Metode Puzzle Jigsaw Permudah Pahami Isi Teks Pidato

spot_img

RADARSEMARANG.ID, SALAH satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting peranannya dalam upaya melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya adalah keterampilan berbicara. Dengan menguasai keterampilan berbicara, peserta didik akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara cerdas sesuai konteks dan situasi pada saat dia sedang berbicara. Keterampilan berbicara juga akan mampu membentuk generasi masa depan yang kreatif sehingga mampu melahirkan tuturan atau ujaran yang komunikatif, jelas, runtut, dan mudah dipahami.

Selain itu, keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang kritis karena mereka memiliki kemampuan untuk mengekspresikan gagasan, pikiran, atau perasaan kepada orang lain secara runtut dan sistematis. Bahkan, keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang berbudaya karena sudah terbiasa dan terlatih untuk berkomunikasi dengan pihak lain sesuai dengan konteks dan situasi tutur pada saat dia sedang berbicara. Permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik SDN Semut Wonokerto kelas VI pada kompetensi dasar (KD) menggali isi teks pidato yang didengar dan dibaca dan hasil belajar di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Baca juga:   Tantangan dan Hikmah Pembelajaran Daring

Demi tercapainya tujuan pendidikan khususnya Indonesia, maka penulis menerapkan pendekatan model pembelajaran kooperatif yang menarik dan menyenangkan, yaitu metode Puzzle Jigsaw. Metode ini merupakan metode pembelajaran kolaborasi antara permainan puzzle dengan metode kooperatif model jigsaw.

Tarigan (1986:234) menyatakan bahwa pada umumnya para siswa menyukai permainan dan mereka dapat memahami dan melatih cara penggunaan kata-kata, puzzle, crossword puzzle, anagram dan plindro. Sedangkan Jigsaw adalah salah satu metode kooperatif yang lebih mengetengahkan kerja sama tim dalam memecahkan masalah.

Langkah-langkah penerapan metode Puzzle Jigsaw sebagai berikut, pertama, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok induk. Setiap anggota kelompok mendapat kartu warna. Kedua, siswa yang mendapat kartu yang berwarna sama bergabung menjadi kelompok baru yang disebut kelompok ahli. Ketiga, setiap kelompok ahli mendapat sebuah puzzle dan menyusunnya. Keempat, kelompok yang telah berhasil menyusun puzzle, berhak mengambil kartu soal dan menjawab pertanyaan yang ada pada kartu soal tersebut. Kelima, siswa kembali ke kelompok induk dan melaporkan apa yangtelah didapat dari kelompok ahli. Keenam, kelompok ahli bertugas menjawab pertanyaan yang dibagikan guru berdasarkan pengetahuan yang telah didapatdari kelompok ahli. Ketujuh, melaporkan hasil kerja kelompok induk di depan kelas. Kedelapan, guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan materi yang telah dipelajari.

Baca juga:   Serunya Menggali Isi Teks Pidato melalui Audio Visual

Setelah SDN Semut menerapkan model pembelajaran ini, semangat siswa dalam belajar meningkat. Model pembelajaran ini didesain untuk mendorong rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada kelompoknya. (fbs1/ida)

Guru kelas VI SDN Semut, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya