Tingkatkan Kemampuan Menulis Kalimat Efektif dalam Naskah Pidato melalui “Si Koko”

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pesatnya perkembangan teknologi informasi yang ditandai dengan meluasnya penggunaan jaringan internet dan berbagai aplikasi media sosial, berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Di antara sekian banyak pengaruh yang ditimbulkan oleh kemajuan IT adalah bidang kebahasaan.

Penggunaan bahasa di media sosial (medsos) memberikan pengaruh pada kemampuan berbahasa Indonesia para remaja di Indonesia. Tak ada sanksi bagi mereka yang melanggar aturan kebahasaan di media sosial.

Akibatnya, mereka terbiasa berbahasa tanpa aturan. Penggunaan bahasa medsos yang notabene tidak begitu mengindahkan kaidah bahasa Indonesia pun berimplikasi negatif pada penggunaan bahasa siswa di sekolah, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis.

Hal itu terlihat dalam tugas-tugas yang mereka kerjakan, seperti hasil pengamatan penulis pada saat mereka menulis teks pidato di kelas IX semester 1. Pada kompetensi dasar keterampilan 4.4. tentang menulis teks pidato, peserta didik dituntut untuk mampu menulis teks pidato dengan struktur dan bahasa yang tepat. Tapi praktiknya, tak satu pun siswa yang tidak melakukan kesalahan. Ini artinya 100 persen siswa melakukan kesalahan, terutama kesalahan berbahasa seperti penggunaan tanda baca, ejaan, kosa kata, dan kalimat efektif.

Baca juga:   Merancang Novel dengan Three Act Story Structure

Berdasarkan temuan tersebut tentu saja penulis tak bisa menutup mata dan mengabaikannya. Penulis tertantang untuk membuat strategi, metode, model, atau media pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berbahasa siswa. Bertolak dari pemikiran itulah penulis kemudian mencari formula pembelajaran yang efektif dan solutif.

Penulis menggunakan strategi Si Koko, singkatan dari StrategI KOreksi dan KOmunikasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, strategi didefinisikan sebagai rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Sementara itu Roestiyah mendefinisikan strategi sebagai pola umum perbuatan guru-murid di dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar, yang salah satu komponennya ialah pengajar yang mendukung filosofi tentang pendidikan dan pengajaran, serta kompetensi dalam teknik penyajian, kebiasaan, dan lain-lain (Dra. Roestiyah N.K., 2008: vii).

Teknik penerapan Si Koko diawali dengan pemberian tugas kepada siswa untuk membuat naskah pidato. Kriteria penilaian meliputi 4 aspek, yaitu kemenarikan tema, kesesuaian tema dengan isi, pengembangan tema, dan kebahasaan.

Penulis mengoreksi hasil kerja siswa dengan memberi tanda pada kata atau kalimat yang salah, menulis komentar singkat, dan memberi nilai. Ternyata, dibandingkan dengan ketiga aspek lainnya, skor nilai untuk kebahasaan siswa sangat rendah.

Baca juga:   Tingkatkan Efektivitas Belajar Mencangkok melalui PJBL

Pada pertemuan selanjutnya lembar kerja tersebut dibagikan kembali kepada siswa. Lalu penulis mengomunikasikan kesalahan-kesalahan siswa melalui diskusi dan tanya jawab. Setelah itu mereka diminta menulis kembali teks pidatonya berdasarkan hasil pembahasan. Hasilnya, teks pidato kedua yang mereka tulis jauh lebih baik dari sebelumnya. Ternyata, strategi koreksi dan komunikasi (Si KoKo) mampu meningkatkan kemampuan menulis kalimat efektif para siswa, khususnya dalam menulis teks pidato.

Bagi guru bahasa Indonesia, mengoreksi tugas tertulis siswa memang bukan tugas yang ringan namun tetap harus dilakukan karena langkah tersebut merupakan salah satu upaya pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Luangkan waktu untuk mengoreksi kesalahan siswa dan komunikasikan kesalahan-kesalahan tersebut agar mereka paham dan tidak mengulang kesalahan serupa. Beri mereka kesempatan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuatnya karena dengan begitu mereka akan ingat betul kesalahan yang telah dilakukan. Jadi, guru jangan hanya sebatas memeriksa tugas dan memberi nilai, setelah itu selesai tanpa penjelasan. (pai1/lis)

Guru SMP Negeri 19 Depok

Author

Populer

Lainnya