Asyik Berpantun dengan Strategi Gallery Walk dan Outdoor Classroom

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Salah satu bentuk puisi lama yang hingga kini dikenal luas oleh masyarakat Indonesia adalah pantun. Di antara sekian banyak jenis puisi lama lainnya seperti syair, seloka, gurindam, karmina, mantra, dan talibun, hanya pantunlah yang masih digunakan masyarakat kita dalam berbagai kesempatan.

Jika keberadaan pantun yang sudah lama hidup di masyarakat ini tidak kita jaga dan pelihara, bukan tidak mungkin suatu saat ia akan hilang seperti halnya bentuk puisi lama lainnya.

Karena itu, pantun perlu dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus agar tak tergerus oleh kemajuan zaman. Dalam upaya pelestarian itulah sejak dulu pantun menjadi salah satu materi pelajaran bahasa Indonesia pada struktur kurikulum pendidikan di Indonesia.

Dalam struktur Kurikulum 2013 materi pantun tercantum di kelas V SD dan kelas VII SMP. Salah satu kompetensi dasar pantun di SMP adalah KD 4.10 yaitu mengungkapkan gagasan, perasaan, dan pesan dalam bentuk puisi rakyat secara lisan dan tulis dengan memperhatikan struktur, rima, dan penggunaan bahasa. Berdasarkan kompetensi dasar tersebut siswa diajak untuk terampil mencipta puisi rakyat, di antaranya pantun, baik secara lisan maupun tulisan.

Baca juga:   Belajar PKn yang Menyenangkan melalui Jigsaw

Agar suasana pembelajaran tidak membosankan dan monoton, penulis menggunakan strategi gallery walk (pameran berjalan) dan outdoor classroom (di luar kelas) untuk pembelajaran pantun di kelas VII SMPN 19 Depok. Gallery walk adalah strategi pembelajaran aktif berbasis kelas dimana siswa didorong untuk membangun pengetahuan mereka tentang topik atau konten untuk mempromosikan pemikiran tingkat tinggi, interaksi, dan pembelajaran kooperatif (Wikipedia). Sedangkan outdoor classroom adalah pembelajaran dengan menempatkan lingkungan luar kelas sebagai tempat, sarana, dan sumber belajar.

Langkah awal penulis dalam penerapan strategi ini adalah dengan membagi mereka ke dalam beberapa kelompok, lalu mengundi tema pantun yang akan ditulis oleh masing-masing kelompok. Kemudian mereka menulis pantun berdasarkan tema tersebut dengan memperhatikan syarat-syarat pantun. Selesai menulis, pantun tersebut disalin di kertas post it warna-warni yang sudah dibagikan guru. Lalu ditempel di kertas plano atau HVS, selanjutnya dipasang di bagian dinding kelas yang kosong dengan jarak antarkelompok cukup jauh.

Selanjutnya, masing-masing anggota kelompok saling berkunjung melihat pantun yang dipajang di dinding kelas itu. Setiap siswa harus memberikan satu tanda bintang hanya pada kelompok yang mereka nilai paling baik dilihat dari segi isi, kesesuaian syarat, dan kerapian penulisan. Kelompok yang mendapatkan tanda bintang terbanyak, itulah kelompok terbaik yang akan mendapatkan reward dan nilai terbaik dari guru.

Baca juga:   Asyiknya Berpantun dengan Sticky Notes pada Google Jamboard

Pada pertemuan berikutnya semua siswa diajak belajar di luar kelas. Mereka duduk melingkar di bawah pohon jambu, lalu secara berkelompok mendemonstrasikan pantun yang sudah dibuat pada pertemuan sebelumnya. Semua siswa menggunakan kostum sederhana khas Betawi karena sekolah penulis berada di lingkungan masyarakat Betawi. Siswa laki-laki mengenakan peci dan mengalungkan sarung di leher mereka. Siswa perempuan menggunakan selendang panjang dengan warna mencolok yang digunakan sebagai penutup kepala. Pembelajaran pun berlangsung penuh kegembiraan.
Dengan gallery walk dan outdoor classroom, pembelajaran pantun menjadi lebih menyenangkan. Siswa terlihat antusias dan gembira mengikuti pelajaran hingga selesai. Melalui gallery walk siswa belajar menghargai karya orang lain serta termotivasi untuk berkarya lebih baik. Sedangkan penerapan strategi Outdoor classroom ternyata mampu mengatasi kebosanan siswa dalam belajar. Dengan suasana belajar yang berbeda, motivasi belajar siswa pun lebih terbangun. (bp2/lis)

Guru Bahasa Indonesia di SMPN 19 Depok, Jabar

Author

Populer

Lainnya