Belajar Bahasa Indonesia Lebih Kreatif dengan Critical Incident

Oleh : Eka Trisnawati S.Pd

spot_img

RADARASEMARANG.ID, BAHASA Indonesia sebagai alat komunikasi paling penting untuk mempersatuakan seluruh bangsa. Bahasa Indonesia merupakan alat untuk mengungkapkan diri secara lisan maupun tertulis, dari segi rasa, karsa, dan cipta serta berpikir baik secara etis, estetis, dan logis. Kemahiran berbahasa Indonesia bagi peserta didik dapat tercermin dalam tata pikir, tata ucap, tata tulis, dan tata laku. Oleh karena itu bahasa Indonesia masuk dalam kelompok mata pelajaran yang wajib diajarkan sebagai bekal bagi peserta didik, yang kelak terjun sebagai insan terpelajar ke dalam kancah kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai pemimpin dalam lingkungannya masing-masing.

Ada beberapa faktor penyebab rendahnya hasil siswa dalam proses pembelajaran yaitu, 1) siswa kurang memiliki kemampuan untuk merumuskan gagasan sendiri, 2) siswa kurang memiliki kemampuan untuk menyampaikan pendapat kepada orang lain, 3) siswa belum terbiasa bersaing menyampaikan pendapat dengan teman yang lain. Hal tersebut tidak sepenuhnya dibebankan kepada siswa, namun kadang guru secara tidak sadar menerapkan sikap otoriter, menghindari pertanyaan dari siswa, menyampaikan pelajaran secara searah,menganggap siswa sebagai penerima,pencatat dan pengingat.

Baca juga:   Asyiknya Menulis Teks Deskripsi melalui Field Trip

Sesuai dengan pemikiran dan kenyataan di atas, perlu adanya pemecahan permasalahan tersebut dengan melakukan pengembangan pembelajaran melalui penggunaan strategi critical incident (mengkritisi pengalaman penting) materi mengarang. Strategi ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengingat-ingat pengalaman yang tidak pernah terlupakan yang juga dikaitkan dengan materi. Keunggulan strategi critical incident adalah belajar mengingat kembali peristiwa yang pernah dialami atau dijumpai sendiri kemudian dikaitkan dengan materi pembahasan.topik pembelajaran ditentukan oleh guru,dengan tugas utama siswa mengingat kembali pengalaman penting yang dialami oleh masing-masing siswa,baik yang dijumpai atau pengalaman sendiri.

Metode penelitian critical incident ini penulis terapkan di kelas V SDN 02 Penusupan, untuk meningkatkan kreativitas siswa dalam mengarang, dengan nilai belajar sebagai pemicu keberhasilan. Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan. Guru melanjutkan penelitian dengan menggunakan 2 siklus, dengan acuan perhitungan menggunakan kriteria ketuntasan minimal (KKM). Masing-masing siklus memiliki 4 tahapan yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil observasi yang dilakukan oleh guru kemudian dianalisi dan direfleksi pada tahap akhir siklus untuk menentukan keberhasilan penelitian.

Baca juga:   Meski Masa Pandemi, Belajar Biologi Tetap Ternikmati

Berikut hasil belajar dari setiap siklus. Siklus I hasil belajar siswa mengalami peningkatan yaitu dari 62,96 meningkat menjadi 68,32. Persentase ketuntasan 76 persen dengan penerapan strategi critical incident. Tetapi kondisi kelas masih cenderung pasif, partisipasi siswa dalam mengungkapkan pendapat masih kurang, percaya diri siswa masih rendah.

Dilanjutkan dengan siklus II berdasarkan pelaksanaan penelitian dalam proses pembelajaran, siswa mengalami peningkatan. Pada siklus I masih terdapat kekurangan yang harus ditingkatkan pada siklus II. Pada siklus II ini, belajar siswa meningkat menjadi 76,20 dengan persentase ketuntasan 92 persen sudah sesuai dengan yang diharapkan guru pada indikator keberhasilan.

Dengan demikian, metode strategi critical incident pada pembelajaran bahasa Indonesia materi mengarang pada siswa kelas V SD mengalami peningkatan dan berlangsung lebih inovatif, menyenangkan dan siswa ikut terlibat aktif dalam setiap pembelajaran. Tujuan belajar aktif dapat berjalan dengan baik bermakna dan tercapai secara optimal sesuai harapan kurikulum. (fbs2/ida)

Guru SD Negeri 02 Penusupan

Author

Populer

Lainnya