Metode Make A Match Tingkatkan Keaktifan dan Prestasi Belajar

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PENDIDIKAN Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) kerap dianggap mata pelajaran hafalan dan mudah bagi siswa. Ironisnya, justru masih banyak guru yang kurang kreatif dalam menerapkan model pembelajaran. Hal ini membuat siswa kurang aktif pada waktu mengikuti proses pembelajaran PPKn sehingga prestasi belajarnya menjadi rendah. Hal yang sama juga dialami oleh peserta didik SMA Negeri 2 Demak tahun pelajaran 2019/2020 kelas X IPS 1 yang berjumlah 37 peserta didik yang terdiri dari 21 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan.

Berdasarkan proses pembelajaran dan hasil belajar di awal pertemuan, diketahui yang aktif baru 17 siswa dan yang tuntas baru 20 siswa. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan 70. Kenyataannya rendahnya prestasi belajar PPKn tersebut perlu diperbaiki mengingat mata pelajaran PPKn merupakan mata pelajaran yang strategis dalam membentuk warga negara yang mampu memahami dan melaksanakan hak-hak dan kewajiban menjadi warga negara yang cerdas, terampil dan berkarakter seperti yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD Negara RI Tahun 1945 (Permendiknas RI tahun 2006) melalui tindakan yang akan dilakukan guru. Keaktifan dan prestasi belajar PPKn diharapkan meningkat baik rerata ulangan maupun ketuntasan belajar.

Baca juga:   Mind Mapping Upaya Peningkatan Pembelajaran Daring Mapel PPKn

Untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa, guru perlu menerapkan model pembelajaran Make A Match. Sedangkan prestasi adalah hasil interaksi antara beberapa faktor yang mempengaruhi individu baik dari dalam maupun dari luar individu yang bersangkutan. Menurut Oemar Hamalik (Metode Belajar dan Kesulitan Belajar, 1980:158), prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang atau siswa dari usaha belajarnya.

Prestasi belajar PPKn adalah hasil belajar optimal yang dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajaran PPKn berupa pengetahuan, sikap dan tingkah laku yang baik. Model Pembelajaran Make A Match merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran Make A Match adalah bentuk pengajaran dengan cara mencari pasangan kartu yang telah dimiliki dan pasangan bisa dalam bentuk orang per orang. Apabila jumlah siswa banyak, kemudian berhadapan untuk saling menjelaskan kartu yang dimiliki (Suprijono, 2011).

Langkah-langkah pembelajaran Make A Match meliputi, 1) guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa pertanyaan dan jawaban. Pertanyaan dan jawaban ini dibuat oleh guru sebelum proses belajar mengajar. 2) Guru membagikan kartu kepada siswa yang nantinya dengan kartu ini siswa akan mencari pasangan yang akan menjadi anggota kelompoknya. 3) Kartu dibagikan kepada siswa, kemudian setiap siswa mencari pasangan dari kartu yang mereka terima atau peroleh, misalnya pemegang kartu bertuliskan “kentongan” berpasangan dengan kartu “alat komunikasi tradisional”. 4) Siswa dapat bergabung dengan 2 atau 3 siswa lain yang memiliki kartu yang berhubungan dengan kartu yang ia pegang, misalnya pemegang kartu “kentongan” dan “lesung” bisa bergabung dengan pemilik kartu “alat komunikasi tradisional”.

Baca juga:   Pendidikan Kepemimpinan

Tujuan pembelajaran model Make A Match untuk melatih siswa agar lebih cermat dan lebih kuat pemahamannya terhadap materi pokok. Siswa dilatih berpikir cepat dan menghafal cepat sambil menganalisis dan berinteraksi sosial (Benny, 2009: 1001). Penerapan Make A Match dapat meningkatkan keaktifan siswa karena siswa mendapat pengalaman baru dan mendapat tantangan dalam belajar. Aktivitas siswa lebih terbuka yang berkorelasi pada peningkatan prestasi belajar siswa. (ips1/ida)

Guru PPKn SMAN 2 Demak

Author

Populer

Lainnya