Peningkatan Menulis Cerita Inspiratif dengan Media Audiovisual

Oleh: Lili Umiyati, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, MENULIS menjadi salah satu keterampilan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Pembelajaran bahasa Indonesia memiliki sasaran agar siswa mampu dan terampil melakukan komunikasi baik lisan maupun tulisan. Menulis merupakan suatu bentuk manifestasi kemampuan berbahasa paling akhir dikuasai setelah kemampuan mendengarkan, berbicara, dan membaca (Nurgiyantoro, 2001: 296). Menulis dapat disimpulkan suatu keterampilan berbahasa dalam bentuk tulisan yang berfungsi menyampaikan pesan secara jelas. Keterampilan menulis tidak akan datang secara otomatis melainkan harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur. Pembelajaran keterampilan menulis untuk menuangkan pikiran, ide, gagasan, dan pengalaman salah satunya adalah keterampilan menulis cerita inspiratif.

Inspirasi adalah percikan ide-ide kreatif (ilham) akibat hasil proses belajar dan peduli kepada sekeliling kita. Cerita inspiratif merupakan bentuk narasi yang lebih bertujuan memberi inspirasi kebaikan kepada banyak orang. Cerita yang baik dapat menggugah perasaan, memberi kesan yang mendalam bahkan dalam tingkat yang lebih tinggi mampu membuat seseorang berjanji pada dirinya untuk menjadi seperti yang dibacanya. Cerita yang menginspirasi seseorang berbuat lebih baik, lebih peduli, dan lebih berempati terhadap orang lain (Agus Trianto, 2018 : 48)

Baca juga:   Membangun Karakter Anak Didik ala Burung Merpati

Menulis cerita inspiratif merupakan materi pembelajaran yang harus dikuasai peserta didik kelas 9 pada kurikulum 2013. Menulis cerita inspiratif termuat pada Kompetensi Dasar 4.12 yaitu mengungkapkan rasa simpati, kepedulian, empati, dan perasaan dalam bentuk cerita inspiratif dengan memerhatikan struktur cerita dan aspek kebahasaan.

Banyak kendala yang dihadapi oleh peserta didik di SMP Negeri 3 Tirto untuk menulis cerita inspiratif. Kendala tersebut salah satunya adalah kesulitan mendapatkan ide. Ide merupakan rancangan yang disusun di dalam pikiran, gagasan, dan cita-cita. Jadi bagaimana mungkin peserta didik dapat menulis cerita inspiratif apabila mereka tidak mempunyai ide yang dapat dijadikan dasar untuk membuat sebuah cerita.
Untuk mengatasi hal tersebut, penulis memberikan solusi yaitu dengan menggunakan media audiovisual. Media dapat diartikan dengan manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan (Sadiman, 2010 : 6). Audiovisual merujuk kepada penggunaan komponen suara (audio) dan komponen gambar (visual). Media audiovisual adalah media perantara atau penggunaan materi dan penyerapannya melalui penglihatan dan pendengaran sehingga membangun kondisi yang dapat membuat peserta didik mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Salah satu bentuk media audiovisual yang digunakan penulis untuk meningkatkan kemampuan menulis cerita inspiratif yaitu televisi.

Baca juga:   Mudah Pahami Aritmatika dan Geometri dengan Media Pembelajaran

Langkah-langkah pembelajaran menulis cerita inspiratif dengan menggunakan media audiovisual terbagi atas tiga tahap yaitu persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. Pada tahap persiapan, kegiatan yang dilakukan yaitu penulis memberikan tugas kepada peserta didik untuk melihat setidaknya dua tayangan drama baik FTV maupun sinetron melalui televisi. Selain itu, penulis memberikan pengarahan mengenai hal-hal yang harus dilakukan peserta didik pada saat melihat tayangan drama tersebut. Pada tahap pelaksanaan, peserta didik menyaksikan tayangan yang dipilih sambil mencatat sifat baik tokoh, tindakan terpuji tokoh, dan peristiwa yang berkesan yang dapat memberikan inspirasi atau ide cerita kepada peserta didik. Tahap yang terakhir yaitu tindak lanjut. Pada tahap ini peserta didik menuangkan ide cerita yang telah diperoleh menjadi teks cerita inspiratif.

Kelebihan penggunaan media audiovisual untuk pembelajaran menulis cerita inspiratif yaitu memudahkan peserta didik untuk mendapatkan ide penulisan cerita. Sedangkan kekurangannya peserta didik cenderung hanya menikmati ceritanya saja. (bp2/zal)

Guru SMPN 3 Tirto, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya