Menumbuhkan sikap Nasionalisme melalui Pendidikan Karakter

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PENDIDIKAN sebagai usaha sadar yang dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya di masa datang. Jadi, pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa tentu memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan rekayasa bangsa. Peserta didik merupakan aset terbesar dalam menentukan kemajuan bangsa di masa depan. Peserta didik yang akan memegang tanggung jawab menghidupi kemerdekaan yang telah dititipkan oleh leluhur kepada kita. Untuk itulah pendidikan harus membawa mereka kepada rasa cinta dan bangga kepada tanah air. Tetapi melihat kondisi mental peserta didik yang kian memburuk saat ini sangat diragukan bahwa mereka memiliki jiwa nasionalisme.
Jika ditinjau dari sudut pandang guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), pendidikan yang terlaksana sampai saat ini sangat memerhatikan pembentukan karakter peserta didik. Sejak periode jabatan Presiden Jokowi pun, pembentukan karakter menjadi salah satu fokus pembangunan sumber daya manusia yang disebut revolusi mental. Pendidikan tentu merupakan salah satu faktor terbesar yang menentukan keberhasilan pembangunan karakter anak. Tetapi siapa sangka, sekolah juga memberikan fakta mengejutkan mengenai kemerosotan karakter anak.

Baca juga:   Wujudkan Nasionalisme melalui Lagu-Lagu Nasional

Pendidikan karakter yang selama ini dikobar-kobarkan sepertinya tidak mengalami perkembangan dalam bidang implementasi dan tidak membawa perubahan yang signifikan. Pendidikan berbasis karakter seakan menjadi retorika belaka yang banyak dibicarakan namun minim tindakan. Seorang peserta didik harusnya memiliki kasih diantara sesama peserta didik dan kepada guru begitu juga sebaliknya. Dalam konteks pendidikan PPKn yang akan mengajarkan tentang relasi yang berlandaskan nilai-nilai nasionalisme, maka hal ini cukup kontekstual dalam pembentukan karakter peserta didik. Dalam hal ini peserta didik bukan hanya dilihat sebagai peserta didik tetapi sebagai agent of change. Agent of change bagi keluarganya, lingkungan sekitar, bahkan bangsa dan negaranya.

Guru bukan hanya sekadar profesi. Kita mengetahui metafora guru sebagai fasilitator, sebagai teknisi, pengrajin dan metafora lainnya. Guru harus mampu menjadi tauladan baik dihadapan peserta didik utamanya maupun dalam masyarakat umumnya. Artinya sebelum menuntut lebih pada murid, kita harus mulai dari diri sendiri dan menjadi teladan bagi mereka. Mereka membutuhkan seorang role model yang bisa mereka lihat sebagai bukti nyata bahwa itu benar-benar ada karena sebaik apapun kita megajar mereka, tanpa ada yang tepat, mereka akan menjadi pribadi yang skeptis bahkan apatis. Kita harus menjadi pribadi yang berintegritas yang mana kita melakukan kebenaran bahkan ketika tak dilihat siapapun. Teladan yang tepat dan benar mendorong murid untuk melakukan hal yang sama.

Baca juga:   Pemakzulan Kata dalam Ragam Tutur Bahasa Indonesia

Dalam mengajar, kita juga harus memberikan edukasi tentang karakter kepada mereka. Menjadi pribadi yang berkualitas dan bekarakter baik adalah bagian dari jiwa nasionalisme. Karena sebuah sikap toleransi, saling peduli, penuh solidaritas merupakan identitas dari bangsa Indonesia dan juga tercantum dalam Pancasila yang merupakan dasar negara. Kita harus memberikan mereka pengetahuan nasionalisme dari tatanan yang paling sederhana, memberi tahu mereka bahwa untuk mejadi bagian dari nasionalisme tidak harus menjadi seorang anggota politik, menjadi warga negara baik juga merupakan salah satu bagian dari pergerakan nasionalisme. Seperti yang diterapkan di SMPN 3 Kandangserang, Kabupaten Pekalongan. (ips2/zal)

Guru PKN SMPN 3 Kandangserang, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya