Virtual Laboratory sebagai Media Pembelajaran IPA di Masa Pandemi Covid -19

Oleh : Cipto Waluyo, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, SEIRING dengan perkembangan sain dan teknologi, teknologi kelas pun berkembang dengan cepat. Penerapan teknologi pada setiap bidang pembelajaran juga mengalami peningkatan, termasuk pemanfaatan teknologi yang disebut Laboratorium virtual. Laboratorium virtual ini bermunculan di sekolah-sekolah dengan pembelajaran berbasis internet di seluruh dunia. Hal ini sangat disadari dapat membuat para siswa untuk melakukan eksperimen jarak jauh dengan lebih mudah dan lebih murah. Virtual laboratory atau Vlab adalah proses pembelajaran elektronik dengan menggunakan simulasi komputer, Virtual laboratory media yang digunakan untuk membantu memahami suatu pokok bahasan dan dapat mensolusi keterbatasan atau ketiadaan perangkat laboratorium.

Kegiatan belajar mengajar di SMP Negeri 1 Ulujami pada masa pandemi Covid-19 ini menggunakan sistem Daring dengan media Google Classroom, WhatsApp sehingga ada beberapa kendala terkait dengan pelajaran IPA yang harus dilakukan melalui pengamatan atau praktik laboratorium. Materi terkait yang pembelajarannya melalui eksperimen laboratorium meliputi, Hukum Archimedes, Fotosintesis, Jaringan otot, Optik, PH Larutan, dan Hukum Ohm. Oleh karena itu pembelajarannya menggunakan media Virtual laboratory yang lebih muda dan lebih murah serta lebih aman.

Tujuan dari kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media Laboratorium virtual adalah agar siswa dapat melakukan eksperimen melalui laboratorium maya sebagai pengganti laboratorium nyata atau non virtual karena merebaknya Covid-19.

Baca juga:   Pembelajaran Penyelenggaraan Rapat di Masa Pandemi dengan Video Tutorial

Proses terjadinya fotosintesis pada tumbuhan hijau, bahwa kabondioksida yang diambil dari udara dan air yang diambil dari dalam tanah melalui akar dibawa pembuluh xilem ke daun, maka karbondioksida dan air tersebut akan bereaksi secara kimia yang terjadi pada daun yang berklorofil sehingga akan terjadi perubahan energi cahaya menjadi energi kimia dalam bentuk glukosa atau amilum secara umum orang menyebutnya sebagai pati atau zat tepung. Percobaan fotosintesis yang dilakukan oleh Sach membuktikan bahwa fotosintesis menghasilkan amilum atau zat tepung.

Alat dan bahan pada percobaan Sach, antara lain Aluminium foil, Beaker glass, Tabung reaksi, Gunting, Bunsen, Kaki tiga, Alkohol, Iodium/lugol, Tanaman berdaun dalam pot. Cara kerja meliputi Letakkan tumbuhan berdaun di tempat gelap 2-3 hari, Setelah itu pilihlah sehelai daun yang lebar, tutuplah sebagian permukaan daun dengan aluminium foil, Letakkan pot tersebut di tempat yang terkena cahaya matahari langsung selama 5 jam, Petiklah daun yang telah ditutup dengan aluminium foil tersebut, Rebuslah daun dalam air mendidih hingga layu, Rebuslah daun dalam alkohol panas untuk melarutkan klorofil, Cucilah daun di bawah air mengalir, Tetesilah daun dengan larutan lugol/iodium dan amati perubahan warnanya.

Hasil percobaan setelah daun ditetesi lugol/iodium, pada bagian permukaan daun yang terbuka tampak berubah menjadi biru kehitaman ini menandakan bagian tersebut terdapat amilum sebagai hasil fotosinteis, sedang permukaan daun yang tertutup tampak berwarna pucat menandakan bagian tersebut tidak terdapat amilum karena tidak berlangsung fotosintesis. Kesimpulannya, terbukti bahwa proses fotosintesis menghasilkan amilum atau zat tepung.

Baca juga:   Saintifik Dalam Pembelajaran Agama Katolik dan Budi Pekerti

Menurut tim Laboratorium Digital Arsitektur 2010, keunggulan laboratorium maya antara lain Mengandalkan peralatan komputer yang bersifat serbaguna dapat digunakan untuk menulis, menggambar hingga mensimulasikan fenomena nyata, Mempunyai kemampuan hampir tak terbatas dalam permodelan karena tidak tergantung oleh kondisi alam nyata, Relatif lebih murah pengadaan perawatan, dan operasionalnya, Relatif lebih aman dari bahaya api, gas, basah, Tidak membutuhkan tenaga kerja yang banyak untuk pengoperasiannya, Memberikan hasil perhitungan yang lebih akurat dan cepat.

Namun demikian dari kelebihan dan kelemahan tersebut pemilihan media Virtual laboratorium dimasa pandemi Covid -19 sebagai media pembelajaran masih sangat jauh berbeda dari laboratorium nyata atau non virtual,tetapi media tersebut sangat membantu pemahaman siswa dalam penanaman konsep fotosintesis, siswa dapat mengaplikasikan ilmu teknologi informasi dan komunikasi, sehingga walaupun proses pembelajaran jarak jauh siswa dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik. (pai1/zal)

Guru IPA SMPN 1 Ulujami, Kabupaten Pemalang

Author

Populer

Lainnya