33 C
Semarang
Rabu, 12 Agustus 2020

Risma Andani

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel.

”Orang Padang ini susah. Tidak bisa pisah dengan masakan Padang,” katanya.

Saya pun ingat. Istri saya, tadi pagi, masak mirip masakan Padang. Mirip rendang. Bukan daging biasa, tapi bagian dalam pipi sapi.

Dokter Andani pun masuk mobil saya. Bersama Alghozi Ramadhan, si Melinial Nakal. Saya yang mengemudikan mobil. Mereka tidak tahu akan dibawa ke restoran mana.

Keduanya memang lagi di Surabaya. Mereka diajak Letjen Doni Monardo ke Surabaya. Ketua BNPB itu memang prihatin akan keadaan Surabaya. Yang lagi dinyatakan sebagai daerah merah-hitam.

Hari kedua, mestinya dr Andani ikut Letjen Doni ke Makassar. Tugasnya sudah selesai –mesti tidak tuntas. Andani sudah bertemu Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Memang ia juga ingin bertemu wali kota Surabaya. Tapi ia sudah sempat ”tidak ada harapan” untuk bisa bertemu Tri Rismaharini hari itu.

Malam itu di kantor Harian DI’s Way, Dokter Andani sudah pamit saya. Ia akan ikut ke Makassar keesokan harinya.

Tapi di halaman ia dicegat Wakil Ketua DPRD Surabaya, Reni Astuti. Yang dari PKS itu. Dia lagi berusaha mencari hubungan dengan sang wali kota.

DI’s Way, Aqua Dwipayana, dr Andani, dan Reni Astuti.

Dokter Andani tidak jadi ke Makassar. Siapa tahu masih bisa bertemu wali kota.

Harapan sering seperti doa. ”Besok jam 7 pagi saya diterima Bu Risma”, tulis Andani di WA-nya.

”Semoga berkah,” balas saya.

Dokter Andani harus tambah dua malam di Surabaya.

Alhamdulillah. Puji Tuhan. Amitohu. Rahayu.

Begitu selesai pertemuan dengan Bu Risma itulah ia merasa lapar. Langsung minta masakan Padang tadi.

Dokter Andani lega sekali. Ia memberi pujian yang tinggi pada Bu Risma. ”Beliau langsung setuju dan langsung action,” ujar Andani.

Langsung action-nya itu yang membedakan Bu Risma dengan banyak lainnya.

Pertemuan itu berlangsung di rumah dinas wali kota. Sampai lama sekali. Lebih dari dua jam. Bahkan, setelah pertemuan, Dokter Andani langsung diajak ke satu lokasi, agak di pinggir kota.

Itulah lokasi yang akan dijadikan laboratorium baru untuk Covid-19 Surabaya.

Yang mengantar ke lokasi itu adalah Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya sendiri, dr. Febria Rachmanita.

Di Surabaya Febria memang dikenal sangat dekat dengan Bu Risma. Dialah yang pagi itu menemani Bu Risma dalam pertemuan dengan Andani.

Pagi itu juga, banyak sekali yang langsung dilakukan Febria. Dia sama cekatannyi dengan Bu Risma. Dia pimpin sendiri percepatan penyelesaian laboratorium “baru” itu. Yang manajemennya akan didukung penuh Andani dan BNPB.

Dokter Andani menilai bangunan untuk lab itu sudah cukup bagus. BNPB, katanya, pasti siap membantu alat apa saja. Termasuk mesin PCR. Pun akan membantu pengadaan reagan yang kini harganya kian mahal.

Selesai pertemuan dengan Bu Risma itu, Andini juga langsung berkomunikasi dengan Letjen Doni Monardo. Dari hasil komunikasi itulah ia bisa menjamin: bantuan peralatan dari pusat itu akan segera tiba di lab milik kota Surabaya.

Saya ikut terharu ketika dokter Andani menceritakan perasaan Bu Risma. ”Beliau itu ibaratnya ingin sekali mengatasi Covid-19 di Surabaya. Surabaya itu punya segala-galanya. Tapi tidak punya laboratorium yang memadai,” ujar Andani.

Yang membuat Andani juga lega adalah ini: adanya kesepahaman bahwa angka positif nanti akan naik drastis. Dan itu tidak apa-apa. Tidak akan merasa malu. ”Sikap seperti ini penting sekali untuk mengatasi penularan Covid-19,” ujar Andani.

Maka Bu Risma pun membuat putusan cepat. Agar sebanyak mungkin tes PCR dilakukan di Surabaya. Bisa dimulai seminggu lagi. Kapasitas lab akan dinaikkan drastis secara bertahap. ”Akhirnya akan bisa mencapai 4.000 – 5.000,” sehari.

Maka jangan kaget kalau angka-angka baru penderita Covid-19 akan melonjak di Surabaya. Tapi itulah kenyataan yang riil. Yang tidak perlu disembunyi-sembunyikan.

Dengan memperbanyak tes seperti itu –meski pun pahit– rantai penularan bisa diputus.

Ketika angka positif di Surabaya nanti melonjak, daerah lain jangan sampai mencemooh dulu. Bisa jadi daerah lain itu lebih parah –hanya saja masih tersembunyi.

Memang memperbanyak pemeriksaan itu tidak bisa jalan sendiri. Harus diikuti dengan sistem monitoring yang ketat. Monitoring secara manual tidak mungkin lagi.

Itulah sebabnya saya juga salut bahwa Alghozi, si Melinial Nakal itu, masih bertahan di Surabaya. Siapa tahu ia juga akan dibutuhkan.

Kombinasi perbanyak tes dan teknologi monitoring adalah pedang dua mata yang paling ditakuti Covid-19. Tapi banyak di antara kita sendiri ternyata masih takut menggunakannya.

加油 Surabaya! (*)

Berita sebelumyaMeninggal Olahraga
Berita berikutnyaMenanti Sinovac

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Outdoor Learning Tingkatkan Menulis Tembang Macapat

RADARSEMARANG.COM - Kreatifitas dan inovasi pembelajaran dari guru saat ini sangat dibutuhkan bagi siswa. Bukan merupakan sarat mutlak bahwa pembelajaran harus berlangsung di dalam...

Disabotase PJII Lapor Polisi

SEMARANG – Merasa disabotase, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Jawa Tengah bersama Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) melaporkan aksi perusakan puluhan kabel fiber...

Nasabah Diimbau Ganti Password

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jawa Tengah mengimbau kepada masyarakat untuk waspada dengan adanya pencurian data nasabah perbankan, dari kartu kredit maupun...

Terpikat Musik Keroncong

KERONCONG kerap dianggap musik yang yang kuno atau musiknya orang tua. Tapi, rupanya tidak bagi Nur Asriyani. Gadis yang akrab disapa Inung ini justru...

OPD Diminta Beli Produk Dekranasda

RADARSEMARANG.COM, BATANG – Sebagai bentuk dukungan kepada usaha kecil menengah (UKM) yang tergabung di Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupatan Batang, pemerintah setempat mengharapkan...

Foto dan Konpers Palsu Megawati soal Kasus E – KTP

JawaPos.com - Beberapa hari terakhir, pihak yang terkesan berseberangan dengan pemerintahan saat ini menyebar hoax cukup menggelikan. Yakni terkait Megawati Soekarnoputri yang menggelar konferensi pers (konpers)...