33 C
Semarang
Rabu, 12 Agustus 2020

Bank Pusing

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Banyak orang ngiler melihat sukses besar Bank Central Asia (BCA). Tapi orang yang ngiler itu hanya melihat kebesaran BCA saat ini. Umumnya orang tidak melihat pengorbanan masa-masa awal dari pemiliknya. Terutama dan setidaknya di 12 tahun pertama masa pertumbuhan BCA.

Selama 12 tahun itu –mungkin lebih lama dari itu– pemiliknya tidak pernah menikmati hasil usaha BCA. Begitulah keterangan ”orang dalam” BCA kepada saya. Lebih dari 25 tahun yang lalu. Yang masih saya ingat sampai sekarang. Itulah nasihat beliau kepada saya, kalau ingin punya perusahaan yang kokoh.

Siapa pun sebaiknya juga mengingat prinsip yang dipegang pemilik awal BCA itu. Setiap kali perusahaan laba, selalu saja labanya itu dipakai untuk memperkuat perusahaan. Tidak ada yang dinikmati pemiliknya.

Tidak ayal kalau perusahaan seperti BCA menjadi sangat kokoh. Prinsip seperti itu pula yang kemudian saya pegang. Jangan buru-buru menikmati hasil usaha perusahaan. Teruslah berkorban dan berkorban. Sampai perusahaan sangat kokoh.

Bahwa setelah kokoh saya harus meninggalkannya –karena sakit, karena ke PLN, karena ke BUMN, dan karena yang lain lagi– setidaknya sudah membuat sejarah. Toh pemilik lama BCA –keluarga Liem Sioe Liong– akhirnya juga meninggalkan bank yang dibangun dengan penuh pengorbanan itu.

Banyak yang menilai beruntunglah yang mengambil alih BCA. Grup Djarum Kudus itu.

Langkah mengambil alih BCA itu dinilai langkah yang brillian. Sangat tepat. Sangat menguntungkan. Sangat enak.

Benarkah demikian?

Itu juga hanya penilaian dari luar. Saya juga pernah berbincang dengan ”orang dalam” dari pemilik baru BCA. Ada nada menyalahkan diri sendiri –setelah sekian tahun memilikinya.

Sehebat-hebat langkah membeli BCA ternyata kalah hebat dengan yang membeli Astra International.

BCA dan Astra sama-sama harus dilepas oleh pemiliknya. Di waktu yang hampir bersamaan.

Liem Sieo Liong, konglomerat No. 1 Indonesia saat itu, harus melepas BCA. William Soerjadjaya, konglomerat terbesar No. 2 Indonesia saat itu, harus melepas Astra.

Dua-duanya terkait dengan krisis moneter 1998. Harga jual BCA dan Astra ketika itu kurang lebih sama.

Sekarang ini, keduanya masih sama-sama hebat. “Tapi dengan uang yang sama, hasilnya ternyata lebih baik kalau membeli Astra,” ujar orang dalam itu. “Lihat sendiri perbedaan hasilnya sekarang. Lihat market capitalization-nya. Begitu jauh,” katanya 8 tahun lalu.

Itu menandakan bahwa masih ada bisnis yang lebih hebat dari bank. Belum lagi soal aturan. Yang di perbankan jauh lebih rumit daripada di perusahaan umum seperti Astra.  “Punya bank itu pusing. Pusingnya abadi,” ujar seorang teman yang memiliki bank.

Tidak ada peraturan yang lebih rumit daripada peraturan untuk menjadi pemilik bank.

Pusing itu pula yang kini dirasakan oleh 7 pemilik bank bermasalah. Yang kini lagi diawasi ketat oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Ups… Bukan tujuh pemilik. Tapi tiga pemilik: Bank Mayapada, Bank Bukopin, dan Bank Yudha Bhakti. Yang empat pemilik bank lainnya mungkin tidak pusing: Bank BTN, Bank Banten, Bank Papua, dan Bank Muamalat.

Bank BTN milik negara. Bank Banten dan Bank Papua milik provinsi Banten dan provinsi Papua. Sedang Bank Muamalat terlalu banyak pemiliknya, yang umumnya tidak tinggal di Indonesia.

Tapi orang seperti Datok Tahir (pemilik Bank Mayapada) dan Aksa Mahmud (pemilik Bank Bukopin) pusingnya pasti bukan main. Keduanya pasti mati-matian berupaya mempertahankan kepemilikan mereka. Tapi akhirnya toh harus lepas juga.

Bukopin hampir pasti jatuh ke tangan Korea Selatan. Itu sekaligus mencerminkan berakhirnya perjuangan gerakan koperasi di Indonesia ke tangan kapitalis.

Koperasi akhirnya toh harus kalah melawan bisnis yang diatur secara kapitalis. Adakah pejuang koperasi yang masih pusing?

Itu juga mirip dengan perjuangan umat Islam di bank syariah. Yang disimbolkan dengan kalahnya bank syariah yang bernama Bank Muamalat. Ada yang masih pusing?

Bank Mayapada hampir pasti jatuh ke Cathay Financial, Taiwan. Ini juga melambangkan kapitalis besar akhirnya juga kalah dengan kapitalis yang lebih besar.

Praktis kini tinggal dua bank nasional kelas menengah yang masih bisa bertahan dari asing: Bank Mega dan Bank Artha Graha.

Saya sering berbincang dengan Chairul Tanjung, pemilik Bank Mega. Saya juga sering berbincang dengan Tomy Winata, pemilik Bank Artha Graha.

Chairul dan Tomy adalah benteng terakhir nasionalisme kita di dunia perbankan. Saya tahu jiwa nasionalistis dua orang itu.

Saya bangga dengan keduanya. Di bidang ini. (Dahlan Iskan)

Berita sebelumyaMenang 100
Berita berikutnyaHainan Baru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Siapkan Lahan Rest Area di Pantai Celong

RADARSEMARANG.COM, BATANG – Setelah rencana penambahan lokasi rest area disetujui oleh Presiden Joko Widodo, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang dengan sigap langsung menyiapkan lahan untuk...

Wali Kota Ikut Bersihkan Enceng Gondok

RADARSEMARANG.COM, PEKALONGAN – Salah satu penyebab banjir di wilayah Kota Pekalongan adalah banyaknya tumpukan enceng gondok di Sungai Bremi. Guna mengurangi dampak banjir tersebut,...

PKPI Tak Lolos Verifikasi

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jateng telah melakukan verifikasi faktual parpol calon peserta Pemilu 2019. Dari 12 parpol yang diverifikasi, hanya Partai...

Kades Simbangdesa : SDM Rendah Menjadi Lalai

RADARSEMARANG.COM, BATANG – Setelah dilaporkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Batang dugaan korupsi, Kepala Desa Simbangdesa, Eko Surya, beralasan bahwa faktor Sumber Daya Manusia...

Kampung Perempuan di Ngawi Ternyata Cuma Mitos Dunia Maya

JawaPos.com - Jika anda berselancar di dunia maya, mencari perkampungan yang hanya berisi perempuan muncullah nama "Kampung Wadon". Dalam bahasa Jawa, wadon adalah perempuan. Sekumpulan...

Presiden Jokowi Akan Hadiri Maulid Nabi

PEKALONGAN-Presiden Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan akan menghadiri, puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang digelar Kanzus Salawat Pekalongan, Minggu siang (8/1) mendatang. Disamping itu,...