Pengaktivan MGMP Sekolah

Oleh: Heri Setiawan, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, MUSYAWARAH Guru Mata Pelajaran (MGMP) umumnya tergabung dalam tingkat se-Kota atau se-Kanim setempat. Dengan pola pelaksanaan yang dapat dilestarikan seperti sekarang, MGMP terasa benar manfaatnya karena berdaya dukung penuh bagi penguasaan dan pengayaan materi guru demi dapat membekali anak didik.

Di samping ada MGMP yang bersifat kewilayahan seperti yang dikemukakan, pada tingkat sekolah pun dapat dibentuk MGMP dengan peran khusus bagi ‘penyelamat’ jalannya pelajaran seharian penuh disekolah. Asumsinya, bila dalam satu sekolah terdapat empat guru Bahasa dan Sastra Indonesia dan satu di antaranya sedang penataran, sakit, atau minta izin karena aneka kebutuhan, maka jam pelajaran yang ditinggalkannya dapat diisi oleh guru lain yang seprofesi.

Untuk mempersiapkan kondisi yang siap saling mengisi antar-guru dalam pelajaran yang sama, hendaknya dalam satu sekolah tidak terkondisi guru hanya siap mengajar pada

Ciri-ciri materi yang esensial itu adalah: Materi yang jumlah jam tatap mukanya dalam GBPP cukup banyak. Materi yang kebersinambungannya dalam frekuensi tinggi. Di kelas X, XI dan XII SMA Negeri 2 Grabag, Kabupaten Magelang terus ada. Materi yang korelasinya terhadap mata pelajaran lain cukup tinggi.

Baca juga:   Youtube sebagai Media Pembelajaran Menulis Geguritan

Sisi tersertakan yang menjadi pertimbangan agar keberlangsungan sistem guru mengganti tugas teman yang lain ini efektif adalah pengaturan ke dalam, dalam arti terkait konvensi yang ditumbuhkan di dalam sekolah. Konvensi-konvensi itu misalnya: Mengganti memang bersifat suka rela. Mengganti tugas diberi imbalan oleh sekolah. Mengganti tugas dengan saling pengertian antara yang diganti dengan penggantinya sehingga kedua belah pihak serasa memikul beban dan peran masing-masing dengan enteng.

Untuk dapat melaksanakan mengaktifkan MGMP sekolah dalam peran yang ganda tadi yakni pelajaran bisa tuntas dan kelas tidak ramai, beberapa hal yang harus dipegang teguh adalah :
Jam pelajaran maju harus dicegah. Pada banyak sekolah sering terjadi jam maju. Yakni, bila misalnya pada jam pelajaran ketiga seharusnya Matematika, karena guru tidak hadir di sekolah, langsung saja pada jam itu diisi pelajaran berikutnya yaitu dengan jam pelajaran keempat.

Guru yang melaksanakan tugas mengganti guru yang tidak hadir harus terpanggil kesadarannya dengan melaksanakan tugas secara penuh. Artinya guru tidak mengerjakan sebatas hanya agar jam jangan kosong dan siswa berkeluyuran. Melainkan, guru mengajar karena kalau materi tidak disampaikan siswa akan kehilangan waktu, yang artinya pembahasan bagian tertentu terlampaui atau materi pelajaran tidak terselesaikan/tuntas.

Baca juga:   Meningkatkan Kompetensi dan Minat Bahasa Jepang melalui Shodo

Setiap setahun sekali (sekurang-kurangnya) guru bidang studi harus berkumpul untuk membahas materi pelajaran esensial. Sebagaimana kita ketahui, setiap mata pelajaran memiliki bagian materi ajar yang esensi dan memerlukan pembahasan lebih bersungguh-sungguh atau dalam frekuensi yang lebih banyak. Oleh karena itu, kalau dalam satu sekolah terdapat empat orang guru Matematika, keempatnya harus melakukan pembahasan tentang materi apa saja yang harus dimaksimalkan meliputi materi kelas X, kelas XI, dan kelas XII. (pai1/zal)

Guru SMA Negeri 2 Grabag, Kabupaten Magelang

Author

Populer

Lainnya