Mencegah Kecurangan dan Kebuntuan dalam Menulis dengan Draft Fastwriting

Oleh : Khabib Bastari S.Pd M.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, SECARA alami balita lebih dahulu mampu mendengarkan sebelum mampu berbicara, membaca, dan menulis. Oleh karena itu, menurut Iskandarwassid dan Dadang Sunendar (2008:248), dibandingkan dengan tiga kemampuan berbahasa yang lain, kemampuan menulis lebih sulit dikuasai bahkan oleh penutur asli bahasa yang bersangkutan sekalipun. Dengan demikian, wajar jika keterampilan menulis siswa, bahkan guru pada umumnya rendah.

Salah satu KD bahasa Indonesia kelas VIII semester satu adalah menyajikan data dan informasi dalam bentuk berita secara lisan dan tulis. Pembelajaran ini bisa berupa menulis teks berita dan membacakannya. Teks berita yang baik memuat 6 unsur Adik Simba (apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, bagaimana) yang semuanya merupakan fakta. Di samping itu, perlu didukung dengan kutipan untuk memperkuat isi berita. Langkah-langkahnya adalah menentukan topik dan sumber berita, mengumpulkan bahan dengan mendatangi sumber berita, wawancara, dan mencatat fakta-fakta penting, mengembangkan catatan dan menyunting.

Jika menulis berita dijadikan PR, banyak siswa yang melakukan kecurangan dalam mengerjakannya karena merasa tidak mampu, enggan berusaha, cari mudahnya, dan sebagainya. Bentuk kecurangan tersebut di antaranya siswa copas, mengedit, menyadur, atau menyontek dari media cetak/elektronik atau dari teman. Atau siswa mengarang sesuai imajinasinya. Semua itu menyalahi sifat utama penulisan berita yakni berupa fakta. Ketika tugas itu dikerjakan di kelas, sebagian siswa pun mengalami berbagai kesulitan sejak dari menentukan topik. Sebagian siswa hingga 10 menit belum menuliskan apapun di kertasnya. Ketika siswa mengerjakan di luar kelas, secara umum hasilnya sangat minim.

Baca juga:   Kreativitas Guru di Masa Pandemi, Kuatkan Motivasi Belajar Siswa

Salah satu cara untuk mengatasi kecurangan dan kebuntuan tersebut adalah dengan membuat draf kilat, draft fastwriting. Dalam membuat draf ini Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (2005:186-187) menyarankan agar misalnya dalam waktu lima menit menulis secepat mungkin tanpa berhenti, tanpa memeriksa ejaan, tata bahasa, maupun susunan kalimat, tanpa mengulang, dan tanpa mencoret. Hasilnya tentu tampak berantakan, tetapi ini tidak mengapa. Hasil ini sangat berharga untuk diolah.

Teknik ini akan sangat efektif untuk menulis non fakta, tetapi cukup efektif untuk semua jenis teks. Untuk menulis teks berita tentunya topik sudah disiapkan. Sebaiknya topik tentang kegiatan atau keadaan sekolah yang sethari-hari sudah siswa lihat dan alami sehingga cukup bahan di memori siswa. Misalnya tentang upacara bendera di sekolah. Cukup lima menit siswa akan bisa menemukan topik-topik lain, misalnya kegiatan shalat dhuhur berjamaah di SMPN 3 Ambarawa, Ekstra Pramuka di SMPN 3 Ambarawa, Kantin SMP 3 Ambarawa, dan sebagainya.

Dengan modal topik dan bahan yang telah ada di memori, selama 7 menit siswa diminta dengan cepat membuat draf satu halaman. Kemudian ditambah 3 menit untuk menyelipkan kutipan narasumber berupa nasihat Pembina Upacara, Wali Kelas, atau lainnya yang pernah siswa dengar sesuai topik pilihan siswa. Setelah itu, siswa diberi kesempatan 15 menit untuk mengamati lokasi, mencocokan draf, dan menambahkan informasi yang didapat. Terakhir siswa kembali ke kelas untuk menulis ulang draf mereka. Dengan cara demikian dalam dua jam pertemuan telah menghasilkan draf yang lebih rapi. Dalam pertemuan kedua draf itu ditukar untuk saling koreksi dengan bimbingan guru. Pada akhir pertemuan kedua tulisan telah tertata menjadi tiga paragraf dengan struktur dan kebahasaan yang lebih sempurna. (bw1/ida)

Baca juga:   Pembelajaran Tematik Asyik dan Menyenangkan melalui WhatsApp Forum

Guru SMPN 3 Ambarawa, Kabupaten Semarang

Author

Populer

Lainnya