Peningkatan Komunikasi Matematika melalui TTW

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Sebagian besar peserta didik masih menganggap bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dipelajari dibanding dengan mata pelajaran lain. Banyak peserta didik yang mengalami kesulitan jika diberikan bentuk dan variasi soal yang berbeda dengan contoh yang diberikan oleh guru. Hal ini dikarenakan peserta didik hanya menghafalkan rumus dan tidak memahami konsep dengan baik. Rendahnya pemahaman konsep ini dimungkinkan karena matematika merupakan pelajaran yang penuh dengan konsep, kurangnya komunikasi peserta didik untuk mengungkapkan pendapatnya, atau penggunaan model pembelajaran yang kurang tepat.

Pada kenyataannya di SMA Negeri 1 Godong model pembelajaran yang digunakan oleh guru belum bisa meningkatkan komunikasi matematika peserta didik dengan maksimal. Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan komunikasi peserta didik dan diharapkan dapat meningkatkan pemahaman konsep pada pelajaran matematika adalah model pembelajaran Think Talk Write (TTW). Di sini model TTW diterapkan pada materi Statistika di kelas XI MIPA1.

Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW) adalah model pembelajaran yang dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (membaca, menyimak, mengkritisi, dan alternatif solusi), hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi, dan kemudian membuat laporan hasil presentasi. Sintaknya adalah informasi, kelompok, presentasi, diskusi, dan melaporkan. Belajar dalam kelompok kecil pada TTW memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memulai belajar secara aktif dalam diskusi kelompok dan akhirnya menuliskan hasil belajar yang diperolehnya dengan bahasanya sendiri. Adanya keterkaitan antara model pembelajaran TTW dengan komunikasi matematika dapat diketahui dari hubungan antara indikator komunikasi matematika dengan tahap-tahap pembelajaran dalam TTW.

Baca juga:   Model Mepe Jupem Gamrik Genjot Siswa Memahami Pecahan

Kegiatan Think Talk Write (TTW) dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan matematika. Membaca memiliki peran sentral dalam pembelajaran matematika, sebab kegiatan membaca mendorong peserta didik belajar bermakna secara aktif. Membaca diartikan sebagai serangkaian keterampilan untuk menyusun inti sari informasi. Pembaca tidak hanya sekedar menarik arti dari teks tetapi juga menggunakan pengetahuannya, minatnya, nilainya, dan perasaannya untuk mengembangkan makna. Hal tersebut akan mendorong tercapainya indikator kemampuan komunikasi matematika khususnya menggunakan kemampuan membaca, menulis, dan menelaah untuk menginterpretasi dan mengevaluasi ide matematika. Kegiatan berikutnya dalam TTW adalah mengomunikasikan hasil bacaannya dengan diskusi dan presentasi. Peserta didik mempelajari matematika seakan-akan mereka berbicara dan menulis tentang apa yang sedang mereka kerjakan, mereka diminta untuk memberikan ide-ide atau berbicara dan mendengarkan peserta didik lain dalam berbagi ide, strategi, dan solusi. Kegiatan ini mendorong tercapainya indikator kemampuan komunikasi matematika yaitu kemampuan mendiskusikan ide-ide matematika, menyusun argumen, merumuskan definisi dan generalisasi. Kegiatan terakhir adalah melaporkan hasil belajarnya dengan bahasa sendiri. Menulis mengenai matematika mendorong peserta didik untuk merefleksikan pekerjaan mereka dan mengklarifikasikan ide-ide mereka sendiri. Hal tersebut mendorong tercapainya indikator kemampuan komunikasi matematika yaitu kemampuan membaca, menelaah untuk menginterpretasi dan mengevaluasi.

Baca juga:   Pembelajaran Daring Menjadi Angin Segar untuk Muatan Lokal Bahasa Daerah

Penerapan model pembelajaran Think Talk Write (TWT) yang dilakukan di kelas XI MIPA1 sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan komunikasi matematika dan pemahaman konsep matematika peserta didik. Hal tersebut dikarenakan model TTW memberikan peluang kepada peserta didik berpikir melalui bacaan matematika dan mengkomunikasikan hasil bacaannya dengan diskusi dan presentasi. (ips2.2/ton)

Guru Matematika SMA N 1 Godong

Author

Populer

Lainnya