Permainan Tradisional sebagai Referensi Pembelajaran Menyenangkan

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Di era digital ini, pendidikan berdampak besar pada mutu dan kemajuan manusia. Namun, salah satu hal yang perlu dicermati adalah belum optimalnya kemampuan dan motivasi peserta didik berbicara di depan kelas.

Permainan tradisional ialah celah yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya kreatif, aktif, dan berpikir kritis peserta didik. Selain peserta didik dapat melakukan aktivitas secara individu maupun kelompok yang saling berinteraksi untuk memperoleh kesenangan. Permainan tradisional memiliki peran vital bagi pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan selanjutnya, karena dunia anak adalah dunia bermain.

Permainan yang dapat dikolaborasikan dengan pembelajaran salah satunya adalah engklek. Engklek merupakan permainan tradisional lompat–lompatan pada bidang datar yang digambar di atas tanah, kemudian melompat dengan satu kaki dari kotak satu ke kotak berikutnya.

Karena dilakukan di kelas, permainan engklek dibuat menggunakan bahan vanel yang dapat dilipat menjadi tas sehingga dapat dibawa ke mana-mana dan dimainkan di manapun. Alat bahan yang digunakan yaitu tujuh jenis warna kain fanel ukuran 50cm x 50cm (bahan dapat diganti bahan bekas lain), kancing bekas, perekat satu meter, dan lem.

Baca juga:   Belajar Trignometri dengan Metode Field Trip

Cara bermainnya peserta didik merangkai kata-kata kesimpulan dalam bentuk tulisan melalui pendekatan yang telah ditentukan bersama guru. Kemudian peserta didik berbicara di depan kelas. Untuk memacu motivasi peserta didik, maka disampaikan secara lisan sambil bermain engklek.

Selanjutnya setiap kelompok terdiri dari 5 sampai 6 peserta didik melakukan permainan mulai dari hompimpa, lalu yang menang mulai main dengan melempar gaco mulai dari angka 1. Salah satu peserta didik yang tidak main menulis skor serta membacakan soal pada setiap kotak yang terdapat gaconya,.

Berikutnya mereka engklek atau loncat satu kaki pada setiap kotak mulai dari nomor 2 sampai nomor 6. Berdiri dengan dua kaki kemudian mulai menyampaikan jawaban nomor 1 yang dibacakan oleh tim penulis. Terakhir, bagi peserta didik yang dapat menjawab setiap kotak diperbolehkan melempar gaco ke kotak berikutnya dan menjawab soal berikutnya sampai pada kesimpulan.

Engklek bukan saja mengenalkan anak tentang kearifan lokal, tetapi juga terkait dengan pengembangan kecerdasan majemuk siswa. Di antaranya kecerdasan bodily, yaitu kemampuan keseimbangan tubuh siswa yang dapat membantu untuk perkembangan kecerdasan kinestetik anak. Kedua adalah kecerdasan interpersonal yang bertujuan melatih keterampilan sosial peserta didik dalam berkompetisi, negosiasi, komunikasi dan empati yang baik. Ketiga, kecerdasan intrapersonal, hal ini tercermin saat menunggu giliran main sehingga melatih kesabaran dan pengendalian diri serta konsentrasi dan manajemen berpikir dengan baik. Terakhir adalah kecerdasan naturalis, tercermin pada bahan yang ramah lingkungan serta pemanfaatannya mudah dan bisa dilaksanakan di alam terbuka sebagai ungkapan syukur atas anugrah Tuhan YME.

Baca juga:   Take and Give Tingkatkan Hasil Belajar Prakarya

Namun, agar permainan tradisional bisa digunakan sebagai media kolaborator dalam pembelajaran yang menyenangkan, dibutuhkan pendidik kreatif, inovatif serta berkomitmen tinggi demi kemajuan bangsa. Sehingga permainan tradisional dapat terjaga, dan serta menjadi aset kekayaan bangsa serta siswa bisa belajar dengan senang. (ips1/ton)

Guru SD Negeri Wonosari 02 Semarang

Author

Populer

Lainnya