Konseling Jarak Jauh Efektif dengan Pendekatan Realita

spot_img

RADARSEMARANG.ID, SISTEM pembelajaran secara daring selama pandemi covid-19, muncul berbagai masalah yang dihadapi oleh siswa. Seperti kesulitan dalam belajar. Peralihan proses belajar dari tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh tidak mudah bagi sebagian siswa. Pembelajaran jarak jauh menuntut kecakapan belajar mandiri (self-regulated learning). Bagi siswa yang kebiasaan belajarnya masih bergantung pada orang lain, pembelajaran di rumah menjadi sangat menantang ditambah beban dari guru yang memberikan tugas sangat banyak. Peserta didik merasa tertekan dengan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Satu tugas belum selesai, sudah ada lagi tugas dari guru lain yang sama banyaknya. Masalah tersebut membuat kondisi fisik siswa mudah lelah. Hal itu akan memengaruhi daya konsentrasi anak.

Melihat masalah tersebut di atas, guru pembimbing atau konselor sekolah perlu tanggap serta selalu kreatif dalam melakukan inovasi-inovasi termasuk dalam pemanfaatan untuk pelayanan konseling agar lebih optimal, sehingga peserta didik dapat berkembang secara optimal dan mandiri. Menurut Prayitno dalam Wibowo (2014) bahwa visi profesi konseling yaitu terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam memberikan dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar individu dapat berkembang secara optimal dan mandiri.

Baca juga:   Dunia Pendidikan dan Koperasi, Sarana Keluar dari Jeratan Pinjol

Salah satu bentuk layanan jarak jauh yang dilakukan guru BK SMAN 2 Pemalang yaitu dengan menggunakan aplikasi whatsapp. Melaksanakan konseling melalui obrolan di aplikasi whatsapp bukanlah hal mudah jika belum terbiasa. Namun hal ini akan lebih mudah jika antara guru bimbingan konseling dan siswa sebelumnya sudah terbangun kepercayaan. Kepercayaan ini timbul dari proses layanan bimbingan dan konseling yang telah dilaksanakan selama pembelajaran di sekolah. Guru BK juga akan sangat diuntungkan jika telah mengenal dan mengetahui karakteristik siswanya. Sehingga, proses membangun kepercayaan dan pendekatan yang biasanya dilaksanakan di awal proses konseling tidak akan sulit dilakukan meskipun konseling dilaksanakan tanpa tatap muka.

Melalui obrolan di whatsapp, guru BK dapat menggunakan pendekatan realita. Untuk mempermudah bantuan kepada siswa, guru bimbingan konseling dapat menggunakan langkah WDEP, yakni Want, Do, Evaluation, dan Plan. Meskipun hanya melalui obrolan tertulis, guru BK tetap dapat menerapkan langkah-langkah WDEP. Langkah pertama, yang dilakukan guru BK adalah menggali permasalahan siswa. Guru BK membantu siswa mengidentifikasi apa yang dia inginkan (Want). Langkah kedua, apa yang sudah dilakukan (Do). Pada tahap ini guru BK membantu siswa mengidentifikasi apa yang dilakukan dalam mencapai tujuan yang diharapkan dan mengidentifikasi arah hidupnya. Langkah ketiga, mengevaluasi apa yang sudah dilakukan, apakah sudah sesuai dengan apa yang siswa inginkan (evaluation). Pada tahap ini guru BK membantu siswa melakukan penilaian diri untuk menentukan keefektifan apa yang dilakukan untuk mencapai kebutuhannya. Langkah keempat, planning (merencanakan). Pada tahap ini guru BK membantu siswa merencanaan perubahan tingkah laku yang dapat mendukung siswa untuk mencapai yang diinginkannya.

Baca juga:   Meningkatkan Resiliensi melalui Konseling Kelompok Rasional Emotif

Setelah siswa menyelesaikan keempat langkah tersebut, guru BK tetap memantau perkembangan siswa. Siswa berjanji melaporkan rencana dan keterlaksanaan rencana tersebut setiap hari. Setelah siswa mampu melaksanakannya secara mandiri, guru BK bisa mengecek secara berkala. (gm1/ida)

Guru SMAN 2 Pemalang Kabupaten Pemalang

Author

Populer

Lainnya