“Budikdamber” Media Belajar Ekosistem yang Menarik

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Keberhasilan suatu proses pembelajaran sangat ditentukan oleh guru, siswa dan lingkungan. Ketiga hal ini tidak bisa dipisahkan karena ketiganya saling terkait satu dengan yang lain. Walaupun guru sudah menerangkan secara panjang lebar mengenai suatu materi namun belum tentu semua siswa dapat menerima dengan baik. Oleh karena itu guru harus berinovasi untuk memberikan pembelajaran yang menyenangkan, tidak membosankan dan mudah diterima siswa.

Penggunaan media pembelajaran dapat membuat hal yang bersifat abstrak menjadi lebih konkrit dan membuat suasana belajar yang tidak menarik menjadi lebih menyenangkan. Wina Sanjaya (2018) menjelaskan bahwa media pembelajaran bukan hanya berupa alat atau bahan saja, akan tetapi hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengetahuan. Jadi dalam pengertian ini media bukan hanya alat perantara seperti televisi, radio, slide, atau bahan cetakan, tetapi kegiatan diskusi, seminar, karya wisata, simulasi, dan lain sebagainya.

Berdasarkan pengalaman penulis selama mengajar di SMP Negeri 21 Semarang, pembelajaran materi ekosistem menggunakan media dan sumber belajar yang ada di lingkungan taman atau kebun sekolah. Terkait dengan masa pandemi covid-19 yang mengharuskan siswa belajar di rumah, maka media “budikdamber” menjadi alternatif digunakan sebagai media untuk belajar materi ekosistem selain lingkungan di sekitar tempat tinggal siswa.

Baca juga:   Tingkatkan Prestasi Belajar Siswa dengan MGF

Teknik budidaya ikan dalam ember atau lebih dikenal dengan istilah “budikdamber” menurut Juli Nursandi (2018) merupakan sistem budidaya ikan yang dilakukan pada media yang kecil (dalam ember 60 liter). Teknik ini banyak dikembangkan di wilayah perkotaan karena tidak membutuhkan lahan yang luas bisa membudidayakan ikan dan sayuran sekaligus.

Pemanfaatan “budikdamber” sebagai media belajar ekosistem berkaitan dengan merancang skenario pembelajaran meliputi RPP, LK, rubrik penilaian dan menyiapkan materi ekosisttem dalam bentuk rangkuman atau Power Poin untuk dikirim/dibagikan pada siswa. Materi belajar tentang ekosistem diberikan sebagai bahan untuk melakukan belajar secara mandiri dan melakukan pengamatan di rumah masing-masing. Materi pertama yang dikerjakan siswa adalah menyelesaikan LK satuan-satuan dalam ekosistem dan menghitung kepadatan populasi mahluk hidup (ikan dan tanaman kangkung) dalam ekosistem “budikdamber”, setelah selesai melakukan pengamatan dan mengerjakan LK sesuai petunjuk, siswa mengirim laporan hasil pengamatan ke guru lewat e-mail atau Watshap untuk dievaluasi. LK yang kedua adalah komponen-komponen dalam ekosistem, interaksi yang terjadi antar komponen ekosistem “budikdamber”. Siswa diberi tugas untuk mengamati ekosistem “budikdamber”, membahas bagaimana hubungan antara sesama komponen biotik (hubungan antara ikan lele dan tanaman kangkung) dalam ekosistem tersebut, bagaimana hubungan saling letergantungan antara komponen biotik dan abiotik yang ada (hubungan antara air, cahaya matahari, nutrisi ikan, ikan lele dan tanaman kangkung). LK ketiga tentang keseimbangan ekosistem, faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan jumlah komponen biotik dan memahami pentingnya komposisi komponen biotik untuk keseimbangan ekosistem “budikdamber”. Semua LK diselesaikan dan dikirim ke guru IPA. Pada akhir penilaian, siswa menyelesaikan tes akhir tentang materi ekosistem melalui google form. (ips2/ton)

Baca juga:   Strategi Siapkan Mental Siswa dengan Belajar Calistung di Kelas Rendah

Guru IPA SMP Negeri 21 Semarang

Author

Populer

Lainnya