Belajar Materi Makanan Mudah dengan Model SiBel

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi semakin mendorong upaya untuk meningkatkan mutu, efisiensi, dan efektivitas pendidikan nasional dan sedang dilaksanakan melalui perubahan kebijaksanaan pendidikan. Perubahan tersebut meliputi standarisasi, termasuk penyempurnaan kurikulum, sistem pengajaran, peningkatan kinerja guru serta pengadaan fasilitas dan sumber belajar. Usaha untuk keberhasilan proses belajar mengajar adalah dengan menerapkan strategi atau pendekatan pembelajaran yang efektif dan efisien, guna mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

Menurut Bektiarso, (1997:194) tujuan pembelajaran secara efektif dapat tercapai bila dalam proses belajar mengajar siswa mendapat pengetahuan dan pengalaman belajar yang bermakna. Hal ini dapat dicapai bila dalam pembelajaran melibatkan partisipasi aktif siswa.

Pembelajaran di SD Negeri 01 Wisnu kelas lima menunjukkan bahwa penggunaan penggunaan media dan metode pembelajaran belum bervariasi. Aktivitas belajar siswa masih kurang, sehingga hasil belajar IPA siswa masih kurang. Sedangkan metode yang biasa digunakan oleh guru adalah metode ceramah dan tugas. Oleh karena itu, diperlukan adanya model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Model pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah model Siklus Belajar (SiBel).

Dalam proses pembelajaran, seorang guru perlu menciptakan suasana kelas yang kondusif. Sehingga aktivitas belajar siswa tinggi dan hasil belajar siswa optimal. Model pembelajaran siklus merupakan salah satu model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Model pembelajaran siklus yang penulis praktikkan di SD Negeri 01 Wisnu pada kelas lima, yakni memiliki lima tahapan kegiatan pembelajaran. Tahap satu adalah tahap pembangkit minat. Pada tahap ini, guru berusaha membangkitkan dan mengembangkan minat dan keingintahuan siswa. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan tentang proses faktual dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, siswa akan memberikan respon/jawaban, kemudian jawaban siswa tersebut dapat dijadikan pedoman oleh guru untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang pokok bahasan.

Baca juga:   Pembelajaran Daring Materi HAM Lebih Seru melalui Go-Class

Tahap kedua, yakni eksplorasi. Pada tahap eksplorasi dibentuk kelompok-kelompok kecil antara dua sampai empat siswa, kemudian diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok kecil tanpa pembelajaran langsung dari guru. Dalam kelompok ini siswa didorong untuk menguji hipotesis dan atau membuat hipotesis baru, mencoba alternatif pemecahannya dengan teman sekelompok, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide atau pendapat yang berkembang dalam diskusi. Pada tahap ini guru berperan sebagai fasilitator dan motivator.

Tahap ketiga, yakni penjelasan. Pada tahap penjelasan, guru dituntut mendorong siswa untuk menjelaskan suatu konsep dengan kalimat/pemikiran sendiri, meminta bukti dan klarifikasi atas penjelasan siswa, dan saling mendengar secara kritis penjelasan antar siswa atau guru. Dengan adanya diskusi tersebut, guru memberi definisi dan penjelasan tentang konsep yang dibahas, dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar diskusi.

Tahap keempat, yakni elaborasi. Pada tahap elaborasi, siswa menerapkan konsep dan keterampilan yang telah dipelajar dalam situasi baru atau konteks yang berbeda. Dengan demikian, siswa akan dapat belajar secara bermakna, karena telah dapat menerapkan/mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya dalam situasi baru.
Tahap kelima, yakni evaluasi. Pada tahap evaluasi, guru dapat mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa dalam menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan evaluasi diri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban yang menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya. Hasil evaluasi ini dapat dijadika guru sebagai bahan evaluasi tentang proses penerapan siklus belajar yang sedang diterapkan, apakah sudah berjalan dengan baik, cukup baik, atau masih kurang.

Baca juga:   Belajar Klasifikasi Makhluk Hidup Asyik dengan Kartu Bergambar

Selama pelaksanaan pembelajaran materi makanan dengan model Siklus Belajar dengan metode eksperimen dapat dikatakan telah mengalami peningkatan dibandingkan dengan sebelumnya. Hal ini dapat dilihat mulai kegiatan awal, siswa agak tertarik dengan berbagai informasi guru tentang model pembelajaran Siklus Belajar dengan metode eksperimen. Hal tersebut tampak dari antusias siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan guru. Perolehan nilai rata-rata aktivitas siswa mengalami peningkatan. (ips2/aro)

Guru SD Negeri 01 Wisnu

Author

Populer

Lainnya