Biasakan Berbahasa Krama Tanamkan Sopan Santun pada Diri Anak

spot_img

RADARSEMARANG.ID, ORANG Jawa dalam bergaul cenderung selalu menghormati orang lain dan berhati-hati dalam bersikap. Utamanya menjaga dalam bertutur kata agar jangan sampai menyinggung perasaan orang lain. Bahkan dapat menempatkan diri agar tidak terjadi konflik dengan orang lain. Semua itu, dapat terbentuk dan tertanam menjadi kepribadian mereka hanya dengan pembiasaan berbahasa krama dalam keluarga. Sungguh besar pengaruh berbahasa krama, jika diterapkan pada anak didik. Karena dengan sendirinya akan tertanam juga sikap sopan santun atau unggah-ungguh terhadap orang tua bahkan kepada semua orang.

Sebagai orang Jawa harus bangga mengunakan bahasa Jawa dalam komunikasi sehari-hari, karena dari sinilah akan mengenal unggah-ungguh (sopan-santun). Penggunaan bahasa Jawa ada empat macam atau tingkatan yaitu, ngoko, ngoko alus, krama dan krama alus. Berbicara dengan orang sebaya (seusia) menggunakan bahasa yang berbeda dengan berbicara kepada orang yang lebih tua. Tingkatan ini sama dengan besar kecilnya pemberian penghormatan terhadap lawan bicara.

Sekarang ini banyak kita jumpai siswa yang kurang memiliki sopan santun terhadap orang tua apalagi kepada teman seusia. Jika situasi seperti ini berangsur lama akan tumbuh dan terbentuk watak kepribadiannya yang tidak baik. Penanaman sopan-santun pada diri anak bukan hanya tugas guru saja, tetapi peran orang tua di rumah justru sangat besar pengaruhnya. Saat pandemi Covid-19 ini, pembelajaran di sekolah belum bisa dilaksanakan secara normal merupakan waktu yang sangat tepat untuk memberikan peran kepada orang tua dalam penanaman sopan-santun pada diri anak. Kebijakan stay at home mengembalikan tugas orang tua untuk mendidik anak-anaknya termasuk pendidikan karakter.

Baca juga:   Membuat Peta Pikiran dengan Menggunakan Media Gambar Bu Amat

Penulis sebagai pendidik di SDN Kutowinangun 01 Salatiga akan bekerja sama dengan orang tua siswa dalam mengamati, memotivasi, memberi arahan tugas penggunaan bahasa krama terhadap semua anggota keluarga di rumah masing-masing siswa kelas enam. Guru setiap sebulan sekali memantau dan mengevaluasi dengan cara meminta laporan dari orang tua dan mewawancarai siswa menggunakan bahasa krama melalui video call. Harapan guru agar anak-anak tumbuh sikap sopan santun kemudian lambat laun menjadikan anak memiliki budi pekerti yang luhur, memiliki kepedulian terhadap sesama serta tidak sombong.

Baru dua bulan berlangsung sudah kelihatan hasil yang benar-benar mencengangkan, banyak orang tua yang menghubungi guru mengucapkan terima kasih karena terjadi perubahan sikap anaknya menjadi lebih halus, jarang membantah kelihatan lebih santun. Ada juga laporan yang dulunya suka teriak-teriak sekarang berkurang bahkan jarang membantah. Begitu besar pengaruh bahasa krama terhadap terbentuknya karakter siswa terutama kesopan-santunan.

Semoga saja masa pandemi Covid-19 membawa manfaat yang besar bagi orang tua agar lebih memerhatikan pendidikan, dapat melakukan proses pendidikan bagi anak-anaknya terutama pembentukan kepribadian yang unggul, kuat, berakhlak mulia dan hidup dalam ridha Allah SWT. (ips1/ida)

Baca juga:   Belajar Pemrograman Berorientasi Objek dengan Aplikasi Quizizi

SDN Kutowinangun 01 Salatiga

Author

Populer

Lainnya