Menjadi Sumber Inspirasi di Masa Pandemi

Oleh: Wuri Wisma Hanani, S.Th

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Generasi korona sekarang ini di mana anak-anak bertumbuh kembang adalah dunia yang sarat dengan ilmu, teknologi dan informasi. Segala hal bisa dicari dengan mudah dan cepat. Dalam kehidupan keseharian pun anak-anak sangat dipuaskan dengan aneka aplikasi pembelajaran jarak jauh, aneka permainan mengasyikkan melalui game di komputer, handphone dan sejenisnya.

Kalau sudah demikian, anak sibuk menikmati fasilitas instan yang ada. Bila salah penggunaan dan pemanfaatan, akibatnya belajar tidak menjadi prioritas, lebih penting permainan dan kesenangan. Tentu saja hal ini bertolak belakang dengan tujuan pendidikan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, seorang guru di masa pandemi Covid-19 ini, harus menempatkan dirinya sedemikian rupa, sehingga menjadi sumber inspirasi bagi peserta didik.

Bagaimana seorang guru bisa menjadi sumber inspirasi? sebuah pertanyaan yang sering menggelayut dalam pikiran kita. Hal pertama-tama yang bisa kita lakukan adalah menanamkan nilai-nilai komitmen terhadap panggilan kita sebagai seorang guru. Kita perlu menekankan pada kekuatan ikatan emosional peserta didik. Ikatan emosional dapat berupa rasa kecintaan terhadap peserta didik. Ikatan emosional terhadap peserta didik akan membentuk nilai komitmen terhadap pekerjaan kita secara efektif.

Baca juga:   Pendidikan Karakter di Sekolah dan Pengaruhnya bagi Masyarakat

Kembali ke pertanyaan sebelumnya, sebenarnya guru atau pendidik bagaimana yang disebut menginspirasi? Sebenarnya guru atau pendidik bagaimana yang dapat disebut sebagai guru atau pendidik inspiratif? Guru yang masih senantiasa menyumbang sebagian tenaganya, pikirannya, dan waktunya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru yang tentu saja memiliki semangat untuk melahirkan generasi yang berkualitas dan cerdas, bukan hanya untuk naik kelas, bukan hanya untuk lulus, tetapi untuk menjadi pribadi yang terpuji dan mampu meraih mimpi-mimpinya, dan tentu saja yang paling penting adalah ketulusan, karena ketulusan itulah nantinya akan membuat sosok guru tetap menjadi inspirasi.

Dari hal ini, masihkah kita berpikir bahwa uang dapat menjadi tolak ukur kualitas guru? Tidak. Uang tidak bisa membeli segalanya. Kita tidak bisa menilai segala sesuatu dari uang, ada kepuasan tersendiri saat menjadi bagian didalamnya, karena menjadi guru itu sendiri adalah kasih karunia, yang harus kita syukuri dan nikmati. Kita tidak bisa memungkiri, kita mulai lelah, letih, bosan dalam pembelajaran jarak jauh. Kita tidak boleh menyerah, walaupun PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) itu berat tuntutannya. Kalau guru kehilangan motivasi, bagaimana dengan peserta didiknya. Mari tetap bersemangat bapak ibu. Tuhan yang memampukan kita hidup dalam panggilan-Nya.

Baca juga:   Implementasi Penugasan Proyek Berbasis Lingkungan di Masa Pandemi

Demikian sharing penulis. Mari kita berjuang bersama, sehingga anak-anak bangsa terberkati dengan kehadiran kita. Sebagai guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) SD Kristen Widya Wacana, Warungmiri, Surakarta, penulis juga harus memulai kembali memupuk semangat belajar dengan mengisi ceruk pengetahuan anak-anak yang kosong. Karena tidak adanya tatap muka. Tantangan ini juga menguji kita sebagai pendidik untuk kembali menyiapkan generasi dengan keterampilan dan pengetahuan yang sempat terhenti, tak terasah. Kita harus kembali menumbuhkan tunas-tunas yang tadinya kering dan mengasah ujung yang telah tumpul. Tetap semangat para pejuang PJJ, Tuhan melindungi kita semua. (*/ton)

Guru Agama Kristen SD Kristen Widya Wacana, Warungmiri, Surakarta

Author

Populer

Lainnya