Belajar IPS Tidak Lagi Membosankan dengan Puzzle

Oleh : Yanih, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu pelajaran yang ”memaksa” peserta didik untuk banyak membaca, mencatat dan menghafal. Pada kenyataanya masih sedikit sekali peserta didik yang menyukai membaca buku pengetahuan atau dengan senang hati mencatat. Hal ini lah yang membuat guru IPS harus kreatif dalam pembuatan media pembelajaran IPS agar dapat lebih menarik minat peserta didik.

Peserta didik kelas VII berada pada fase peralihan antara masa anak-anak menuju ke masa remaja. Hal ini membuat peserta didik kelas VII masih terbawa suasana pembelajaran di SD. Ini yang terjadi pada peserta didik di SMP Negeri 26 Depok, dimana mereka menyukai permainan dalam belajar. Oleh karena itu perlu disesuaikan media pembelajaran yang digunakan agar peserta didik antusias dalam mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru, khusunya pelajaran IPS.

Menurut Munadi (2008) media pembelajaran dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif di mana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif. Puzzle merupakan salah satu alternatif media pembelajaran yang cocok untuk diterapkan pada peserta didik SMP kelas VII.

Baca juga:   Matematika Semakin Menarik dengan Media Tebak Angka

Puzzle merupakan permainan yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Manfaat dari bermain puzzle menurut Suciaty AlAzizy dalam bukunya Ragam Latihan Khusus Asah Ketajaman Otak Anak, adalah: (a) mengasah otak. Puzzle adalah cara yang bagus untuk mengasah otak anak, melatih sel-sel saraf dan memecahkan masalah. (b) melatih koordinasi mata dan tangan. Puzzle dapat melatih koordinasi tangan dan mata anak. Mereka harus mencocokkan kepingan-kepingan puzzle dan menyusunnya menjadi satu gambar. Permainan ini membantu anak mengenal bentuk, dan ini merupakan langkah penting menuju pengembangan membaca. (c) melatih nalar. Puzzle dalam bentuk manusia akan melatih nalar mereka. Mereka akan menyimpulkan dimana letak kepala, tangan, kaki dan lain-lain sesuai dengan logika. (d) Melatih kesabaran. Puzzle juga dapat melatih kesabaran anak dalam menyelesaikan suatu tantangan. (e) pengetahuan. Dari puzzle, anak akan belajar.

Pembelajaran dengan mengunakan puzzle lebih berkesan bagi peserta didik dibandingkan dengan pengetahuan yang diperoleh dengan cara menghafal. Tujuan pembelajaran pada materi Dinamika Interaksi Manusia salah satunya yaitu peserta didik mampu mengidentifikasi bentuk keragaman budaya Indonesia sebagai hasil dinamika interaksi manusia. Pada tema ini peserta didik harus mampu mengidentifikasi mulai dari keragaman suku, bahasa, budaya dan religi yang ada di Indonesia. Bukan hal mudah agar anak mampu mengingat begitu banyak budaya yang ada di Indonesia.

Baca juga:   Menjadi Master Chef dalam Pembelajaran Procedure Text

Puzzle merupakan permainan yang mudah dibuat oleh guru. Puzzle untuk pembelajaran materi ini dapat dibuat dengan menggunakan kertas manila. Guru mencari gambar-gambar keragaman suku maupun budaya yang ada di Indonesia kemudian mencetaknya dalam kertas manila. Kertas tersebut digunting sehingga membentuk sebuah puzzle.

Pada saat pembelajaran peserta didik diminta untuk berkelompok. Setelah guru menjelaskan pengantar materi mengenai keragaman social budaya sebagai hasil dinamika interaksi manusia, peserta didik diminta untuk menyusun puzzle yang diberikan oleh guru. Kemudian jika puzzle tersebut sudah jadi maka salah satu anggota kelompok menuliskannya di papan tulis dan menjelaskan mengenai gambar yang telah disusun dari puzzle tersebut. Yang paling cepat akan mendapatkan reward tambahan nilai dari guru. Hal ini membuat peserta didik secara tidak sadar diajak untuk membaca, belajar menjelaskan dan bekerjasama dalam menyusun puzzle. (pb1/ton)

Guru SMP Negeri 26 Depok

Author

Populer

Lainnya