Perdalam Materi Saklar Otomatik dengan Probing-Prompting

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Kecakapan abad 21 yang perlu dimiliki oleh siswa adalah kecakapan berpikir, berkomunikasi, kreativitas, inovasi dan berkolaborasi. Untuk mendapatkan kecakapan tersebut diperlakukan diperlukan pengalaman belajar siswa yang bervariasi dan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran probing-prompting.

Model pembelajaran probing-prompting digunakan untuk menggali kemampuan berpikir siswa. Model pembelajaran merupakan model pembelajaran yang berbasis pertanyaan. Menurut arti katanya, probing berarti penyelidikan dan pemeriksaan. Sementara prompting memiliki arti mendorong atau menuntun.

Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pernyataan-pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan dan pengalaman siswa dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus harus berpartisipasi aktif, tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran setiap saat dia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab (Shoimin, 2014: 126).

Penerapan probing-prompting dalam pembelajaran Menerapkan Saklar Otomatis Berbasis Suhu dan Tekanan pada Mata Pelajaran Kontrol Refrigerasi dan Tata Udara kelas XI TPTU di SMK Negeri 2 Kendal dapat diterapkan beberapa langkah. Ada 6 langkah dalam penerapan model probing-prompting ini (Mayasari dkk, 2014: 57).

Baca juga:   Mengembangkan Motivasi Belajar Siswa pada Mapel PAI

Pertama, guru memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi saklar otomatis berbasis suhu dan tekanan yang sebelumnya telah dirancang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Kedua, guru memberikan waktu untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut kira-kira 1-15 detik sehingga siswa dapat merumuskan apa yang ditangkapnya dari pertanyaan tersebut.

Ketiga, setelah waktu untuk memikirkan jawaban selesai, guru memilih seorang siswa secara acak untuk menjawab pertanyaan tersebut. Keempat, jika jawaban yang diberikan siswa benar, maka pertanyaan yang sama juga dilontarkan kepada siswa lain untuk meyakinkan bahwa semua siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Namun jika jawaban yang diberikan salah, maka diajukan pertanyaan susulan yang menuntut siswa berpikir ke arah pertanyaan yang awal sehingga siswa bisa menjawab pertanyaan awal tersebut dengan benar. Pertanyaan ini biasanya menuntut siswa untuk berpikir lebih tinggi, sifatnya menggali dan menuntun siswa sehingga semua informasi yang ada pada siswa akan membantunya menjawab pertanyaan awal.

Kelima, meminta siswa lain untuk memberi contoh atau jawaban lain yang mendukung jawaban sebelumnya sehingga jawaban dari pertanyaan tersebut menjadi kompleks. Keenam, guru memberikan penguatan atau tambahan jawaban guna memastikan kepada siswa bahwa kompetensi tentang saklar otomatis berbasis suhu dan tekanan sudah tercapai. Langkah ini dimaksudkan juga untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa tentang materi tersebut.

Baca juga:   Mengasah Life Skills Siswa SMK melalui Prakerin

Dengan menggunakan model probing-prompting ini diharapkan akan dapat mendorong siswa berpikir aktif, memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas sehingga guru dapat menjelaskannya kembali. Apabila terjadi perbedaan pendapat para siswa dapat diarahkan pada diskusi sehingga dapat memusatkan perhatian siswa. Model ini bisa dijadikan cara meninjau kembali bahan pelajaran yang lampau. Selain itu, dengan menerapkan model ini dapat mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat. (dj1/lis)

Guru Mapel Produktif TPTU SMK Negeri 2 Kendal

Author

Populer

Lainnya