Nilai Mutlak dapat Membentuk Siswa Menyelesaikan Masalah Hidup

spot_img

RADARSEMARANG.ID, MATEMATIKA kerap dipertanyakan kegunaannya di kehidupan sehari-hari maupun di dunia kerja. Padahal matematika sangat penting. Profesi sopir misalnya, membutuhkan perhitungan jarak, waktu dan kecepatan. Sedangkan pedagang yang tidak punya perhitungan yang matang, mengalami kerugian karena kurang memperhitungkan harga jual dan beli dengan biaya tenaga, angkutan perjalanan dan ongkos lain-lain.

Dalam operasi Aljabar, untuk menentukan penyelesaian suatu persamaan harus sesuai dengan persyaratan atau aturan yang telah disepakati. Misal tentukan nilai x yang memenuhi persamaan 2x–3=6, untuk x anggota bilangan bulat, siswa yang tidak disiplin memperhatikan persyaratan maka jawaban x=4,5 sudah dianggap benar. Padahal 4,5 adalah bilangan pecah yang tidak sesuai dengan persyaratan yang diharapkan. Untuk menentukan jawaban x=4,5 itu cara perhitungannya sangat benar akan tetapi kesepakatan awal tidak mensyaratkan x bilangan pecah maka soal itu tidak ada jawaban atau x=4,5 merupakan jawaban yang salah.

Misal lagi pada matematika dasar, operasi penjumlahan yang dikenalkan pada anak yang baru belajar matematika seringkali ada kesalahan konsep. Maka guru bisa memberikan gambar buah-buahan dan disuruh menghitung, “ini gambar apa“ Tanya guru, kemudian anak menjawab “salak“, kembali guru bertanya “berapa banyaknya“, “lima“ jawab sang anak. Guru kembali menunjukkan gambar buah yang lain, dengan memberi pertanyaan yang sama untuk tiga buah jambu, lalu siswa disuruh menjumlah banyaknya buah. Di sini sesungguhnya terjadi kesalahan konsep kalau tidak segera dibenarkan. Maka konsep itu akan tertanam di benak anak hingga mempengaruhi cara berpikir matematis anak menjadi tidak disiplin.

Baca juga:   Manfaatkan Barang Bekas untuk Pembelajaran Bangun Ruang Sisi Datar

Seharusnya buah salak dijumlahkan dengan kelompoknya buah salak dan buah jambu dengan kelompoknya buah jambu. Ketika anak belajar lebih lanjut untuk soal 3a+2b, maka anak akan perpikir jika soal itu tidak bisa dijumlahkan karena satuannya berbeda. Masih banyak contoh soal bahkan hampir setiap persoalan matematika selalu disertai syarat dan aturannya. Jika menyalahinya, maka akan mengalami kesalahan.

Kalau cara berpikir matematika yang penuh dengan kedisiplinan ini dibiasakan semenjak kecil, maka dalam kehidupan sehari-hari tidak ada orang melakukan kesalahan dengan penuh kesadaran. Di persimpangan jalan raya, jika lampu merah menyala, semua kendaraan harus berhenti, walaupun dengan mengurangi kecepatan atau mendorong kendaraannya penuh kehati-hatian, tetap tidak dibenarkan melewati jalan itu. Jika dilanggar, akan terkena sanksi atau bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini hanya dipatuhi oleh orang-orang yang selalu berpikir matematis yang penuh rasa disiplin. Contoh lain yang sederhana pada Matematika Umum SMA Negeri I Cepu Kabupaten Blora kelas X materi Nilai Mutlak, dalam latihan baris-berbaris ketika pimpinan barisan memberikan aba-aba berhenti, maka semua anggota barisan harus berhenti, maju satu langkah atau mundur satu langkah. Maka semua anggota harus mengikuti aba-aba tersebut. Jika ada anggota yang tidak disiplin, satu dua orang tetep berjalan, maka rusaklah barisan. Bagi orang dewasa yang mempunyai jabatan dan kekuasaan, tidak akan melakukan menyimpangan dari peraturan dan perundangan yang berlaku, tidak ada korupsi, kolosi dan nepotisme. Lagi-lagi hanya orang-orang yang mempunyai jiwa disiplin yang biasa melakukan itu. Untuk itu, pendidikan karakter sangat dibutuhkan dan ditanamkan sejak dini pada siswa. (fbs1/ida)

Baca juga:   Sarang Burung pada Pembelajaran Geometri Dimensi Tiga

Guru Matematika SMA Negeri 1 Cepu

Author

Populer

Lainnya