Asyik Belajar Bulan dan Matahari dengan Discovery Learning

Oleh : Waryatun, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, TIDAK ada satu metode pun yang dianggap paling baik diantara metode-metode yang lain karena setiap metode mempunyai karakteristik tertentu dengan segala kelebihan dan kelemahan masing-masing. Suatu metode mungkin baik untuk suatu tujuan tertentu, pokok bahasan maupun situasi dan kondisi tertentu. Untuk menjadi seorang guru yang disenangi dan memberi semangat belajar siswa, selain dengan pengelolaan berbagai komponen pembelajaran, guru harus pintar dalam membuat strategi pembelajaran. Hendaknya guru juga menguasai berbagai kompetensi agar kemampuannya selalu optimal dalam melaksanakan proses pembelajaran dikelas.

Guru menjadi ujung tombak yang menjadi sukses tidaknya pembelajaran, sedangkan pembelajaran sendiri membutuhkna kejelian diantaranya : penggunaan metode yang menarik, penggunaan pendekatan, materi yang menarik dan tepat. Kali ini metode yang digunakan dalam pembelajaran SDN 01 Klegen kelas VI KD membuat model gerhana bulan dan gerhana matahari adalah metode discovery learning.
Metode pembelajaran discovery learning adalah Model pembelajaran discovery learning adalah model untuk mengembangkan cara belajar aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan. Melalui belajar penemuan, siswa juga bisa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri masalah yang dihadapi(Hosnan).

Baca juga:   Tingkatkan Kepedulian Lingkungan dengan Proyek Poster Pemanasan Global

Langkah-langkah pembelajaran discovery learning menurut Veerman antara lain : Satu, Orientation, guru memberikan fenomena yang terkait dengan materi yang diajarkan untuk memfokuskan siswa pada permasalahan yang dipelajari. Fenomena yang ditampilkan oleh guru membuat guru mengetahui kemampuan awal siswa. Kedua, Hypothesis Generation. Ketiga, Informasi mengenai fenomena yang didapatkan pada tahapan orientation digunakan pada tahapan hypothesis generation. Tahapan hypothesis generation membuat siswa merumuskan hipotesis terkait permasalahan. Siswa merumuskan masalah dan mencari tujuan dari proses pembelajaran. Sintaks hypothesis generation melatihkan kemampuan interpretasi, analisis, evaluasi dan inferensi. Masalah yang telah dirumuskan diuji pada tahapan hypothesis testing. Ketiga, Hypothesis Testing, hipothesis yang dihasilkan pada tahapan hypothesis generation tidak dijamin kebenaranya. Pembuktian terhadap hipotesis yang dibuat oleh siswa dibuktikan pada tahapan hypothesis testing. Tahapan pengujian hipotesis siswa harus merancang dan melaksanakan eksperimen untuk membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan, mengumpulkan data dan mengkomunikasikan hasil dari eksperimen. Keempat, Conclusion, kegiatan siswa meninjau hipotesis yang telah dirumuskan dengan fakta-fakta yang telah diperoleh dari pengujian hipotesis. Siswa memutuskan fakta-fakta hasil pengujian hipotesis apakah sesuai dengan hipotesis yang telah dirumuskan atau siswa mengidentifikasi ketidaksesuaian antara hipotesis dengan fakta yang diperoleh dari pengujian hipotesis. Tahapan conclusion membuat siswa merevisi hipotesis atau mengganti hipotesis dengan hipotesis yang baru. Sintaks conclusion melatihkan kemampuan menyimpulkan, analisis, interpretasi, evaluasi dan penjelasan. Kelima, Regulation ,tahapan regulation berkaitan dengan proses perencanaan, monitoring dan evaluasi. Perencanaan melibatkan proses menentukan tujuan dan cara untuk mencapai tujuan tersebut.

Baca juga:   Karakter dalam Pengajaran Bahasa Jerman

Manfaat dari penerapan metode ini adalah membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru pada peserta didik. (bp1/zal)

SDN 01 Klegen, Kabupaten Pemalang

Author

Populer

Lainnya