Mengikis Individualisme dengan Pembuatan Video Sosiodrama

Oleh : Ndaru Nur Wilis, S.E

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Individualisme didefinisikan sebagai sikap yang lebih mementingkan kebebasan pribadi, artinya lebih mementingkan diri sendiri dibandingkan orang lain. Hal ini menjadikan individu kurang bermasyarakat sehingga apapun kejadian-kejadian di lingkungan sekitar mereka di anggap tidak penting. (Aning Azizah- Kompasiana 31 Oktober 2016). Sikap individualis tentu sungguh tidak sesuai karakter bangsa yang senantiasa menjunjung kebersamaan dan kegotongroyongan.

Berlatar belakang kondisi tersebut sebagai pengampu mata pelajaran IPS di SMPN1 Sumowono, saya mencoba menerapkan konsep belajar dimana peserta didik dikondisikan untuk lebih aktif dan termotivasi untuk menggali materi belajar dari lingkungan. Peserta didik diarahkan untuk aktif mengembangkan komunikasi agar memiliki kepekaan, perhatian dan antusiasme untuk berkarya, bekerjasama, bergotong- royong dengan membuat Video drama bertema interaksi sosial.

Pembelajaran diarahkan memadukan kegiatan pengamatan langsung terhadap interaksi sosial di lingkungan maing-masing, mengidentifikasi kasus yang ditemui kemudian menemukan cara pemecahan masalah sesuai kemampuan peserta didik. Langkah pertama melalui WA grup peserta didik di anjurkan bisa mandiri membuat tim yang terdiri dadi 3 sampai 6 orang dari teman-teman yang berada dalam satu kawasan lingkungan aman dari pandemi. Peserta didik kemudian bertemu, bertatap muka satu tim dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Peserta didik memilih salah satu tema yang ditawarkan guru. Langkah selanjutnya peserta didik menggali materi sesuai tema pilihan kemudian bekerja sama dengan kelompoknya menyusun naskah dengan mengembangkan imajinasi dari pengalaman serta pengamatan langsung di lingkungannya setelah melalui tahap diskusi. Langkah selanjutnya peserta didik membagi peran untuk masing-masing individu mulai dari penulis naskah, penyunting gambar, sutradara, pemain peran dan editornya. Peserta didik diperbolehkan merangkap peran mengingat jumlah anggota team dibatasi sesuai protokol kesehatan. Konsep belajar ini disebut dengan metode Sosiodrama.

Baca juga:   Cedera dan Olahraga

Sosiodrama adalah metode mengajar yang mendramatisasikan suatu situasi sosial yang mengandung suatu problem agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah yang muncul dari suatu situasi social (Sagala 2009:213). Konsep Vidio Sosio drama dikembangkan guna merangsang kreativitas peserta didik untuk memadukan Ilmu sosial khususnya interaksi sosial dengan aktifitas produktif yang memadukan seni dan keterampilan, menyerap pengetahuan yang bersifat teoritis, dikembangkan dalam tindakan praktis melalui seni peran dan ketrampilan teknologi sesuai perkembangan jaman melalui proses kerja sama tim atau sering disebut dengan istilah gotong-royong. Dengan penerapan metode ini peserta didik bisa aktif menggali kemampuan sesuai perannya masing-masing.

Kemajuan iptek yang menghasilkan media informasi internet membuat dunia seolah tanpa batas. Segala informasi, peristiwa, ilmu pengetahuan, bahkan bermacam-macam hiburan baik yang bersifat positif maupun negatif tersaji dengan lengkap dan terus mengalir tak terbendung. Keadaan ini akan mendorong laju perubahan pola perilaku peserta didik semakin massif. Perubahan sosial memang harus terjadi dan tidak mungkin bisa dihindari, Perubahan harus disiasati dengan terampil dan bijak. Banyak keuntungan yang bisa diperoleh di era ini namun banyak hal yang perlu kita jaga bersama agar nilai-nilai luhur budaya bangsa tidak semaki terkikis oleh arus globalisasi. (bw1/ton)

Baca juga:   Belajar Sejarah Perlawanan Pangeran Diponegoro Lebih Bermakna dengan Sosiodrama

Guru IPS SMPN 1 Sumowono

Author

Populer

Lainnya