Belajar Bercerita dengan Pengalaman Sendiri

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pada masa era globalisasi ini karakter anak sudah mulai berubah, baik pola pikir maupun karakteristiknya. Karena semakin berkembanngnya teknologi dan semakin canggih alat yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari. Anak zaman dahulu pengantar tidurnya dengan cara ibu atau bapaknya mendongeng hingga anaknya tertidur pulas, tapi untuk anak sekarang mereka mau tidur kalau sambil bermain handphone (HP).

Anak jaman sekarang kalau disuruh bercerita kurang begitu senang karena mereka lebih suka melihat atau bermain HP. Padahal dengan bercerita akan mudah memasukkan nilai-nilai luhur pada diri anak, sehingga anak bisa mengingat dan mencerna cerita yang disampaikan pada orang tua mereka dan biasanya isi cerita itu akan teringat sampai usia mereka dewasa.

Dhieni (2008 : 63) menjelaskan, bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang secara lisan kepada orang lain dengan alat atau tanpa alat tentang apa yang harus disampaikan dalam bentuk pesan, informasi atau hanya sebuah dongeng yang untuk didengarkan dengan pesan menyenangkan. Oleh karena itu orang yang menyajikan cerita tersebut menyampaikannya dengan menarik.

Baca juga:   KOP TPS Menumbuhkembangkan Keterampilan Menulis Aksara Jawa

Dalam pelajaran Bahasa Indonesia Kompetensi Dasar bercerita anak-anak kurang begitu menguasai khususnya kelas VII di SMP Negeri 2 Tulis Kabupaten Batang. Karena biasanya anak bingung untuk mengawali ceritanya padahal mereka punya banyak cerita. Kendalanya anak biasanya kurang percaya diri sehingga kalau maju akan merasa takut salah.

Banyak sekali cerita-cerita yang dimiliki oleh siswa baik itu menyenangkan, menggembirakan, menakutkan atau menyedihkan. Keinginan untuk memulai menyampaikan cerita berdasarkan pengalaman sendiri dari peristiwa yang paling sederhana guru berusaha membangkitkan siswa dengan beberapa pancingan. Di antaranya, peristiwa-peristiwa apa yang dilakukan baru saja dengan teman-teman di sekolah. Siswa boleh bercerita dari bangun pagi, menuju sekolah sampai di sekolah. Setelah siswa bangkit untuk menceritakan kejadian yang baru saja terjadi kemudian anak untuk mulai menceritakan pengalaman sendiri dengan cerita yang lebih baik lagi dan menarik untuk didengar.

Untuk membangkitkan percaya diri pada anak dan tidak takut untuk bercerita maka pertama anak disuruh bercerita tentang pengalaman pribadi. Setelah anak mampu mengungkapkan pengalamanya dengan bentuk tulisan, kemudian anak baru disuruh membacakan hasilnya. Karena pengalamannya sendiri, maka anak akan cepat hafal dan menguasainya. Apabila anak maju merasa tidak ada kesalahan akan munculah rasa percaya diri yang tinggi dan anak pun ingin mengulangi lagi dan merasa senang.

Baca juga:   Meningkatkan Kemampuan Mendengarkan Bahasa Inggris Melalui Audio-Visual

Dengan demikian belajar bercerita dengan pengalaman sendiri akan lebih mudah dibandingkan bercerita melalui cerita-cerita yang sudah ada. Anak tidak merasa bosan bahkan merasa senang dan nyaman. Hasil nilai pembelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas VII akan meningkat. (ips2/ton)

Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 2 Tulis Kab. Batang

Author

Populer

Lainnya