Tingkatkan Hasil Belajar Siswa dengan Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Oleh : Emy Sulastri, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Salah satu kompetensi dasar mata pelajaran matematika SMP yang diharapkan dimiliki peserta didik terkait dengan kompetensi inti ke-2 adalah menunjukkan sikap logis, kritis, analitik, konsisten dan teliti, bertanggung jawab, responsif, dan tidak mudah menyerah.

Untuk mengantarkan peserta didik memiliki kompetensi dasar tersebut tentunya diperlukan suatu kegiatan pembelajaran yang dapat memunculkan sikap-sikap tersebut di atas. Banyak model-model pembelajaran yang dapat dipergunakan guru dalam membantu peserta didik mempunyai kompetensi tersebut.

Upaya untuk meningkatkan kemampuan dan hasil belajar peserta didik, salah satunya adalah dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning). Namun demikian, sampai saat ini yang masih dirasakan guru adalah belum banyak contoh-contoh bagaimana penerapan model pembelajaran tersebut dilakukan di kelas sehingga hasil belajar peserta didik meningkat.
Artikel ini memberikan alternatif contoh penerapan model pembelajaran berbasis masalah untuk mata pelajaran matematika SMP kelas VIII. Materi sistem persamaan linear dua variabel. Aktivitas utama guru adalah membantu peserta didik untuk belajar (mengorganisasikan peserta didik untuk belajar yang berhubungan dengan masalah yang diberikan). Guru memberi tugas kelompok untuk menyelesaikan masalah yang diberikan dengan melalui diskusi kelompok.

Baca juga:   Google Classroom Mempermudah Pembelajaran Matematika di Era Pandemi

Dalam menggunakan model PBL dalam materi SPLDV, peserta didik pertama dibentuk dalam lima kelompok. Tiap kelompok terdiri dari enam peserta didik. Tiap kelompok diberi soal yang berbeda. Masing-masing kelompok berdiskusi menyelesaikan soal yang telah ditentukan dalam waktu 20 menit. Setelah waktu yang ditentukan selesai setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya dan kelompok lain memberikan tanggapan terhadap hasil kerja temannya. Jika kelompok lain ada yang kurang jelas maka boleh bertanya terhadap kelompok yang mempresentasikan.

Semua anggota kelompok yang di depan harus ikut aktif memberikan jawaban. Guru bertindak sebagai fasilitator. Pada kesempatan ini guru hanya memberi ulasan dan penguatan terhadap jawaban peserta didik. Jika jawaban peserta didik kurang tepat maka guru meluruskan. Setelah kelompok pertama maju maka digantikan kelompok yang kedua. Kelompok kedua mempresentasikan hasil kerja kelompoknya, kelompok lain menanggapi begitu seterusnya kelompok keempat, kelima sampai kelompok terakhir.

Pada akhir pembelajaran guru memberikan refleksi dan memberikan kesempatan pada peserta didik yang mungkin masih belum paham terhadap materi dalam diskusi. Pembelajaran berbasis masalah pada intinya merupakan suatu strategi yang digunakan guru dalam membelajarkan suatu materi pokok (materi pelajaran) terkait dengan kompetensi dasar yang dipilihnya dengan melalui pemberian masalah kepada peserta didik untuk diselesaikannya. Pemberian masalah yang harus diselesaikan ini hanyalah sebagai alat atau media agar peserta didik melakukan kegiatan belajar lebih lanjut.

Baca juga:   CTL dan PhET Simulation Tingkatkan Pemahaman Konsep Rangkaian Listrik

Dari penerapan model pembelajaran PBL tersebut ternyata peserta didik lebih antusias dan bersemangat untuk mempelajari materi yang disampaikan dan lebih tertarik untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru. Dengan demikian, hasil belajar yang diperoleh dapat lebih maksimal sehingga hasil belajar peserta didik meningkat. (ips2.2/lis)

Guru SMPN 2 Kesesi, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya