Jadikan Polisi sebagai Wahana Literasi yang Mengasyikkan

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Saat ini seluruh sekolah di Indonesia telah menyelenggarakan Kurikulum 2013 untuk semua kelas dengan segala perubahan yang diterapkan di dalamnya. Salah satunya dengan adanya GLS atau dikenal dengan Gerakan Literasi Sekolah.

Menurut Liliawati (Sandjaya, 2015), minat baca adalah suatu perhatian yang kuat dan mendalam disertai dengan perasaan senang terhadap kegiatan membaca sehingga dapat mengarahkan seseorang untuk membaca dengan kemauan sendiri.

Setiap sekolah harus mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah ini dalam penerapan pembelajaran di setiap harinya. Namun dalam pelaksanaannya kegiatan membaca belum mendapatkan perhatian yang mendalam, terutama di mata pelajaran nonbahasa. Hal ini dikarenakan, warga sekolah belum memiliki kesadaran dan wawasan kepustakawanan. Guru dan kepala sekolah masih mengandalkan peran seorang pustakawan untuk menggerakkan perpustakaan, sehingga kegiatan literasi pun menjadi terhambat. Padahal perpustakaan bukan hanya sebagai ruangan untuk menyimpan buku dan peralatan multi media, tetapi menjadi tempat yang menyenangkan dan relevan dengan kegiatan pembelajaran di dalam kelas.

Pengembangan GLS dapat dilakukan dengan menciptakan Polisi (Pojok Literasi) di setiap kelas. Polisi berupa perpustakaan mini di pojok ruangan setiap kelas dengan konsep bentuk yang berbeda-beda tergantung kreatifitas guru dan siswa. Pemilihan strategi Polisi dilakukan untuk memudahkan guru memantau kegiatan literasi di dalam kelas. Diharapkan dengan adanya perpustakaan mini yang cantik dan menarik di dalam kelas akan memotivasi siswa untuk membawa koleksi buku yang dimilikinya, bertukar cerita dengan temannya, memanfaatkan waktu luang di sela pembelajaran atau jam istirahat untuk membaca di pojok literasi setiap kelas.

Baca juga:   Menyulap Barang Bekas menjadi Barang Berkelas

Dalam kegiatan literasi ini,memberikan kewenangan kepada guru kelas untuk membuat program sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Salah satu cara yang telah dilakukan di SDN Tingkir Lor 02 yaitu dengan membuat pohon literasi. Setelah membaca buku, siswa menuliskan judul dan nama penulis buku dalam kertas berwarna berbentuk daun dan menempelkannya pada gambar pohon yang ada di dinding kelasnya. Sehingga gambar pohon ini akan banyak tempelan daun yang berisi judul buku yang telah dibaca siswa. Setidaknya manfaat yang utama adalah menambah kosakata, karena semakin banyak kosakata maka akan semakin lancar dalam berkomunikasi.

Polisi ini diprogramkan dalam kegiatan penumbuhan budaya membaca yang lebih terjangkau dari kelas siswa dan buku-buku yang diadakan adalah buku fiksi, motivasi serta nonmata pelajaran sebagai awal pembiasaan untuk pendekatan program literasi. Karena melalui Polisi maka tanpa diimbau siswa akan menuju rak buku, yang walaupun bisa saja hanya sebatas basa-basi ingin membaca judul buku namun tanpa disadari akan membuka lalu membaca lembar demi lembar dan pada akhirnya berkeinginan untuk melanjutkan bacaannya dan virus membaca mulai menginfeksi setiap waktu.

Baca juga:   Belajar Pengukuran Makin Asyik dengan Quizizz

Jika kegiatan dalam Polisi ini terus dilakukan secara berkelanjutan dan berkesinambungan, maka dapat dipastikan akan tumbuh rasa cinta terhadap buku dan kebiasaan yang menjadi budaya untuk dilakukan dimana saja, baik di sekolah ataupun di rumah. (gm2/ton)

Guru Kelas V SD Negeri Tingkir Lor 02 Kota Salatiga

Author

Populer

Lainnya