Belajar Permainan Bola Kecil melalui Kasboi

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PERLU adanya perbaikan dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes). Terutama materi bola kecil di kelas V SD Negeri Margomulyo Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal. Hanya 8 siswa yang lulus atau 33,3 persen dan 16 siswa tidak lulus atau 66,7 persen. Sedangkan pada observasi kedua terjadi peningkatan tingkat keberhasilan siswa yaitu dari 24 siswa, sebanyak 11 siswa di antaranya lulus atau sudah mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) dengan persentase kelulusan 45,8 persen dan siswa yang belum mencapai KKM sebanyak 13 siswa atau 54,2 persen. Banyak siswa yang tidak memenuhi nilai KKM dikarenakan siswa terlalu pasif dan kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini dilihat dari banyaknya siswa yang mengobrol dengan temannya sendiri, bermain-main sendiri, bahkan banyak siswa yang tidak mengerti dan tidak merespon apa-apa pada saat guru memberikan pertanyaan yang berkaitannya dengan materi bola kecil.

Berdasarkan kondisi tersebut, dibutuhkan perbaikan dalam pelaksanaan pembelajaran Penjasorkes dengan materi bola kecil di kelas V SD Negeri Margomulyo. Penulis menerapkan permainan Kasboi, perpaduan dua permainan anak-anak tradisional yaitu antara permainan tradisional kasti dengan permainan tradisional boi-boian. Dalam permainan ini, antara permainan kasti dengan permainan boi-boian dimainkan langsung secara bersama dalam satu permainan yang disebut permainan kasboi.

Baca juga:   Membangun Sinergi Sekolah dan Orangtua di Masa Pandemi

Alur cara melakukan permainan kasboi, sebelumnya peserta didik dibagi menjadi 2 kelompok, dimana setiap kelompok beranggotakan 12 siswa. 1) Dalam permainan kasboi satu kelompok sebagai kelompok penjaga dan kelompok pemukul. 2) Setiap kelompok ada satu siswa bertindak sebagai kapten. 3) Setiap siswa secara bergantian bertindak sebagai pemukul apabila kelompok tersebut posisinya sebagai kelompok pemukul dan sebaliknya berjaga apabila posisinya bertindak sebagai kelompok penjaga. 4) Siswa pertama bertindak sebagai pemukul dan dibelakangnya sebagai pelempar begitu secara terus menerus dan bergantian. 5) Setelah melakukan pukulan siswa lari pada pos yang pertama atau apabila dimungkinkan menata pecahan genteng yang disediakan ditengah lapangan. 6) Pecahanan genteng di tengah lapangan bisa ditata apabila si pemukul saat mendapatkan giliran memukul bisa mengenakan bola. 7) Siswa yang saat mendapatkan giliran memukul tidak mengenakan bola tidak boleh menata pecahan genteng dan diperbolehkan langsung lari pada setiap pos. 8) Apabila si pemukul tidak mengenakan bola bisa langsung ke setiap pos dan bisa sampai ke tempat awal maka akan mendapatkan point 1. 9) dan bisa menata pecahan genteng dengan rapi dan bisa langsung balik ke tempat awal maka kelompok tersebut mendapat point 3, sedangkan si pemukul hanya bisa menata pecahan genteng dengan rapih dan tertata setelah itu kena oleh lawan maka kelompok tersebut mendapat point 2.

Baca juga:   Tumbuhkan Kreatifitas dan Aktifkan Siswa Belajar Matematika dengan Metode DL

Langkah–langkah agar proses belajar mengajar lebih efektif dan lebih memberikan hasil optimal bagi siswa, antara lain, guru hendaknya menggunakan pembelajaran modifikasi alat sesuai dengan pembelajaran Penjasorkes. Hal ini telah dibuktikan dengan meningkatkannya hasil belajar siswa. Guru lebih dapat mengondisikan suasana pembelajaran agar siswa lebih memperhatikan penjelasan yang diberikan. Guru harus mampu mengembangkan model pembelajaran yang lebih variatif, agar siswa lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran Penjasorkes. (dar2/ida)

Guru PJOK SDN Margomulyo Pegandon Kendal dan email chikojeriko50c@gmail.com

Author

Populer

Lainnya