Metode Pembelajaran Al-Qur’an bagi Siswa SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Al-Qur’an merupakan kitab suci ummat Islam yang membacanya bernilai ibadah. Ummat Islam setidaknya akan membaca satu surat dari Al-Qur’an dalam melaksanakan sholatnya, yaitu surat al-Fatihah. Bahasa Arab merupakan bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an. Meskipun tidak semua ummat Islam berlatarbelakang bahasa dan budaya Arab, namun bahasa Arab ini sudah lazim bagi ummat Islam di seluruh dunia untuk mengetahui setidaknya mengerti sedikit dari Al-Qur’an dengan cara menghafalkannya.

Tradisi membaca Al-Qur’an ini sudah sangat panjang, bukan hanya sekedar dibaca saat sholat saja, melainkan membaca Al-Qur’an ini juga bernilai ibadah. Al-Qur’an memerintahkan ummat Islam untuk “membaca Al-Qur’an secara perlahan dan jelas” (Q.S 73:4). Rasulullah pun memerintahkan “Percantiklah Al-Qur’an dengan suaramu” (H.R Abi Dawud). Bahkan di dalam hadis lain pun disebutkan mengenai pahala yang didapatkan dengan membaca Al-Qur’an, yakni setiap satu hurufnya akan mendapatkan 10 pahala.

Mengingat begitu pentingnya membaca Al-Qur’an bagi ummat Islam, maka sudah seyogyanya bagi kita untuk mengajarkan cara membaca Al-Qur’an yang baik dan benar kepada anak-anak selagi masih usia dini. Lantas bagaimana cara mengajarkannya?

Baca juga:   Guru BK dalam Transformasi Pendidikan di Era Digital

Setidaknya ada 4 metode yang akan penulis jelaskan di sini untuk mempermudah proses pembelajaran Al-Qur’an bagi anak-anak usia dini hingga usia sekolah dasar. Seperti yang diterapkan di SDN Wonobodro 03, Batang:

Pertama, metode tarkibiyah atau sintetik, yaitu pengajaran membaca yang dimulai dari pengenalan huruf hijaiyyah terlebih dahulu, kemudian diberi harakat/tanda baca lalu disusun menjadi sebuah kalimat. Metode ini dikenal juga sebagai metode alfabet. Contoh dari metode ini adalah metode baghdadiyah.

Kedua, metode shautiyyah atau bunyi, yaitu pengajaran membaca yang dimulai dengan bunyi huruf, bukan nama-nama huruf. Contohnya: Aa, Ba, Ta dan seterusnya. Contoh dari metode ini adalah metode iqro’ dan qiro’ati versi lama.

Ketiga, metode musyafahah atau meniru, metode ini merupakan perkembangan dari metode bunyi, yaitu peserta didik menirukan bacaan dari seorang guru sampai hafal. Contoh metode ini adalah metode tilawah.

Keempat, metode jaami’ah atau campuran, karena metode-metode yang telah disebutkan diatas ada beberapa kelemahan, maka sekarang banyak berkembangan metode pembaruan dengan metode campuran ini. Contoh dari metode ini adalah yanbu’a serta iqro’ dan qiro’ati versi revisi.

Baca juga:   Pembelajaran TKRO Sistem Suspensi Menggunakan Model Kontekstual

Masa usia dini hingga sekolah dasar merupakan masa-masa pertumbuhan bagi anak dari berbagai aspeknya. Apa yang diberikan dan diajarkan tentunya akan menjadi penentu pijakan bagi kehidupan setelahnya. Oleh karena itu, sedini mungkin anak-anak haruslah diajarkan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Sebenarnya masih banyak metode lain dalam mengajarkan Al-Qur’an bagi anak-anak, namun disini penulis hanya menuliskan metode yang dianggap mudah dan efektif. Diharapkan penjabaran singkat metode pembelajaran diatas bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih metode yang tepat bagi kondisi siwa-siswinya. (pai1/zal)

Guru PAI SDN Wonobodro 03, Batang

Author

Populer

Lainnya