Tingkatkan Minat Baca Siswa melalui Kegiatan Literasi

spot_img

RADARSEMARANG.ID, MEMBIASAKAN anak membaca sejak dini sangat bermanfaat sekali. Dengan membiasakan membaca sejak dini, secara otomatis motivasi membaca akan tumbuh dari dalam dirinya. Hal ini sejalan dengan pendapat Montesorri dan Hainstock (Dhieni, 2008:5,4) bahwa pada usia 4-5 tahun anak sudah bisa diajarkan membaca dan menulis. Anak yang sudah memiliki kesiapan membaca sejak dini akan lebih percaya diri.

Pada kenyataannya kegiatan membaca atau minat membaca masyarakat di Indonesia khususnya bagi peserta didik masih membutuhkan pembinaan lebih. Selaras dengan pendapat Hadi (2003) yang menyatakan bahwa kegiatan membaca masyarakat Indonesia masih rendah dan belum dijadikan sebuah kebiasaan.

Peserta didik atau siswa saat ini terlihat lebih senang bermain gadget yang banyak aplikasi menyenangkan dibanding membaca buku. Sebetulnya dari gadget pun ada aplikasi literasi yang bisa dipilih dan dibaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Untuk menjadikan membaca sebuah kebiasaan dan menjadi budaya dapat dilakukan dengan kegiatan literasi di sekolah.

Gerakan literasi sekolah (GLS) adalah sebuah gerakan dalam upaya menumbuhkan budi pekerti siswa yang bertujuan agar siswa memiliki budaya membaca dan menulis sehingga tercipta pembelajaran sepanjang hayat. Kegiatan rutin ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca. Menurut Kemendikbud (2016), literasi adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan berbicara.

Baca juga:   Tingkatkan Kinerja Guru melalui Supervisi Edukatif Berkelanjutan

Kegiatan literasi yang dilakukan di sekolah dengan mewajibkan peserta didik untuk membaca buku non pelajaran satu minggu tiga kali sebelum jam pembelajaran dimulai. Dalam kegiatan ini, setiap siswa diberi buku atau report literasi untuk mencatat sampai dimana halaman yang sudah terbaca agar peserta didik mudah mengingat untuk membaca hari berikutnya. Report literasi juga digunakan untuk meringkas apa yang sudah dibaca peserta didik dengan bahasanya sendiri yang nantinya akan dinilai guru bahasa Indonesia. Sebagaimana pendapat Rahayu (2016), literasi adalah aktivitas membaca dan menulis yang terkait dengan pengetahuan membaca dan menulis juga terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya. Dengan adanya buku report literasi guru lebih mudah memantau peserta didik dalam kegiatan membaca.
Melalui kegiatan literasi peserta didik, ternyata ada perubahan. Bahkan, siswa anak yang semula malas membaca, sekarang banyak yang berkunjung ke perpustakaan untuk meminjam buku dan membaca buku di perpustakaan saat istirahat. Jadi melalui kegiatan literasi inilah minat baca siswa di sekolah mulai meningkat.

Baca juga:   Menumbuhkan Minat Baca Siswa melalui Perpustakaan

Pada dasarnya kebiasaan membaca bisa menggali bakat dan potensi bagi peserta didik, memacu peningkatan daya nalar, melatih konsentrasi, dan peningkatan prestasi sekolah, serta mengetahui segala jenis informasi yang berkembang di sekitarnya dan mengolahnya sebagai ilmu pengetahuan yang dapat diaplikasikannya dalam kehidupan.

Para cendekiawan bangsa juga terlahir dari lingkungan pendidik yang di dalamnya tidak terlepas dari baca membaca. Melalui penelitian dari beberapa pakar pendidikan mengatakan bahwa semakin tinggi literasi sebuah bangsa, semakin tinggi pula tingkat peradaban suatu bangsa. (on1/ida)

Guru Bahasa Indonesia SMPN 35 Semarang

Author

Populer

Lainnya