Role Playing Permudah Pemahaman Penyampaian Isi Atur-atur

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Menurut Bau Sastra Jawa (2002:32) oleh Tim Penyusun Balai Bahasa Yogya, kata atur-atur berarti memberitahu suatu informasi dengan cara mengajak dengan hormat seseorang untuk datang pada salah satu acara tertentu. Kalimat yang digunakan dalam kegiatan penyampaian atur-atur biasanya berbentuk dialog atau pacelathon.
Dialog yang digunakan untuk penyampaian atur-atur harus sesuai unggah-ungguh bahasa Jawa yang baik dan benar, artinya kosakata yang digunakan dalam penyampaian atur-atur tersebut harus menggunakan bahasa yang baik yaitu sesuai dengan konteks atau situasi dan kondisi yang melatarbelakangi penyampaian atur-atur dan benar sesuai dengan kaidah tata bahasa Jawa.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kalimat yang digunakan untuk penyampaian atur-atur menggunakan unggah-ungguh bahasa krama alus sebagai wujud rasa hormat terhadap orang yang diajak bicara sebagai calon tamu undangan dalam suatu acara. Penggunakan kosakata krama alus dalam penyampaian atur-atur dapat melatih siswa untuk bertingkah laku maupun berkomunikasi dengan sopan sesuai dengan tata krama Jawa.

Dari pernyataan di atas, secara otomatis siswa dapat mengerti dan memahami maksud isi atur-atur yang disampaikaan kepada lawan bicaranya. Namun dalam kegiatan belajar mengajar bahasa Jawa materi menyampaikan pesan secara lisan atau atur-atur siswa-siswi kelas VIII semester I SMPN 17 Semarang sangat jauh dari yang diharapkan.

Kendala yang muncul berhubungan dengan kegiatan atur-atur antara lain keterbatasan pemahaman siswa dalam menguasai bahasa dan bersikap dengan baik sesuai unggah-ungguh bertamu.
Maka, guru sebagai motivator serta ujung tombak dalam kegiatan belajar mengajar harus bertanggung jawab dan mampu mencarikan solusi atas kendala tersebut. Adapun salah satu solusi yang tepat untuk mengatasi kendala tersebut adalah dengan menggunakan model pembelajaran role playing atau metode berbagi peran. Menurut Jill Hadfield dalam Santoso (2011), role playing atau bermain peran yaitu metode drama atau berbagi peran yang melibatkan siswa dalam berakting sebagai suatu karakter dalam suatu situasi tertentu dan menunjukkan respon yang seharusnya dilakukan. Metode role playing melatih interaksi dan mengekspresikan diri secara nyata sebagai contoh atas kejadian yang sebenarnya. Agar guru dapat menganalisis proses dan hasil pembelajaran dengan metode role playing ini dengan benar, maka guru harus memahami setiap langkah atau sintak dengan runtut. Pembelajaran dengan metode role playing ini memiliki 7 tahapan yang dapat diterapkan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Adapun ketujuh tahapan tersebut adalah pertama, guru berkoordinasi dengan para siswa untuk memandu pembentukan grup kegiatan belajar bermain peran yang temanya sudah ditentukan sebelumnya. Kedua, guru menjelaskan kompetensi yang harus diraih pada belajar bermain peran. Ketiga, guru menunjuk salah satu siswa dalam grup tersebut untuk memperagakan peran sesuai tema dan skenario yang sudah dibuat. Keempat, siswa lain yang ada di dalam grup belajar tersebut atau grup lainnya, diminta mengamati kinerja siswa yang sedang mempertunjukan peran. Kelima, grup belajar siswa yang sudah terbentuk diminta membuat dan mempresentasikan kesimpulan yang berdasarkan skenario yang sudah diperankan oleh grup belajar lain.

Baca juga:   Tertibkan Penilaian PJJ Materi Geguritan dengan Schoology

Keenam, pada tahap ini, guru akan membuat simpulan dari kegiatan pembelajaran yang sudah dilaksanakan grup-grup belajar siswa. Ketujuh, akhir kegiatan ini guru mengutarakan penjelasan simpulan mengenai rangkaian kegiatan pembelajaran yang sudah dilaksanakan oleh siswa dengan bahasa yang komunikatif yaitu mudah untuk dipahami oleh siswa. Dalam tahap ini guru dapat mengetahui dan menilai kemampuan siswa dalam memahami penyampaian pesan secara lisan (atur-atur).

Dengan penerapan model pembelajaran role playing dalam materi pembelajaran penyampaian pesan secara lisan atau atur-atur siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Semarang diharapkan dapat mempermudah dan meningkatkan pemahaman tentang isi maupun tata cara penyampaian pesan secara lisan atau atur-atur yang benar. Karena, karakter yang diperankan siswa dapat mempermudah dalam memahami setiap permasalahan yang ditemui setiap hari. Maka, secara tidak langsung siswa akan mulai memahami dan mengerti orang lain. Tertanam sikap toleransi dan mudah memahami sudut pandang orang lain yang dapat melatih kepekaan para siswa dalam berkomunikasi maupun bersosialisasi dalam masyarakat. (ips1/lis)

Baca juga:   Asyiknya Belajar Q.S. At-Tiin dengan Metode Snowball Throwing

Guru Bahasa Jawa SMPN 17 Semarang

Author

Populer

Lainnya