guru harus menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas yang akan dilakukan agar peserta didik tahu apa tujuan utama pembelajaran, apa permasalahan yang akan dibahas, bagaimana guru akan mengevaluasi proses pembelajaran. Guru harus bisa memberikan motivasi peserta didik untuk terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang dipilih. (2) Mengorganisasikan peserta didik. Pada tahap ini, guru membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang telah diorientasi. Misalnya membantu peserta didik membentuk kelompok kecil, membantu peserta didik membaca masalah yang ditemukan pada tahap sebelumnya, kemudian mencoba untuk membuat hipotesis atas masalah yang ditemukan tersebut. (3) Membimbing penyelidikan individu dan kelompok. Pada tahap ini, guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, melaksanakan eksperimen, menciptakan dan membagikan ide mereka sendiri untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. (4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Pada tahap ini guru membantu peerta didik dalam menganalisis data yang telah terkumpul pada tahap sebelumnya, sesuaikah data dengan masalah yang telah dirumuskan, kemudian dikelompokkan berdasarkan kategorinya. Peserta didik memberi argumen terhadap jawaban pemecahan masalah. Karya bisa dibuat dalam bentuk laporan, video, atau model. (5) Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Pada tahap ini, guru meminta peserta didik untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya. Guru dan peserta didik menganalisa dan mengevaluasi terhadap pemecahan masalah yang dipresentasikan setiap kelompok.

Baca juga:   Pembelajaran Metode RASIS Membiasakan Bebas Sampah Plastik

Setelah selesai pembelajaran, jangan lupa agar guru memberikan penguatan. Dengan demikian peserta didik memiliki konsep yang bulat tentang kompetensi dasar yang dipelajari. (pai2/ton)

Guru SMP Negeri 1 Wonotunggal, Kabupaten Batang

Author

Populer

Lainnya