Menghafal Mufrodad dengan Bersalawat

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran merupakan bagian penting dalam pendidikan. Pembelajaran merupakan proses berinteraksi antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan. Setiap guru menginginkan hasil yang terbaik bagi siswanya, tapi kenyataannya tidak semua harapan itu dapat terpenuhi, karena dalam kegiatan belajar mengajar diperlukan adanya keseimbangan dalam faktor-faktor pembelajaran yaitu tujuan, materi, metode, media pembelajaran dan penilaian.

Salah satu faktor terpenting dalam pembelajaran yaitu metode yang digunakan guru. Metode adalah salah satu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Penggunaan metode hendaknya disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai, materi pelajaran dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Seorang guru harus memperhatikan metode, ia harus mampu merangsang siswa sehingga siswa tertarik mempelajarinya.

Itu semua menunjukkan bahwa guru harus mengetahui, memahami, menguasai, dan menggunakan lebih dari satu metode selama pembelajaran agar dapat tercapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.
Bahasa Arab dalam Kurikulum 2013 Madrasah Ibtidaiyah merupakan mata pelajaran yang masuk dalam rumpun bahasa. Bahasa Arab adalah salah satu bahasa asing. Bahasa Arab dirasa sulit bagi siswa, karena belum terbiasa diajarkan sehari-hari sebagaimana bahasa Jawa atau bahasa Indonesia.

Baca juga:   Penilaian Hafalan Yang Efektif di Masa Pandemi

Siswa sering mengalami kendala dalam menghafal mufrodad. Apalagi bagi siswa kelas dua masih banyak yang belum bisa membaca tulisan Arab. Sedangkan metode ceramah dan metode drill sampai saat ini masih sering digunakan oleh guru. Materi yang asing membuat siswa merasa terbebani karena bersifat hafalan. Sehingga pelajaran bahasa Arab dirasa kurang menarik oleh siswa yang berakibat prestasi belajar tidak maksimal.

Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang dicapai setelah proses belajar mengajar prestasi belajar dapat ditunjukkan memalui nilai yang diberikan guru dari jumlah bidang studi yang telah dipelajari oleh siswa. Setiap kegiatan pembelajaran tentunya selalu diharapkan akan menghasilkan prestasi yang maksimal dan meningkatkan kompetensi siwa.

Berdasarkan permasalahan di atas sebagai seorang guru bahasa Arab kelas II di MI Nurul Huda Ampel mencoba menyiasati permasalahan ini dengan menggunakan metode menghafal mufrodad dengan bersalawat, dalam materi Afrodul Madrosah/Warga Sekolah. Metode ini merupakan salah satu model pembelajaran aktif yang penerapannya semua siswa terlibat aktif, melatih siswa untuk melibatkan emosi dan perasaannya, sehingga pembelajaran menjadi aktif, gembira, dan menyenangkan. Mereka tidak lagi terbebani hal-hal yang dianggapnya sulit.

Baca juga:   Belajar Wacana Eksposisi dengan menjadi Reporter

Langkah pertama mufrodad ditulis dipapan tulis, kemudian siswa menulis di buku tulis. Selanjutnya guru memberi contoh bacaan dan siswa menirukan bersama-sama, dan diulang sampai tiga kali. Setelah siswa lancar membaca, guru memberi contoh salawat yang dilagukan, kemudian siswa menirukan bersama-sama. Kemudian sambil melihat dipapan tulis mufrodad warga sekolah dibaca sambil bersalawat. Hal itu dilakukan berulang-ulang sampai siswa hafal dan faham. Langkah selanjutnya siswa maju satu-satu untuk menghafal mufrodad dengan beralawat.

Tak disangka siswa berebut untuk maju duluan, karena mereka merasa tertantang untuk mengekspresikan kemampuannya. Sambil menunggu urutan untuk maju mereka bersalawat dengan semangat.
Dengan strategi menghafal mufrodad dengan bersalawat pembelajaran menjadi menyenangkan. Peserta didik antusias mengikuti proses pembelajaran sehingga minat belajar meningkat. Dengan minat belajar yang tinggi, hasil belajar bahasa Arab mengalami peningkatan. Hal ini dibuktikan pada saat diadakan penilaian materi warga sekolah peserta didk yang tidak tuntas hanya hanya 14 persen, yang sebelumnya mencapai 51 persen. Dan persentase ketuntasan mencapai 86 persen. (ips1/lis)

Guru MI Nurul Huda Ampel

Author

Populer

Lainnya