Kenali Bilingualisme Anak Didikmu

spot_img

RADARSEMARANG.ID, BILINGULISME pada anak Sekolah Dasar (SD) dapat dilihat dari keseharian berbahasa anak di lingkungan interaksi sosialnya, baik di keluarga, sekolah, dan masyarakat tempat hidupnya. Pemerolehan bahasa anak tergantung pada luas lingkup interaksi sosialnya, semakin luas lingkupnya semakin banyak bahasa yang dipelajarinya.

Pada kasus yang terjadi di SDN Wonokerso 01, seorang anak berbilingualisme karena beberapa faktor. Lingkungan keluarga dan masyarakat memberi pengaruh paling besar dalam pemerolehan bahasa ibu (bahasa pertama) anak. Lingkungan sekolah sedikit memengaruhi karena tuntutan pembelajaran yang mengharuskan anak menguasai suatu bahasa demi kelancaran proses belajarnya.

Menurut Grosjean (1989) bahwa bilingual adalah seseorang yang dapat berfungsi di masing-masing bahasa sesuai dengan kebutuhan yang diberikan. Artinya seorang anak yang hanya memahami beberapa kosakata suatu bahasa atau memahami kosakata tetapi tidak mengetahui fungsinya maka dia tidak dapat dikatakan bilingual.

Pengertian ini akan memberikan gambaran jelas bagi anak di SDN Wonokerso 01 yang meskipun belajar juga bahasa Jawa dan bahasa Inggris, tetapi belum dapat dikatakan bilingual untuk kedua bahasa tersebut karena keterbatasan pemahaman mereka. Dalam konteks pemahaman bahasa Jawa di sini yaitu bahasa Jawa formal yang digunakan dalam buku-buku teks pelajaran yang berbeda dengan bahasa Jawa yang mereka gunakan dalam interaksi sehari-hari. Bahasa Jawa anak dalam keseharian dipengaruhi oleh dialek dan ragam bahasa setempat, yang mengandung kosakata berbeda dengan bahasa formal, meskipun sebagian ada kemiripan dialek dan ragamnya.

Baca juga:   Kreativitas Pembelajaran Ragam Hias di Masa Pandemi

Penelitian ini bertempat di kelas IV SDN Wonokerso 01 Kecamatan Kandeman Kabupaten Batang, dengan jumlah siswa laki-laki 7 anak dan perempuan 8 anak pada Tahun Pelajaran 2019/2020. Metode yang digunakan adalah observasi langsung selama pembelajaran berlangsung oleh guru dan wawancara terhadap anak di luar jam pembelajaran.

Indikator cara pemerolehan bahasa anak berkategori Baik, jika sering digunakan dalam interaksi sosialnya di lingkungan tersebut. Kategori Sedang jika tidak sering digunakan dalam interaksi sosialnya di lingkungan tersebut. Kategori Kurang jika jarang atau tidak pernah digunakan dalam interaksi sosialnya di lingkungan tersebut.

Indikator penguasaan bahasa anak berkategori Baik jika anak mampu mengomunikasikan sangat lancar dan sering menggunakannya dalam interaksi sosialnya. Kategori Sedang jika anak mampu mengomunikasikannya cukup lancar dan/atau menggunakannya dalam interaksi sosialnya. Kategori Kurang jika anak tidak mampu mengomunikasikannya dan/atau tidak pernah menggunakannya dalam interaksi sosialnya.

Indikator peran guru berkategori Baik jika sering menggunakannya dalam interaksi pembelajaran di kelas dan non pembelajaran dengan anak dan memberi penguatan. Kategori Sedang jika beberapa kali menggunakannya dalam interaksi pembelajaran di kelas dan non pembelajaran dengan anak dan memberi penguatan. Kategori Kurang jika jarang atau tidak pernah menggunakannya dalam interaksi dengan siswa.

Baca juga:   Parafrase Puisi dengan Model TPS

Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan yang dilakukan oleh guru selama pembelajaran satu semester dengan memperhitungkan indikator dan frekuensi serta intensitas penggunaan bahasa didapat hasil sebagai berikut.

Pemerolehan bahasa anak dapat disimpulkan secara umum anak memperoleh bahasa pertama baik dan bahasa kedua dan ketiga sedang, serta kurang dalam perolehan bahasa keempat.
Penguasaan bahasa anak dapat disimpulkan secara umum penguasaan anak berkategori baik untuk bahasa pertama dan kedua, sedang untuk bahasa ketiga, dan kurang menguasai bahasa keempat. Peran Guru dapat disimpulkan secara umum peran guru baik dalam interaksi dengan bahasa pertama dan kedua, sedang untuk bahasa ketiga, tapi kurang untuk bahasa keempat. (dj1/ida)

Guru di SDN Wonokerso 01 Kandeman, Batang

Author

Populer

Lainnya