Pemanfaatan Media Sosial untuk Pembelajaran dari Rumah bagi Siswa SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Dunia saat ini menghadapi pandemi global yang disebabkan penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19). Merespon pandemi global Covid-19 ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Covid-19. Salah satu isinya adalah kebijakan untuk melaksanakan proses Belajar dari Rumah (BDR).

Salah satu media yang dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan BDR adalah menggunakan sosial media. Saat ini, banyak sosial media yang sudah dimanfaatkan oleh masyarakat di antaranya Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, Whatsapp, dll.

Menurut Kak Seto, penggunaan ponsel secara pribadi sebaiknya diberikan pada anak yang sudah berumur 16 tahun. Mengingat tidak ada batasan yang pasti kapan usia ideal bagi anak untuk memiliki ponsel sendiri, pada akhirnya para orang tua pun memiliki keputusan masing-masing. Dalam praktiknya, tentu akan lebih bijaksana bila para orang tua memperhatikan faktor usia dan kesiapan anak dalam kepemilikan ponsel sendiri.

Dalam masa darurat pandemi global Covid-19, para guru berkreasi memanfaatkan media sosial untuk melaksanakan BDR. Bagaimana agar pemanfaatan media sosial dalam masa BDR tetap aman bagi siswa? Mutlak diperlukan kerjasama dengan orang tua dalam implementasinya. Inilah saatnya peran orang tua untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran di rumah. Pemanfaatan media sosial untuk pelaksanaan BDR bagi siswa SD, menurut hemat penulis, bersifat sementara dalam masa darurat pandemi global Covid-19.

Baca juga:   Pesan Elektronik Sarana Pemberian Tugas Selama BDR

Pemanfaatan media sosial dalam masa BDR bagi siswa SD, digunakan oleh guru SD Negeri 1 Kutosari Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan dalam memberikan informasi terkait dengan materi pembelajaran yang harus diberikan, pelaporan tugas siswa oleh orang tua siswa dll. Teknis pemanfaatannya di lapangan, tentu saja wali kelas harus membentuk grup di media sosial yang beranggotakan wali kelas dan semua orang tua siswa. Catatan penting adalah grup media sosial yang dibuat wali kelas ini beranggotakan orang tua siswa, bukan siswa! Di sini peran penting orang tua untuk memperhatikan dan mengikuti tumbuh kembang anak dalam proses pembelajaran sehari-hari, tidak sepenuhnya menyerahkan urusan pendidikan kepada guru di sekolah. Proses pendidikan pada hakikiatnya tidak hanya siswanya yang belajar, orang tua pun perlu belajar ulang. Belajar ulang disini tentu saja lebih pada tanggung jawab orang tua untuk mendidik dan membesarkan anak sesuai dengan tuntunan agama. Tidak ada salahnya bagi orang tua siswa untuk kembali belajar ulang demi buah hati tercinta.

Baca juga:   Pemanfaatan Media Sosial dalam Pembelajaran Daring

Sesuai edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020, proses BDR dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan, dan proses BDR dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup. Melihat penjelasan di atas, para guru bisa memberikan tugas yang bervariasi, tidak fokus hanya pada materi mata pelajaran semata. Pemberian tugas terkait pendidikan kecakapan hidup tentu akan memberikan pengalaman bermakna bagi siswa seperti praktik membuat prakarya sederhana, masakan, kue, atau membantu orang tua membersihkan rumah dll. (pai1/ton)

Guru Kelas SD Negeri Kutosari Kec. Doro, Kab. Pekalongan

Author

Populer

Lainnya