Asyik Belajar Lompat Jauh dengan Batik

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan merupakan salah satu sarana yang berpengaruh besar dalam membentuk sumber daya manusia berkualitas. Sebagai salah satu ujung tombak pendidikan nasional, guru berperan penting supaya bisa mewujudkan generasi unggul. Di SDN Soronalan 1, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, saya selaku guru olah raga ingin mewujudkan bahwa olah raga tidak sekadar menyenangkan karena olah raga bermuatan rekreasinya, tetapi juga dapat menjadi mapel yang dapat menciptakan siswa unggul dan berkepribadian. Untuk itu saya menerapkan strategi Batik (Berkarakter, Aktif, Kreatif, dan Kompetitif) dalam pembelajaran lompat jauh di kelas 5 SDN Soronalan 1, Kecamatan Sawangan.

Lompat jauh bisa mencetak pribadi yang jujur dan sportif. Jujur dalam setiap tindakan menjadi modal meraih kesuksesan sejati di masa depan, dan sportif mampu menyiapkan mental yang tidak hanya siap menang, melainkan juga siap menerima kekalahan atau kegagalan. Kedua karakter dasar dalam lompat jauh ini akan bisa mewujudkan siswa unggul di masa datang. Di samping itu, lompat jauh merupakan materil yang membutuhkan aktifitas fisik dan juga spikis.

Kemampuan siswa dalam melakukan aktifitas diakhir masa kanak- kanak biasanya dipengaruhi oleh keluarga. Diusia sekolah dasar biasanya termotivasi oleh diri sendiri. Mereka bersaing dengan diri sendiri dan mereka senang membuat rencana kedepan, mencapai usia 12 tahun, mereka termotivasi oleh dorongan di dalam diri, bukan karena kompetisi dengan teman sebaya. Mereka senang berbicara, berdiskusi mengenai berbagai subjek dan berdebat (Koziier, Erb, Berman, & Snyder, 2011). Dengan pola aktifitas seperti itu maka siswa akan lebih aktif dalam melakuakan kegiatan khususnya pada aspek motorik.

Baca juga:   Tingkatkan Hasil Lompat Jauh dengan Manfaatkan Ban Bekas

Selama ini lompat jauh dipandang sebelah mata dengan anggapan bahwa lompat jauh hanya kegiatan fisik saja, namun hal itu tidak selamanya benar. Lompat jauh juga membutuhkan daya pikir yang tinggi misalnya saat melangkah, melompat, dan berlari. Hal ini menjadi tantangan guru lompat jauh untuk berkreatifitas menciptakan metode belajar yang baik, sehingga dapat menciptakan siswa yang tidak hanya sehat secara jasmani melainkan juga seara rokhani. Menurut Kohlberg, beberapa anak usia sekolah masuk pada tahap I tingkat pra-konvensional Kohlberg (Hukuman dan Kepatuhan), yaitu mereka berupaya untuk menghindari hukuman, akan tetapi bebrapa anak usia sekolah berada pada tahap 2 (Instumental-Relativist orienttion). Anak – anak tersebut melakuakan berbagai hal untuk menguntungkan diri mereka. (Kozier, Erb, Berman, &Snyder, 2011). Berdasarkan pada teori tersebut guru olah raga mempunyai tanggung jawab untuk memancing kreatifitas siswa dalam pelajaran lompat jauh, sehingga bisa melompat jauh dan mendarat dengan cantik.

Pelajaran lompat jauh mencetak siswa unggul dalam karakter, aktif dalam melakukan lompat jauh, serta kreatif untuk mencipta cara lompat jauh yang menarik, serta menumbuhkan semangat berkompetisi. Kompetisi bagi siswa diperlukan guna menyongsong masa depan yang lebih cemerlang. Ketertarikan mereka pada diri sendiri, harus lebih dikontrol dengan adanya jiwa kompetisi pada diri mereka sehingga dapat bersaing dengan siswa lain.

Baca juga:   Mini Riset, Meningkatkan Kepedulian Siswa terhadap Lingkungan

Dengan demikian pembelajaran lompat jauh di SDN Soronalan 1, kecamatan Sawangan, kabupaten Magelang dengan strategi Batik, paling tidak ikut andil dalam menciptakan generasi masa depan yang unggul dan siap berdaya saing di kancah yang lebih luas. (ud2/ton)

Guru Olah Raga SDN Soronalan 1 Kec. Sawangan, Kab. Magelang

Author

Populer

Lainnya