Tetap Asyik dengan Statistika Mengisi Piringku untuk Ketahanan Pangan Keluarga

spot_img

RADARSEMARANG.ID, STATISTIKA adalah pengetahuan yang berkaitan dengan metode, teknik atau cara mengumpulkan, mengolah, menganalisis dan menginterprestasikan data untuk disajikan secara lengkap dalam bentuk yang mudah dipahami penggunanya.

Pembelajaran Statistika saat kondisi normal pada umumnya dilakukan dengan data sudah tersedia. Pada masa pandemi Covid-19 ini materi Statistika sangat tepat diberikan dengan Pembelajaran Kontekstual, siswa lebih diberi kesempatan untuk mendapatkan data, menyusun, mengolah sendiri bahkan mengambil kesimpulan mandiri.

Pembelajaran Kontekstual atau CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata pembelajar dan mendorong pembelajar membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat, serta pengetahuan yang diperoleh dari usaha peserta didik mengonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar. (Saefudin, Berdiati 2016: 20).

Dunia tengah menghadapi pandemi virus Corona. Wabah ini diprediksi bisa menimbulkan masalah baru: krisis pangan. Seruan bercocok tanam di Indonesia pun mulai digaungkan.
Presiden Joko Widodo atau Jokowi telah menyampaikan peringatan ancaman krisis pangan itu kepada jajarannya. Jokowi mengacu kepada pernyataan FAO atau Organisasi Pangan dan Pertanian.
Aksi gerakan menanam ini juga mudah dilakukan cukup dengan memanfaatkan bahan bekas, seperti botol bekas, kaleng, dan dipadukan dengan sistem hidroponik. Dia menyarankan masyarakat menanam tanaman masa panen cepat, seperti sayuran, cabe, tomat, dan singkong dan lain-lain.
Menindaklanjuti seruan dari presiden ternyata sangat tepat diterapkan pada masa pandemi dan sesuai dengan materi Statistika Kelas VII Semester 2.
Bagaimana Pembelajaran Kontekstual materi Statistika diberikan pada siswa dengan kondisi tidak dapat bertatap muka langsung?

Baca juga:   Microsoft Teams Penunjang Pembelajaran Matematika Jarak Jauh saat Pandemi Covid-19

Siswa diminta mempelajari buku paket materi Statistika (Penyajian Data). Kemudian siswa diminta untuk menanam tiga tanaman dengan tinggi sama atau biji tanaman yang ada di sekitarnya (mudah didapatkan) pada tanah atau pot. Tempat menanam diberi kebebasan bisa dari botol bekas, kaleng bekas, bungkus kemasan atau tampat lain. Hal ini menggunakan prinsip Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya dan Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah.

Setiap pot diberi label yang berbeda. Pot I: Tanaman tidak diberi pupuk diletakkan pada tempat teduh. Pot II: Tanaman diberi pupuk diletakkan pada tempat teduh dan Pot III: Tanaman diberi pupuk dan diletakkan terkena cukup sinar matahari. Tentu ketiga tanaman harus disiram yang cukup.
Selanjutnya siswa melakukan pengamatan, mengukur dan mencatat tinggi serta perkembangan tanaman. Kegiatan ini bisa dilakukan sehari satu kali atau dua hari sekali bergantung pada jenis tanaman.

Hasil pengamatan dicatat dalam bentuk tabel kemudian disajikan dalam diagram batang dan garis. Selanjutnya siswa diminta untuk menyimpulkan dari Pembelajaran Kontekstual ini.

Baca juga:   Belajar Kubus dan Balok dengan Model PjBL dalam Moda Daring

Langkah-langkah kegiatan, hasil pengamatan, diagram batang, diagram garis dan foto tanaman dikirim melalui google form. Tentu interaksi antar siswa dan komunikasi antara siswa dengan guru, untuk memberikan umpan balik maupun diskusi tetap terjalin melalui WAG.

Ternyata 80% siswa mampu mengerjakan Pembelajaran Kontekstual ini dengan senang dan mampu mengumpulkan, mengolah, menganalisis dan menginterprestasikan data untuk disajikan secara lengkap dalam bentuk yang mudah dipahami penggunanya.

Tanaman akan tumbuh dan berkembang baik jika pemupukan dan terkena sinar matahari yang cukup.
Bahkan keluarga sangat mendukung karena ternyata hasilnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari membantu ketahanan pangan dalam keluarga (Mengisi Piringku). Sebagian siswa 10%, mengalami kegagalan karena tanaman mati, dimakan ayam, lupa tidak disiram dan lain-lain. Sedangkan 10% siswa lainnya sekedar menanam tetapi tidak melakukan kegiatan sesuai dengan yang diharapkan.
Pembelajaran Kontekstual yang diterapkan di SMPN 2 Brangsong, Kendal, sangat memberikan makna dan pengalaman bagi siswa untuk bekal kehidupan mereka nanti. Dukungan keluarga dan lingkungan yang baik akan menghantarkan mereka pada kesuksesan. (dj2/zal)

Guru Matematika SMPN 2 Brangsong Kendal

Author

Populer

Lainnya