33 C
Semarang
Rabu, 12 Agustus 2020

Arang Galang

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Inilah jalan berliku itu. Tapi yang penting hasilnya: anak muda ini berhasil menjadi pengusaha. Bahkan jadi eksporter. Memang masih sangat kecil. Tapi arah bisnisnya sudah benar. Ia sudah teruji. Dalam hal memberikan komitmen.

Sejak lulus D3 Politeknik Institut Teknologi 10 November (ITS), Galang Romadhon Diyah Wahyudi tidak mau jadi pegawai negeri. Ia coba segala macam bisnis. Mulai jualan empon-empon sampai bikin pagar besi. Semua gagal.

Sebagai milenial ia tahu Alibaba. Ia cari peluang dari website milik Jack Ma itu. Ia ingin mendapat kontak bisnis di luar negri. Ia ingin jadi eksporter. Tapi semua kontak bisnis di Alibaba dikunci. Email dan nomor telepon mereka disamarkan. Ia baru bisa mendapatkan nomor kontak itu kalau jadi member Alibaba. Artinya: harus membayar Rp 27 juta/tahun.

Ia belum punya uang.

Galang pun hanya bisa mencatat nama-nama pengusaha luar negeri di marketplace Alibaba itu. Hanya nama. Ia ingin mencari jalan memutar untuk bisa sampai ke nama itu. Ia jelajah semua aplikasi. Akhirnya ketemu satu nama: Mohamad Kasim Alkanatra. Identitas lengkap nama itu ia temukan di aplikasi LinkedIn.

Galang mencoba WA ke nomor ponsel Kasim. Enam jam kemudian WA-nya dijawab. Kasim memerlukan arang.

“Apakah Anda bisa memasok?” tanya Kasim.

“Bisa,” jawab Galang.

Kasim pun bertanya berapa harganya. Cocok. Bagaimana cara pembayarannya. Cocok. Galang minta uang muka 40 persen. Kasim hanya mau 20 persen. Akhirnya bertemu di angka 30 persen. Galang pun diminta mengirim rekening bank. Beres. Gampang.

Ups… Tidak mudah. Kasim tidak mau mengirim uang muka ke rekening pribadi seperti itu. Kasim minta yang rekening perusahaan. Rupanya Kasim khawatir terjadi penipuan. Galang belum punya nomor rekening perusahaan. Ia memang punya perusahaan tapi sangat kecil. Kali ini mau tidak mau perusahaan kecil itu harus punya rekening bank. Galang pun membuka rekening di Bank Muamalat.

Uang muka 30 persen pun dikirim. Seminggu kemudian baru bisa dicairkan.

Kini Galang harus mencari arang. Tidak banyak. Hanya 2 kontainer 40 feet. Ia buka-buka internet. Ketemulah produsen arang di Jombang. Ia datangi orang itu. Terjadilah transaksi.

Uang muka dari Kasim ia serahkan semua ke produsen arang itu. Masih ditambah seluruh uang tabungannya. Ludes.

Ketika tiba waktunya, arang yang dijanjikan tidak datang. Ketika ditanya, yang datang adalah alasan. Ditanya lagi alasan lagi. Alasan itu sampai mencapai seribu. Ketika Galang sedikit mengancam, si pemasok balik mengancam. Lebih galak. Setiap ditingkatkan ancaman itu galaknya juga naik.

Galang gagal mendapat kepercayaan dari luar negeri. Justru karena ia terlalu percaya pada orang lain.  Galang tidak bisa lagi mencari pemasok lain. Ia sudah tidak punya uang. Rumahnya pun nunut di mertua-indah.

Ia infokan persoalan itu ke Kuwait. Galang mulai dicurigai –tidak beda dengan kasus penipuan sebelumnya. Apalagi janjinya untuk mencari pengganti tidak kunjung dapat.

Enam bulan kemudian Galang punya firasat buruk. Kasim pasti akan mengadu ke kedutaan Indonesia di Kuwait.

Pagi itu Galang mencari nomor kontak kedutaan kita di Kuwait. Ia berhasil menghubungi atase perdagangan di sana: ibu Haimah Mukaromah. Galang menceritakan kegagalannya memenuhi janji dengan Kasim.

Benar saja, siangnya Kasim menghubungi kedutaan. Bu Haimah sudah tahu. Bu Haiman ikut meyakinkan Kasim bahwa Galang bukan penipu. Tapi sampai tiga bulan kemudian Galang belum bisa dapat arang yang dijanjikan. Kasim sudah tidak percaya. Galang akan diadukan ke polisi. Kasim menyewa pengacara di Jakarta.

Ketika dihubungi pengacara itu Galang menjelaskan sekali lagi persoalannya. Tapi pengacara tetap pengacara. Galang akan ditangkap.

“Saya jangan ditangkap. Saya akan menyerahkan diri sendiri ke Polda Jatim,” ujar Galang kepada pengacara itu –seperti yang diucapkan lagi untuk pembaca DI’s Way.

Setelah bertemu Galang, sang pengacara meyakinkan Kasim bahwa Galang bukan orang jahat. Galang pun diberi waktu lagi untuk memenuhi komitmennya.

Ketika untuk pertama pengacara itu akan ke Surabaya Galang pamit pada sang istri: hanya akan pulang seminggu sekali. Ia pamit mencari kerja di Surabaya. Ia tidak ingin istrinya tahu kalau akan ditangkap.

Galang nunut tidur di rumah temannya di Surabaya. Saat berangkat dari rumah seolah lagi mau bekerja. Pengacara itu ia temui di Surabaya. Ia tidak ingin didatangi di rumahnya di Balong Bendo, antara Krian dan Mojokerto.

Jalan pun harus ada ujung.

Dewa-penyelamat Galang datang tiba-tiba. Saat itu browsing di internet. Ia ingin cari peluang apa saja. Ia menemukan orang yang lagi mencari bengkel. Yang bisa membuat ujung skru.

“Saya bisa mengerjakannya,” balas Galang.

Tentu Galang bisa mengerjakannya. Sebagai lulusan D3 ITS ia punya alat perbengkelan seadanya. Ia ambil pekerjaan itu. Yang tidak ia duga adalah: pemesan skru itu ternyata lagi punya persoalan: dapat pesanan arang dari luar negeri. Pemesan arang itu membatalkan transaksi. Padahal ia sudah telanjur memproduksi arang. Sudah 3 kontainer. Di rumahnya di Kediri.

Galang mengecek spesifikasi arang itu. Grade tengah-tengah. Cocok dengan permintaan Kasim. Pemilik arang pun setuju dibayar tiga bulan. Daripada tidak laku-laku. Berangkatlah ekspor perdana arang dari eksporter baru: Galang Romadhon.

Setelah itu, Kasim memesan dua kontainer lagi. Lalu dua kontainer ketiga. Galang hampir saja bisa bernafas. Datanglah Covid-19. Ekspor keempatnya tertunda lagi. “Semoga akhir Juli ini sudah bisa ekspor yang keempat,” katanya.

Atau sekaligus dengan yang kelima. “Ada juga permintaan dari Qatar. Saya janjian dikirim akhir Juli juga,” tambahnya. Galang pun terus ingat masa sulitnya. “Saya tidak pernah lari. Saya juga tidak pernah tidak membalas telepon atau WA Mr. Kasim,” kata Galang. “Sekarang beliau adalah pembeli utama dan langganan terpercaya kami,” katanya. “Padahal kami belum pernah temu muka.”

Sang istri baru tahu belakangan kalau ada drama di balik upaya suaminya mencari rezeki. Sang istri, yang memberinya anak dua orang, jualan di online. Apa saja. Galang ternyata harus melewati jalan berliku untuk bisa jadi pengusaha.

Hampir semua pengusaha mengawali hidup mereka dari jatuh bangun. Ada yang setelah jauh bangun lagi. Ada juga yang setelah jatuh terus menikmati kejatuhannya. (Dahlan Iskan)

Berita sebelumyaHainan Baru
Berita berikutnyaMeninggal Olahraga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Buku Ultah yang Jadi Bisnis Zaki

Oleh: Dahlan Iskan Seorang santri berkata pada saya. Dengan penuh sopannya. Dengan suara yang lirih: minta nasehat. Tentang apa yang harus ia lakukan. Setelah tamat...

Pencuri Cabai Babak Belur Dihajar Warga

MUNGKID—Nekat mencuri cabai yang diletakkan di mobil pikap, Irfan Muhammad, 26, dihajar massa hingga bonyok. Peristiwa itu terjadi di Pasar Pandansari Muntilan. Informasi yang...

Hadapi UNBK Perbanyak Simulasi

SEMARANG - Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) atau Computer Based Test (CBT), tahun ini akan dilaksanakan pada April mendatang. Data Kemdikbud pada Januari 2017 di...

Petaka Tebing Sekangon

PURWOREJO—Tebing setinggi 7 meter di Dusun Sekangon RT 04/02, Desa Sokoagung, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Rabu (29/11) dini hari, ambrol dan menimpa rumah warga....

Hindari Pembagian Zakat Secara Langsung 

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Pembagian zakat diharapkan tidak dibagikan secara masal dalam satu tempat. Hal itu dikatakan oleh Bupati Semarang Mundjirin ditemui usai membuka acara...

Tiga Pembuat Petasan Resmi Jadi Tersangka

DEMAK- Tiga pembuat petasan rumahan dari Desa Bungo, Kecamatan Wedung akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah Siti, 35; Sholehah, 48, dan Sriyati, 48. Ketiganya...