Relevansi Kultur Sekolah dengan Kultur Induka

spot_img

RADARSEMARANG.ID. Ketimpangan kultur terjadi antara sekolah dan induka (industri dunia kerja) yang sering dikenal dengan DU/DI (dunia usaha/dunia industri). Idealnya induka mendirikan sekolah atau sekolah mempunyai induka (teaching factory) konsep dimana pembelajaran beorintasi pada bisnis dan produksi.

Tantangan pendidik untuk mewujudkan pernikahan masal (link and match) antara kultur sekolah dan kultur induka. Susahnya keluar dari zona nyaman terutama sekolah negeri, kultur yang sudah melekat susah untuk diubah. Kurikulum induka belum banyak diterapkan di sekolah, sehingga lulusan masih harus adaptasi dengan kultur induka.

Secara etimologis, budaya berasal dari bahasa Inggris yaitu kata “culture” Marvin Harris (1987). Mendefinisikan culture sebagai aturan yang dibuat masyarakat sehingga menjadi milik bersama, dapat diterima oleh masyarakat dan bertingkah laku sesuai dengan aturan. Dalam pandangan lain tentang budaya sekolah dikemukakan oleh Zamroni (2011), bahwa budaya sekolah merupakan pola asumsi dasar, nilai, keyakinan dan kebiasaan yang dipegang bersama warga sekolah. Diyakini dan telah terbukti untuk menghadapi berbagai problem dalam beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan integrasi internal. Sehingga asumsi dan pola nilai ini dapat diajarkan kepada anggota dan generasi baru agar mereka punya pandangan yang tepat untuk memahami dan berfikir, merasakan dan bertindak menghadapi berbagai situasi dan lingkungan yang ada (Zamroni, 2011:297).

Baca juga:   Belajar Tata Tertib dan Aturan Mudah dengan Metode Think Pair Share

Dari beberapa pendapat tersebut dapat ditarik simpulan, bahwa kultur sekolah merupakan aturan dibuat dan dilakukan bersama yang diyakini menjadi suatu budaya sekolah. Misalkan 7K (Keamanan, Kebersihan, Kekeluargaan, Keindahan, Ketertiban, Kerapian dan Kerindangan) merupakan kultur sekolah pada umumnya. Namun dalam pengembangan kultur sekolah belum relevan dengan kultur industri.

Salah satu langkah pemerintah melalui pendidikan vokasi : 9 paket “nikah masal” SMK-Induka/DUDI oleh kemendibud. Berharap SMK banyak diminati masyarakat dan Indonesia semakin mumpuni, semakin kuat yang akan menghasilkan talenta-talenta yang berdaya saing, berkualitas tinggi, daya dorong kemajuan bangsa, menguatkan Indonesia.

Kepala sekolah sebagai CEO perusahaan, guru/instruktur harus terbuka pada perubahan. Ke depan pendidikan vokasi Indonesia menjadi center of excellence di dunia yang lulusanya tidak diragukan lagi. Adapun paket pendidikan vokasi yang dimaksud meliputi: pertama, kurikulum disusun bersama industri, materi pelatihan dan sertifikasi di industri masuk resmi ke dalam kurikulum sekolah. Kedua, guru tamu dari industri rutin mengajar di sekolah. Ketiga, program magang yang terstruktur dan dikelola bersama dengan baik. Keempat, komitmen kuat dan resmi pihak industri menyerap lulusan. Kelima, program beasiswa dan ikatan dinas bagi siswa.

Baca juga:   Belajar Menyenangkan dengan Metode Fun Learning

Keenam, jembatan program dimana pihak industri memperkenalkan teknologi dan proses kerja yang diperlukan kepada guru, sertifikasi kompetensi bagi lulusan diberikan pihak industri. Ketujuh, sertifikasi kompetensi bagi lulusan diberikan oleh sekolah bersama industri. Kedelapan, riset bersama yaitu riset terapan dengan guru yang berasal dari kasus nyata di industri. Kesembilan, berbagai kegiatan atau “pernikahan” lainnya.

Bagaimana dunia pendidikan akan maju jika stake holder di dalamnya tidak mau keluar dari zona nyaman, terutama sekolah negeri yang dominan diminati masyarakat. Masyarakat akan lebih percaya jika sekolah negeri dapat mewujudkan “pernikahan masal” SMK-Induka/DUDI, kultur sekolah direlevansikan dengan kultur industri. Jangan sampai kalah dengan sekolah swasta yang justru sudah mengadakan “pernikahan dini”. Dengan arahan dan bimbingan kepala sekolah sebagai CEO industri, guru/instruktur terbuka pada perubahan dan semua pendukung pendidikan link and match maka lulusan akan tidak diragukan lagi. (fbs2/lis)

Guru Produktif Teknik Kendaraan Ringan (TKR) SMKN 1 Windusari, Kabupaten Magelang

Author

Populer

Lainnya