Dilema PAI dan Kemerosotan Moral di Era Digital

Oleh : Zumrotul Islamiah S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah menghadapi tantangan yang tidak ringan berkenaan dengan hadirnya teknologi digital yang berkembang pesat. Guru PAI yang mendapat amanat untuk mencetak generasi beriman dan beramal saleh, kini dituntut ekstra waspada. Pasalnya, pandemi Covid-19 yang melanda dunia telah mengubah banyak hal, termasuk berubahnya aturan teknis dunia pendidikan dengan pemanfaatan teknologi internet. Untuk mencegah penularan Covid-19 di lingkungan sekolah, Mendikbud menerbitkan surat edaran tertanggal 24 Maret 2020 yang mengatur pelaksanaan pendidikan pada masa darurat.

Untuk mencegah penularan Covid-19, muncul kebijakan belajar dari rumah dengan memanfaatkan internet. Kebijakan tersebut telah diterapkan di banyak sekolah yang terjangkau internet. Meskipun Kemendikbud telah membebaskan guru dari tuntutan capaian kurikulum baik untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. Namun sebagai pengampu mata pelajaran, guru PAI memiliki tanggung jawab moral untuk mengawasi dan membentengi anak didik agar terhindar dari kerusakan mental akibat serangan virus dunia maya yang mengancam setiap saat. Ketika anak-anak usia sekolah dasar (yang mentalnya masih labil) diberi keleluasaan untuk memegang gadget, maka tidak ada jaminan mereka akan steril dari pengaruh buruk dunia maya jiika tidak diarahkan secara bijak.

Baca juga:   Reading Guide Tingkatkan Hasil Belajar dalam Pembelajaran Kisah Sahabat Nabi

Bukan hanya kalangan praktisi pendidikan yang merasa cemas. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan pun ikut prihatin terhadap kondisi anak-anak Indonesia usia sekolah saat ini yang terancam berbagai macam kejahatan predator dunia cyber.

Kecemasan ini terkait dengan pandemi Covid-19 yang mengharuskan anak-anak belajar di rumah lewat dunia maya. Anak-anak berdampingan dengan internet, bukan saja pada saat belajar, tetapi juga dalam aktivitas lainnya. Hal tersebut berkemungkinan anak-anak akan terpapar virus pornografi/pornoaksi, bahkan menjadi korban kekerasan seksual jika dalam mengakses internet tidak diawasi secara memadahi dari guru dan orang tua (JawaPos.com).

Dampak negatif penyalahgunaan internet pernah menjadi salah satu pembahasan dalam konferensi tahunan Persatuan Guru dan Dosen, ATL, yang berlangsung di Belfast tahun 2014 . Keperihatinan ini terkait banyaknya waktu yang digunakan anak-anak dalam menggunakan komputer dan peralatan digital lain di luar sekolah. Sebagaimana diutarakan Emma Quinn Mark Langhamer, Direktur ATL Irlandia Utara, seperti dikutip BBC, kebiasaan tersebut menurut ATL, menyebabkan murid-murid menghadapi kesulitan untuk berkonsentrasi di sekolah dan tidak bisa bermain serta berinteraksi dengan baik. Langhamer menegaskan, para guru mengakui bahwa teknologi digital memberi keuntungan besar kepada murid-murid, tetapi perlu disadari dampak buruknya terhadap anak-anak. Maka perlu diambil tindakan untuk membuat lebih banyak orang tua yang sadar akan masalah itu.

Baca juga:   Alat Peraga Spimus Tingkatkan Belajar Volume Bangun Ruang

Peran orang tua dan guru sangat penting untuk mendampingi dan mengawasi anak-anaknya dalam mengakses internet. Diperlukan kerjasama yang kompak antara guru dan para orang tua untuk membantu dan mengedukasi anak dalam mengakses internet secara benar dan tepat guna. Sebatas yang diperlukan terkait dengan pembelajaran dan menghindarkan anak dari keterjerumusan dalam permainan yang sia-sia.
Jangan sampai niat membebaskan anak-anak dari virus Covid-19 justru memunculkan ancaman lain yang lebih membahayakan yakni pornografi yang berdampak pada kemerosotan moral anak-anak bangsa. Pembelajaran PAI di sekolah tidak cukup hanya bersifat teoritis (penyampaian pengetahuan) tetapi perlu diaplikasikan dalam tindakan nyata. (pai1/ida)

Guru PAI SDN Kedungmalang, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang

Author

Populer

Lainnya