Tumbuhnya Karakter Entrepreneur Bagi Peserta Didik di Era Pandemi

spot_img

RADARSEMARANG.ID, ENTREPRENEUR merupakan istilah yang sudah popular di era sekarang ini. Tidak sedikit orang yang tahu secara benar siapakah yang cocok disebut sebagai entrepreneur. Masyarakat cenderung beranggapan bahwa semua pengusaha yang mempunyai bisnis baik dalam skala besar ataupun kecil, maka orang tersebut dikatakan sebagai entrepreneur. Apakah pendapatan ini benar? Untuk menjawab pertanyaan di atas, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa arti pengusaha dan arti entrepreneur. Banyak ahli yang telah memberikan pendapat tentang pengertian ini.

Dengan demikian siapakah sebenarnya pengusaha itu? Dwi Larso, Ph.D, seorang pengajar di School of Business Management, Institut Teknologi Bandung mengatakan bahwa seorang pengusaha adalah orang yang mempunyai bisnis baik pada skala besar maupun skala kecil. Kemudian siapakah yang dapat menjadi entrepreneur? Menurut Thomas W. Zimmerer (1996), entrepreneur adalah penerapan kreativitas dan keinovasian untuk memecahkan permasalahan dan upaya memanfaatkan peluang-peluang yang dihadapi orang setiap hari untuk memperbaiki kehidupan.

Dari beberapa pengertian tersebut, jelas bahwa tidak semua pengusaha dapat dikatakan sebagai seorang entrepreneur meskipun orang tersebut mempunyai sebuah usaha atau bisnis. Karena tidak semua pengusaha mampu mempunyai karakter seperti yang diharapkan dalam jiwa entrepreneur. Akan tetapi seorang entrepreneur pasti mempunyai jiwa untuk menjadi pengusaha. Karena karakter-karakter positif seorang entrepreneur akan memberikan peluang untuk menciptakan seseorang menjadi pengusaha yang baik. Seperti halnya karakter percaya diri, orientasi hasil, berani mengambil risiko, mempunyai jiwa kepemimpinan, orisinil, kejujuran, pantang menyerah, mempunyai kreativitas yang tinggi, mandiri, optimis, disiplin, mengendalikan emosi/sabar/professional, realistis, pandai mencari peluang, pengabdian atau dedikasi dan tidak melupakan Tuhan. Karakter-karakter positif inilah yang perlu ditumbuhkan dalam jiwa peserta didik. Sehingga sudah menjadi kewajiban bagi seorang pendidik untuk menggali dan mengenali, serta menumbuhkan karakter positif yang dimiliki peserta didik tersebut.

Baca juga:   IPS, Cara Mengenal dan Memahami Peserta Didik

Dengan diberlakukannya Kurikulum 2013, pendidikan entrepreneurship telah masuk di dalam kurikulum SMA. Hal ini menunjukkan bahwa ada satu langkah yang lebih baik dari pendidikan di Indonesia. Meskipun pendidikan entrepreneurship baru diberikan setelah mereka duduk dibangku SMA. Dan sebagai mata pelajaran baru, masih banyak kendala yang harus dihadapi baik oleh guru maupun peserta didik. Berbeda dengan SMK yang telah mengenal pendidikan entrepreneurship sejak lama. Sehingga secara kurikulum, SDM, maupun sarana dan prasarana lebih mumpuni. Namun demikian bukan berarti SMA tidak bisa membentuk calon-calon entrepreneur sejati. Inilah yang menjadi tantangan dan terus diupayakan baik oleh pemerintah, dinas pendidikan, lembaga sekolah, maupun personal yang ada dalam lembaga sekolah, yaitu guru, peserta didik, dan masyarakat. Agar di masa yang akan datang output pendidikan di Indonesia dapat dengan nyata melahirkan wirausaha-wirausaha handal demi kemajuan bangsa dan dapat berkiprah di kancah internasional.

Kemudian, bagaimana dengan karakter entrepreneur generasi muda atau peserta didik di saat sekarang ini. Dimana situasi perekonomian negara bahkan dunia sedang kacau balau karena pandemi Covid-19. Apakah mereka harus ikut terpuruk? Sebagai generasi muda yang tanggap akan akan teknologi tidak seharusnya ikut terjebak dalam ketidakpastian keadaan saat ini. Mereka bisa lebih cerdas membaca peluang usaha yang ada dengan menggunakan kemampuan IT yang dimiliki. Tidak ada salahnya jika dimulai dari bidang usaha dalam skala kecil. Terlebih lagi peserta didik saat ini mempunyai waktu yang cukup untuk berkarya karena adanya kebijakan belajar dari rumah dan stay at home.

Baca juga:   Asyiknya Belajar Gradien dengan Geogebra Classroom

Untuk mewujudkan pendidikan entrepreneuship bagi peserta didik SMAN 1 Pabelan, Kabupaten Semarang di era pendemi saat ini, harus ada dukungan dan motivasi dari para pendidik. Khususnya dalam hal pembelajaran keterampilan fisikal (hardskills), keterampilan mental (softskills), pembelajaran berbasis kompetensi, dan pembelajaran yang mampu memberdayakan peserta didik selama hidupnya. Dengan adanya keteladanan dan kemauan dari semua pihak maka pembelajaran entrepreneuship tidak akan sulit untuk diwujudkan khususnya pada saat era new normal saat ini. (ips1/zal)

Guru SMAN 1 Pabelan, Kabupaten Semarang

Author

Populer

Lainnya