Belajar Persilangan Dihibrid dengan Baling-baling Genetika

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Berbicara tentang pewarisan sifat tentunya tidak bisa lepas dari jasa Gregor Johann Mendel seorang peneliti dan biarawan berkebangsaan Austria. Beliau melakukan penelitian persilangan pada tanaman kacang ercis (Pisum sativum) selama delapan tahun. Dari penelitiannya dihasilkan hukum Genetika yang dikenal dengan hukum Mendel I (hukum segregasi) dan hukum Mendel II (hukum asortasi).

Menurut Campbell, Reece, dan Mitchell (2002), informasi hereditas dikode dalam bahasa kimiawi DNA yang diproduksi di dalam semua sel tubuh. Urutan DNA inilah yang mengendalikan perkembangan sifat biokimia, anatomis, fisiologis, dan sebagian sifat perilaku mahkluk hidup. Jadi, DNA sangat berperan dalam pewarisan sifat dari orang tua kepada anaknya. DNA terdapat dalam gen. Gen terkandung dalam kromosom, yang terletak dalam inti sel.

Mempelajari hukum Mendel tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, dibutuhkan pendekatan-pendekatan yang dapat menunjukkan daya minat dan pemahaman siswa. Salah satu cara untuk mempermudah siswa dalam memahami konsep hukum Mendel yaitu dengan menggunakan metode baling-baling genetika.

Alat peraga baling-baling genetika sangat mudah dibuat dan dapat menggunakan barang-barang bekas. Adapun alat dan bahan yang diperlukan terdiri atas : kardus, 2 buah jarum pentul, 2 buah sedotan besar, gunting, lem, spidol besar.

Baca juga:   Tingkatkan Hasil Belajar Virus dengan PBL

Pembuatan baling-baling genetika yaitu : kardus dibuat menyerupai baling-baling berjumlah dua buah lalu masing-masing ditempelkan pada sedotan besar dengan jarum pentul. Sedotan pertama untuk gamet jantan, sedangkan sedotan kedua untuk gamet betina. Pada masing-masing baling-baling, keempat ujungnya ditulisi genotif gamet dari induk yang disilangkan misalnya untuk induk Bulat Kuning dengan genotif BbKk berarti genotif gamet adalah BK, Bk, bK, bk.

Selanjutnya siswa dalam kelompok masing-masing yang beranggotakan 4 orang melakukan percobaan menggunakan baling-baling genetika dengan urutan cara kerja sebagai berikut : Putar kedua baling-baling secara bersamaan. Memadukan antara baling-baling yang berdekatan pada saat berhenti yang menggambarkan genotif zigot hasil persilangan gamet jantan dan betina. Perhatikan, jika kedua lengan dari kedua baling-baling saling berhimpitan,maka putaran dianggap sempurna. Lakukan sebanyak 96-100 kali; Tuliskan dalam tabel hasil kombinasi simbol gen setiap putaran. Membuat perbandingan macam genotif dan fenotif yang dihasilkan dari percobaan. Membuat kesimpulan hasil percobaan.

Pada akhir percobaan persilangan dihibrida menggunakan baling-baling genetika tingkat keberhasilan ditentukan dari tabel pengamatan yaitu perbandingan fenotif F2 menunjukkan angka 9:3:3:1 sedangkan genotif F2 dengan perbandingan 1:2:1:2:4:2:1:2:1. Hal itu sesuai dengan hukum Mendel II karena jika dijumlahkan perbandingan genotif hasilnya sama dengan jumlah perbandingan secara teori yaitu 9:3:3:1.

Baca juga:   Mudah Pahami Materi Kondisi Alam Negara-Negara di Dunia dengan TTS

Alat peraga baling-baling genetika dapat mempermudah peserta didik dalam pemahaman persilangan dihibrida (persilangan dengan dua sifat beda). Secara kontekstual mereka bisa membuktikan sendiri hukum Mendel II tentang persilangan dihibrida melalui hasil pengamatannya. Guru berperan sebagai fasilitator, siswa aktif bekerja dalam kelompok kecil masing-masing dan suasana kelas lebih hidup namun terkendali. Guru bisa menilai tingkat pemahaman siswa tentang dihibrida ketika presentasi hasil kerja kelompok dalam diskusi kelas. (ips1/ton)

Guru Biologi SMA N 1 Pulokulon Kab.Grobogan

Author

Populer

Lainnya