Gitar Akustik dalam Pembelajaran Hukum Mersenne

Oleh : Edi Takariyanto

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PADA mata pelajaran IPA kelas 8 semester genap salah satu kompetensi dasarnya adalah menganalisa konsep getaran gelombang dan bunyi dalam kehidupan sehari-hari termasuk sistem pendengaran pada manusia dan sistem sonar pada hewan. Salah satu pembahasan pada kompetensi dasar tersebut adalah hukum Mersenne yang membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya frekuensi pada senar. Menurut hukum Mersenne, besarnya frekuensi pada senar dipengaruhi oleh luas penampang, panjang, tegangan, dan jenis senar.

Kebiasaan guru dalam mengajarkan materi tersebut dengan menggunakan metode ceramah melalui rumus hukum Mersenne. Tahapan yang dilakukan guru dengan mengajak peserta didik menganalisa rumus yang diberikan. Melalui metode tersebut peserta didik sulit untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya frekuensi pada dawai. Selain itu pembelajaran menjadi tidak menyenangkan dan membosankan.

Untuk mengefektifkan proses pembelajaran dan mengubah suasana pembelajaran yang menyenangkan maka guru dapat melakukan inovasi dengan menggunakan alat peraga yang mudah didapatkan dan menarik bagi peserta didik. Menurut Nana Sujana (2014:99), alat peraga dalam mengajar memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efektif. Alat peraga disini merupakan alat bantu untuk menjelaskan sesuatu yang bersifat abstrak lalu dikonkretkan untuk menjelaskannya kembali agar peserta didik lebih mudah memahami.

Baca juga:   Mudahnya Belajar Partitur Gitar dengan Not Berwarna

Salah satu inovasi yang kami lakukan di SMP Negeri 2 Bawen Kabupaten Semarang dalam pembelajaran hukum Mersenne dengan menggunakan alat peraga gitar akustik. Bagi peserta didik yang masih duduk di bangku SMP gitar akustik merupakan alat musik yang tidak asing lagi dan menarik bagi mereka.

Bagian gitar akustik yang penting dan berkaitan dengan pembelajaran hukum Mersenne adalah senar gitar. Jumlah senar gitar akustik ada 6 buah, yaitu senar 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. Setiap senar mempunyai luas penampang yang berbeda-beda. Senar 1 memiliki luas penampang yang paling kecil dan senar 6 mempunyai luas penampang yang paling besar. Untuk mengetahui hubungan antar luas penampang senar dengan frekuensi peserta didik dapat diminta untuk memetik senar nomor 1, 4, 6. Dari nada yang dihasilkan senar-senar tersebut peserta didik dapat menyimpulkan hubungan antara frekuensi dengan luas penampang senar.

Untuk memperbesar atau memperkecil gaya tegang senar dapat dilakukan dengan cara memutar tunning key atau alat pemutar. Misalnya peserta didik dimita untuk memutar senar nomor 5 searah jarum jam sehingga gaya tegang senar bertambah kemudian senar dipetik. Dari nada yang dihasilkan peserta didik, tentunya dapat mengetahui hubungan antara frekuensi dengan gaya tegang senar.
Frekuensi senar juga dipengaruhi oleh panjang senar. Untuk mengetahui hubungan tersebut dapat dilakukan dengan cara memetik salah satu senar dengan ujung senar yang lain ditekan pada kolom yang bebeda-beda sehingga panjang senar menjadi berubah-ubah. Kondisi ini akan menyebabkan tinggi rendahnya bunyi yang dihasilkan berbeda-beda. Peserta didik akan dengan mudah menyimpulkan hubungan antara frekuensi dengan panjang senar.

Baca juga:   Asyik Mengenal Pandhawa melalui Pembelajaran MindMapping

Melalui tiga kegiatan di atas peserta didik dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa besar frekuensi senar berbanding terbalik dengan panjang dan luas penampang senar tetapi berbanding lurus dengan gaya tegangan senar. Hubungan antara frekuensi dengan jenis senar dapat dijelaskan secara teori dengan menggunakan rumus hukum Mersenne. (bw1/ida)

Guru SMP Negeri 2 Bawen, Kabupaten Semarang

Author

Populer

Lainnya