Proyek Batik Membuat Transformasi Geometri Lebih Hidup

spot_img

RADARSEMARANG.ID, BERDASARKAN hasil pengamatan dan pengalaman sehari-hari dalam pembelajaran Matematika di SMK Negeri 1 Tengaran pada materi transformasi geometri, kemampuan peserta didik dalam menguasai materi ini belum memuaskan. Bahkan berdasarkan observasi kegiatan belajar peserta didik, tes unjuk kerja dan hasil evaluasi yang diperoleh masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hal ini menunjukkan tingkat kemampuan peserta didik masih kurang. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan metode pembelajaran yang belum tepat. Salah satu hambatan dalam belajar adalah peserta didik kurang tertarik dikarenakan materi ini dianggap membosankan karena hanya memuat titik dan garis yang diputar-putar ataupun digeser, akhirnya motivasi peserta didik menjadi rendah.

Proyek Batik menjadi solusi dari permasalahan ini. Batik merupakan karya seni warisan budaya bangsa milik Indonesia. Karya seni batik tidak hanya didominasi dari budaya Jawa, karena daerah-daerah lain di Indonesia juga memiliki batiknya masing-masing seperti pada ornamen kain ulos, sasirangan, maupun dari batik Papua. Bila diamati secara seksama, dalam bentuk-bentuk batik sesungguhnya terdapat sifat-sifat keteraturan yang berirama atau berpola. Beberapa bentuk keteraturan batik adalah bentuk transformasi geometris. Bentuk geometri yang dapat dijumpai pada batik berupa titik, garis dan bidang datar. Bidang datar tersebut misalnya lingkaran, elips, segiempat dan sebagainya. Bentukan artistik pada batik dihasilkan melalui transformasi titik, garis atau bidang datar tersebut melalui translasi (pergeseran), rotasi (perputaran), refleksi (pencerminan) atau dilatasi (perkalian).

Baca juga:   Memanfaatkan Fitur Facebook untuk Pembelajaran Pemasaran Online

Pembelajaran proyek ini berawal ketika peserta didik ditunjukkan melalui slide power point yang berisi contoh-contoh motif batik yang memuat pergeseran, perputaran, pencerminan, dan dilatasi, serta proses pembuatan batik dengan teknik cap, tulis, ataupun print mereka sangat tertarik. Rasa ingin tahu membuat pembelajaran menjadi lebih hidup. Bahwa motif batik yang indah ternyata dapat dihasilkan dari sebuah materi yang mereka anggap membosankan. Kemudian peserta didik diberikan lembar kerja yang berisi potongan motif–motif batik, dianalisa, dari mana bentuk tersebut tercipta, apakah dengan pergeseran, perputaran, pencerminan, ataupun dilatasi.

Pada akhir pembelajaran, peserta didik diminta untuk membuat suatu motif batik utuh pada kertas berukuran A3 serta menuliskan langkah-langkah pembuatan motif tersebut dengan transformasi geometri kemudian diwarnai dan dibingkai. Peserta didik dapat mengambil kesimpulan, hal-hal sederhana pada transformasi geometri seperti pergeseran, pencerminan, perputaran, dan dilatasi dapat diterapkan untuk membuat batik. Penggunaan pergeseran memudahkan peserta didik dalam memperbanyak motif dengan berjejer, perputaran bisa membentuk pola secara berbalik, pencerminan bisa membentuk yang sama berdampingan, dan dilatasi dapat membentuk pola secara membesar maupun mengecil dengan hasil pola batik yang sama dengan bentuk yang berbeda.

Baca juga:   Pendekatan Frame Work Tpack dalam Pembelajaran Persamaan Linear Satu Variabel

Akhirnya proyek batik pada transformasi geometri dapat menjadi alternatif sumber belajar matematika bagi peserta didik. Selain mereka memperoleh pengetahuan terkait konsep geometri transformasi, mereka juga memahami aplikasi transformasi geometri yang dapat menghasilkan karya seni. Sejalan dengan ini, melalui penyelidikan pola bentuk motif batik, diharapkan peserta didik semakin mengapresiasi karya seni bangsanya sendiri sehingga menumbuhkan rasa cinta tanah air. (on2/ida)

Guru Matematika SMKN 1 Tengaran Kabupaten Semarang

Author

Populer

Lainnya